RSS Feed     Twitter     Facebook

Gunung Tambora

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 591 views    Font size:
Gunung Tambora

Yang pertama kali saya buka saat Minggu pagi, biasanya adalah kartun Kompas. Tapi pagi ini halaman depan, Tambora, langsung menarik perhatian saya. Dan dua artikel panjang tentang pendakian Tambora saya baca habis.

 

Ingatan saya kembali ke tahun 2007, usia saya saat itu hampir 60 tahun, lebih muda
sedikit dari usia Prof.Widjajono yang wafat di Tambora pada usia 61 tahun. Beliau jauh lebih berpengalaman sebagai pendaki dari pada saya, yang saat itu pertama kali mendaki gunung setinggi itu.

Saya mendaki dari Desa Pancasila setelah melalui jalan darat yang berliku-liku, pak Wamen ESDM mendaki dari jalur Doro Ncanga, yang hanya 5 jam dari airport Bima. Jalur ini lebih curam. Kami saat itu masih bisa berkendaraan truck pengangkut kayu ke Kebon Kopi, di dalam truck yang berguncang itu lah saya di lantik sebagai anggota club pendaki Dumai.

 

Medannya memang berat, hutan lebat, kadang-kadang jalurnya sudah tidak tampak, sehingga harus membabat dahulu untuk bisa maju. Kadang-kadang pendaki harus menggunakan batang-batang pohon besar yang tumbang sebagai jalan setapak.
Pak Widjajono sudah sampai di bibir kawah saat meninggal, sesungguhnya medannya sudah tidak terlampau berat lagi. Bahkan puncak yang akan di taklukan sudah tampak dikejauhan, walaupun
masih harus melingkar.

 

Tapi angin yang berpasir, serta batu-batu kecil yang tajam yang mengganggu. Kabut yang pekat pun sering kali tidak mau kompromi. Dan yang paling berat adalah udaranya yang tipis, oksigen kurang, sehingga sangat melelahkan. Di saat itu, sesungguhnya, seribu alasan bisa dicari oleh Prof Widjajono untuk berhenti dan mundur.

 

Namun beliau rupanya type orang yang pantang menyerah. Mungkin memang mimpi pendaki yang ingin menghadap Sang Pencipta saat sepi, di tepi jurang dan langsung ke langit tanpa batas. Takdir. Selamat jalan pak Widjajono. (SH)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code