RSS Feed     Twitter     Facebook

Manajemen hati

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...
   View : 584 views    Font size:
Manajemen hati

Perilaku seseorang sangat dipengaruhi keadaan hatinya, apabila hati seseorang dalam keadaan baik maka baiklah orang itu dan sebaliknya apabila keadaan hati sesorang buruk maka buruklah keadaan orang itu SAW bersabda:

Ingatlah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah tubuh manusia. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati perlu diperhatikan dan dipelihara dengan sebaik-baiknya di dalam kehidupan kita masing-masing.

Kita harus bisa membuka hati kita, karena apabila kita menutup hati maka peringatan serta petunjuk Allah SWT tidak dapat masuk ke dalamnya hal ini kebanyakkan dilakukan oleh orang-orang kafir.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS. Al-Baqarah [2]:6-7)

Seperti halnya ketika Umar bin Khattab masih menutup hatinya dari petunjuk ia menjadi kafir dan sangat benci terhadap Rasulullah SAW hingga bermaksud membunuhnya, pada sat mereka sudah mau membuka hatinya maka peringatan dan petunjuk Allah SWT bisa masuk ke dalamnya serta membuatnya beriman dan sangat-sangat mencintai Rasulullah SAW.

Akan menjadi bahaya lagi apabila hati yang tertutup petunjuk dan peringatan dari Allah SWT tidak dapat masuk, begitu juga semua keburukan yang berada di dalam hati juga tidak bisa keluar atau dibuang.

Berbagai bencana yang dahsyat  menimpa kehidupan manusia di dunia ini dapat dipahami sebagai bentuk peringatan kepada manusia agar mau membukakan hatinya dan mengakui kebesaran Allah SWT, namun apabila hati manusia tetap tertutup, maka mereka hanya menganggapnya sebagai fenomena alam belaka.

Hati juga harus dibersihkan atau disucikan dari sifat-safat atau kesukaan yang mengandung dosa, karena  dosa harus dibenci bukannya dicintai.

Jalan terbaik apabila hati kita menyukai atau melakukan dosa, maka kita harus bertaubat sehingga menjadi bersih dan suci kembali.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa” (HR. Thabrani).

Orang yang hatinya bersih akan sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa adalah kotoran. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy- Syu’araa[26]:87-89).

Memiliki hati yang lembut sangatlah penting, karena dengan mumpunyai hati yang lembut kita dapat berhubungan dengan orang lain dengan baik dan akan sangat mudah menerima nilai-nilai kebenaran.

Dengan  kelembutan hati akan membuat kita memandang dan menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga bila ada orang lain mengalami kesulitan hidup, hati ini terasa ingin turut mengatasi persoalan hidupnya, apabila ada orang tertimpa kesusahan rasanya ingin  mudahkannya, kelembutan hati dapat menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain sekalipun terhadap orang yang tidak baik perilakunya, karena kitapun ingin memperbaiki orang yang belum baik.

Banyak cara untuk menjadikan hati seorang muslim menjadi baik diantaranya menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin. Dalam satu hadits disebutkan:

Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah saw seraya melaporkan kekerasan hatinya, maka beliau menasihatinya: ‘Usaplah kepala anak yatim dan berilah makanan kepada orang miskin’ ” (HR. Ahmad).

Amat sangat disayangkan bila ada orang yang hatinya keras bagaikan batu sehingga sulit untuk diberi nasihat dan peringatan sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]:74).

Seperti halnya terhadap jasmani yang sehat akan berikan gairah dan semangat di dalam menjalani kehidupan, bisa menikmati makanan yang lezat serta bisa menikmati keindahan alam yang ada. Namun demikian apabila jasmani sakit, rasanya tidak ada gairah dalam hidup ini, makanan yang lezat dan pemandangan yang indahpun tidak akan nikmat rasanya.

Begitu pula halnya dengan hati, bila hati sakit kita tidak suka pada kebaikan dan kebenaran. Islam merupakan agama yang nikmat, namun bagi orang yang hatinya sakit tidak dirasakan kenikamatan menjalankan ajaran Islam kecuali sekadar menggugurkan kewajiban.

Hati yang sakit biasanya dimiliki oleh orang munafik, mereka nyatakan beriman tapi sekadar dilisan, mereka laksanakan kebaikan termasuk shalat tapi maksudnya adalah mendapatkan pujian orang, karena itu tidak mereka rasakan nikmatnya beribadah dan berbuat baik.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yangberiman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orangyang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinyasendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. (QS Al Baqarah [2]:8-10)

Karena menyembunyikan keburukan dalam hatinya orang munafik akan mengalami penyesalan yang amat dalam.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah [5]:52)

Hati perlu kita asah hingga menjadi seperti pisau yang tajam. Pisau yang tajam akan mudah untuk memotong dan membelah sesuatu. Hatiyang  tajam akan mudah pula membedakan mana haq dan mana yang bathil, bahkan menerima perintah tidak selalu harus disampaikan dengan kalimat perintah, dengan bahasa isyarat saja sudah cukup dipahami kalau hal itu merupakan perintah yang harus dilaksanakan.

Contoh manusia yang mempunyai hati yang tajam adalah Nabi IbrahimAS dan Ismail AS sehingga perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail AS cukup disampaikan melalui mimpi dan Ismail AS menangkap hal itu sebagai perintah ketika Nabi IbrahimAS menceritakannya, padahal Nabi Ibrahim AS tidak menyatakan bahwa hal itu merupakan perintah dari Allah SWT.

Shaum merupakan salah satu cara untuk mendidik hati kita menjadi tajam, karenanya pada waktu shaum teguran orang lain kepada kita meskipun dengan bahasa isyarat kita sudah menyadari akan kesalahan yang kita lakukan.

(Disarikan dari Khairu Ummah Edisi 25 Tahun XX Juni 2011)Sutaryo / FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.