RSS Feed     Twitter     Facebook

Penipuan via Ponsel

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 670 views    Font size:
Penipuan via Ponsel

JAKARTA – Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mensinyalir penipuan menggunakan telepon seluler (Ponsel) untuk menipu masyarakat kian marak selama Oktober lalu.

“Saking derasnya pengaduan masyarakat tentang kasus penipuan lewat SMS serta penyedotan pulsa, BRTI menjadikan bulan Oktober ini sebagai bulan pengaduan konsumen untuk dua kasus tersebut,” sesal Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Senin (3/10).

Heru mengatakan, BRTI dalam waktu dekat akan melakukan pertemuan dengan semua stakeholder industri, mulai dari operator, konsumen, regulator termasuk kepolisian, sektor perbankan, agar masalah ini dapat diselesaikan.

“Para korban atau yang mendapat SMS penipuan serta tersedot pulsanya bisa mengontak BRTI center di nomor singkat 159. Sedangkan pertemuan dengan para pihak terkait akan digelar dua minggu ke depan,” ungkapnya.

Berdasarkan penelusuran BRTI, ujar Heru, salah satu pemicu bocornya data yang dirangkum dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) adalah dalam klausula baku jika konsumen mengikat perjanjian dengan perbankan, dimungkin adanya data nasabah yang dapat diberikan pada pihak ketiga. “Kalau kasus penyedotan pulsa, meski bukan dilakukan operator, tapi operator menjadi turut serta (terlibat) karena pengawasan yang kurang,” jelasnya.

Untuk diketahui, saat ini salah satu kasus penyedotan pulsa yang tengah disidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah Telkomsel digugat oleh pelanggannya, David Tobing.

David yang mengaku sebagai pelanggan kartu HALO merasa dirugikan karena pulsanya terpotong sepihak, akibat berlangganan konten Opera Mini. Padahal, David mengaku tak pernah mendaftar (REG) untuk layanan Opera Mini di BlackBerry miliknya.

David mengaku telah menderita kerugian materil sebesar 90 ribu rupiah dari sembilan kali transaksi registrasi konten Opera Mini. Karena itu David mengajukan gugatan ganti rugi materil sebesar 90 ribu rupiah dan kerugian imateril sebesar 10 ribu rupiah atau total senilai 100 ribu rupiah.

Dalam gugatannya, David menuntut pengadilan menghukum Telkomsel untuk tidak melakukan penawaran, pengikatan secara sepihak dan perpanjangan otomatis fasilitas layanan tambahan dalam bentuk apapun tanpa persetujuan Pelanggan dan tidak melakukan penawaran fasilitas layanan tambahan dengan metode “Negative Option” yang membebankan pelanggan melakukan konfirmasi untuk menolak atau berhenti berlangganan. (SPS; bahan dari dni/E-6; http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/72722). FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code