RSS Feed     Twitter     Facebook

Berlindung dibalik industry kreatif

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 1,013 views    Font size:
Berlindung dibalik industry kreatif

Hilangnya informasi penawaran layanan konten dan deaktivasi layanan premium dari telepon seluler membuat para pelaku industri kreatif kehilangan gairah. Pasalnya RBT, wallpaper, voice broadcast sangat diandalkan sebagai pendapatan para pelaku industri kreatif.

Echa Tania seorang artis pendatang baru mengaku sangat berharap dikembalikan layanan konten di pemerintah. Sebagai artis yang baru menjajal peruntungan dengan single “To The Point” satu-satunya andalah dengan “Ring Back Tone (RBT).”

Echa mengatakan usaha pemutaran lagu lewat berbagai radio tidak cukup. Orang perlu diberi tahu kode aktivasi sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari informasi. “Saya dan label sangat berharap pada operator seluler dan penyedia konten,” katanya.

Sedangkan Ndank Stinky salah personel band Stinky salah satu penghasilannya sekarang ini adalah dari RBT. Sejak tidak adanya penawaran RBT dari telepon seluler menjadikan pendapatan bandnya berkurang 85 persen.

Di tengah kurangnya jadwal manggung salah satu andalah pemasukan adalah dari RBT. Ndank berharapa Surat Edaran BRTI tentang penutupan penawaran pelayanan konten dicabut sehingga lagu-lagunya dapat diundah oleh pelenggan telepon seluler.

Ferrij Lumorang Sekretaris Umum IMOCA (Indonesian Mobile & online Content Provider Association, mengatakan orang-orang kreatif yang bergerak dalam industri ini memang sangat memprihatinkan kondisinya. “Pendapatannya tidak sampai RBT tidak sampai 10 persen dari sebelumnya. Karena tidak adanya iklan untuk mereka lewat SMS,” katanya.

Ferrij mengakui masalahnya memang pada content provider atau penyedia konten. Mereka ini banyak nakal. Sebagai salah satu penyedia layanan konten Ferrij merasa dirugikan dengan keadaan ini. “Mereka itu pencuri yang berkedok content provider bukan content provider yang kemudian menjadi nakal,” katanya.

Menurut Ferrij merek para penyedot pulsa tidak terlalu penting konten yang disediakan. Bagi mereka yang penting adalah menyedot pulsa sebanyak-banyaknya.

Celakanya tidak semua dari mereka tergabung dalam asosiasi IMOCA sehingga pihaknya merasa kesulitan dalam menegakan kode etik dan aturan pemerintah. Mereka bahkan tidak mendaftarkan diri ke pemerintah sehingga kesulitan dalam pelacakan. Sampai sekarang yang terdaftar hanya 200 dan yang menjadi anggota IMOCA hanya 30 saja.

Masalah lainnya adalah aturan yang ada pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) No 1/2009 tentang jasa pesan premium dari dulu tidak ditegakan dengan benar oleh BRTI sehingga banyak penyedia konten yang tidak terdaftar.

Ferrij juga mengritik sistem double dan bahkan triple konfirmastion yang bakal diterapkan oleh BRTI dalam aktivasi layanan konten. Layanan ini terlalu banyak pertanyaan sehingga membuat orang berhenti melakukan aktivasi layanan. “Lama-lama kan capek tanya melulu dan banyak dipastikan banyak yang rontok,” katanya.

Sebagiknya menurut Ferrij jangan terlalu banyak konfirmasi. Operator nakal itu pintar dalam melakukan trik tanpa perlu banyak konfirmasi. Kalau mereka menawarkan sesuatu begitu dibuka biasanya langsung otomatis REG. Ada pula REG tapi dengan UNREG pada nomor berbeda sehingga sangat menyulitkan. (hay/E-6; http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/84813)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code