RSS Feed     Twitter     Facebook

Keliling Dunia Nyaris tanpa Uang

Vote This Post DownVote This Post Up (+1 rating, 1 votes)
Loading...
   View : 1,234 views    Font size:
Keliling Dunia Nyaris tanpa Uang

BEPERGIAN ke manapun, apalagi berlibur ke luar negeri, selalu membutuhkan uang yang tidak sedikit. Biaya terutama diperlukan untuk transportasi dan akomodasi. Tetapi percayakah bahwa dengan kemauan, seseorang bisa berkeliling dunia nyaris tanpa uang?  Hal itulah yang kini tengah dilakukan seorang pemuda asal Prancis, Antoine Valenza. Pria kelahiran 18/04/90 itu sejak 22/10/11 mulai meninggalkan negerinya berkeliling dunia, termasuk ke Antartika, dengan uang yang relatif sedikit.

Menurutnya, saat berangkat ia membawa uang 250 Euro (sekitar Rp2,9 juta). Kini uang itu masih tersisa, padahal ia telah menempuh perjalanan melintasi 25 negara hingga tiba di Jakarta pada 5 Juli lalu. Uang bekalnya hanya ia gunakan untuk biaya pengajuan visa ke negara-negara yang akan dilaluinya, termasuk mengajukan visa masuk ke Indonesia melalui Malaysia. Sedangkan untuk transportasi, menginap, dan makan, ia dapatkan secara gratis.
Antoine mengatakan, sejak memulai perjalanan dari Prancis-Malaysia ia tidak sepeserpun mengeluarkan uang untuk transportasi. Perjalanan ia tempuh dari satu tempat ke tempat berikutnya sesuai jalur yang ia rencanakan dengan cara menumpang. Kecuali ketika ia harus menumpang kapal dari Malaka, Malaysia, ke Kota Dumai, Riau.

 

“Kadang menumpang truk, bahkan juga mobil pribadi,” katanya kepada mediaindonesia.com, sehari setelah tiba di Jakarta. Tetapi, ketika tidak bisa menemukan tumpangan, ia pun harus menempuhnya dengan berjalan kaki, bahkan hingga ratusan kilometer, sampai ada pengemudi yang berbaik hati memberinya tumpangan.

NEGARA pertama kali disinggahi Antoine Valenzaia adalah Italia. Di negeri itu, pemuda 22 tahun ini sempat tinggal di beberapa tempat selama 2 minggu, lalu melanjutkan perjalanan, melalui Slovenia, Kroasia, Bosnia, Rumania, Albania, Yunani, Turki, Iran, India, Kamboja, Malaysia, lalu ke Indonesia.
Di Indonesia ia memperoleh izin berkunjung satu bulan. Waktu yang menurutnya singkat itu, jika dibandingkan dengan wilayah yang luas dan terdiri dari ribuan pulau, akan ia gunakan untuk mengunjungi sejumlah tempat di Kalimantan, Sulawesi, dan tempat favorit yang sebelumnya hanya kerap ia dengar, yaitu Yogya, Bali, dan P. Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Seusai menjelajahi Indonesia, ia melanjutkan perjalanan melalui laut ke Australia, lalu ke Selandia Baru. Setelah itu, barulah anak ke 2 dari 3 bersaudara itu ke tempat utama yang menjadi tujuannya, yaitu Antartika. “Saya akan menuju Antartika yang bernama Little America,” katanya.

Saat ditanya, tansportasi yang akan ia gunakan ke Antartika dari Selandia Baru, mengingat tekadnya melakukan perjalanan tanpa uang, ia hanya menjawab, “Jangan pikirkan itu dulu.” Yang pasti setelah mencapai Little America, kemudian ke Mc Murdo Sound di Antartika, ia akan menyeberang ke Benua Amerika melintasi Argentina, Meksiko, USA, Kanada, Alaska, lalu ke Rusia. Antoine akan mampir ke Jepang, Rusia, Mongol, Ukraina, Polandia, Jerman, dan kembali ke tanah airnya, Prancis.
Baginya, perjalanan tanpa uang sejauh ini sangat dinikmatinya. Banyak pengalaman dan pelajaran diperoleh dari setiap negara yang disinggahinya, termasuk aneka budaya, kendati harus melalui halangan dan rintangan.

Lulusan Universitas Lumiere Lyon 2 jurusan perfilman, itu mengaku tidak mempunyai target waktu untuk menyelesaikan petualangannya, karena ia sadar perjalanannya membutuhkan kesabaran yang sangat besar.

Hingga tiba di Indonesia, Antoine Valenzaia mendapatkan pengalaman menarik, mulai dari yang menyenangkan dan sebaliknya. Di negara-negara tertentu ia bisa mendapatkan transportasi tumpangan, makanan, dan tempat menginap gratis dengan mudah. Namun di tempat lainnya, justru sebaliknya.
Begitu pula halnya dalam memperoleh visa. Ada yang dengan mudah didapat secara cuma-cuma, ada pula yang sangat mahal, bahkan sama sekali tidak bisa diperoleh. Ia mencontohkan, di Italia, ia bisa mendapatkan mobil tumpangan dan makanan gratis secara mudah. Bahkan di beberapa tempat ia memperoleh makanan akibat kelebihan produksi.

Sebaliknya, di Yunani ia kesulitan transportasi tumpangan dan juga makanan. Ia maklum, karena negeri itu dilanda krisis. Karena tidak ada pengendara yang memberi tumpangan, ia berjalan kaki 6 hari untuk ke Turki. Selama perjalanan itu, tiap saat jelang malam dan harus beristirahat, ia merebahkan badan di emperan, berbantal ransel berukuran besarnya, tertidur nyenyak dan terbangun keesokan harinya.

Saat berada di Albania ia sempat ketakutan karena diganggu kelompok penjahat, hingga memaksanya mengetuk pintu rumah warga dan menumpang menginap, karena tidak aman bila beristirahat di luar atau berkemah.

Sementara itu, saat akan memasuki Iran, menjelang pintu perbatasan ia tertahan satu malam dan harus berkemah di tengah dingin menggigit, karena pintu perbatasan berada di pegunungan bersalju. “Itu perjalanan paling berat,” kata Antoine.
Untuk mendapatkan makanan-menginap di setiap negara yang dilalui ia berusaha tidak mengeluarkan uang, dengan cara bekerja. Biasanya ia bekerja di tempat penampungan. “Saya bekerja di tempat itu bukan untuk mendapatkan uang, melainkan hanya untuk memperoleh makan dan akomodasi,” ujar pemilik blog headingsouth.canalblog.com itu.

Ia terkesan saat di Turki. Menurutnya, warga negeri itu ramah. Ia hampir tidak pernah berjalan kaki selama melintasi negara itu, karena setiap pengendara yang melihatnya berjalan selalu menghentikan kendaraan mereka, dan memberinya tumpangan. Termasuk angkutan umum yang memberi tumpangan gratis.

 

Saat berada di Istambul, Antoine sempat bekerja di tempat penampungan. Namun bukan tempat penampungan seperti yang di negara yang dilanda krisis. Di Istambul pula ia kadang bisa beristirahat dan tinggal sejenak di masjid. “Saya terkesan oleh Istambul. Suatu saat saya ingin kembali ke sana,” ujarnya.

ANTOINE Valenza 22, meninggalkan negerinya 8 bulan lalu untuk berkeliling dunia termasuk Antartika. Ia melintasi 25 negara tanpa biaya transportasi, dilakukan dengan menumpang dari satu mobil ke mobil lain. Kadang berjalan kaki. Makan dan tempat untuk tidur ia peroleh gratis. Transportasi tumpangan ia melalui darat dan udara.

 

Bantuan itu ia peroleh di Iran, ketika mengajukan visa masuk ke India, setelah visa ke Pakistan ditolak. Saat di Kedubes India di Teheran itulah salah seorang staf Kedubes India menawarinya tumpangan menggunakan pesawat negara Bollywood itu. Tanpa pikir panjang, ia terbang ke negeri Sharukhan dan tinggal di sana hampir 3 bulan dari izin berkunjung 5 bulan yang diperolehnya.

Pria yang mahir memainkan gitar, bass dan pandai menyanyi itu betah tinggal di negara itu. Karena itu, ia sempatkan berkunjung ke sejumlah wilayah. Untuk tidur, ia memanfaatkan terminal bus, stasiun kereta, bahkan kuil. Jika tidak mendapatkan tempat, ia berkemah. Banyaknya kuil mempermudahnya mendapat makanan, karena di sekitar tempat ibadah itu, ada saja yang mengantar makanan untuknya.

Puas berpetualang dan mempelajari budaya India, ia melanjutkan ke Myanmar. Sayang, visa ke negara yang terkenal dengan wanita pejuang demokrasi, Aung San Suu Kyi, itu tidak diperolehnya. Akhirnya, dengan bantuan pesawat India ia meninggalkan negeri itu menuju Negeri Gajah Putih, Thailand.

Kurang dari satu bulan di Thailand, ia lanjut perjalanan ke Malaysia, dan tinggal sekitar sebulan. Puas di Malaysia, ia menyeberang ke Indonesia melalui Pelabuhan Dumai, Riau. Dari sana ia mulai berpetualang menumpang dari satu truk ke truk lain. “Pernah beberapa kali kehujanan saat menumpang di bak truk, hingga dingin menggigil,” kenangnya.

Dalam perjalanan ia singgah di beberapa daerah : Duri , Pekanbaru di Riau; Bukittinggi dan Solok, Sumatra Barat; Lahat, Sumatra Selatan, hingga di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Di Sumatra Barat ia sempat mendaki Gunung Marapi bersama kelompok pecinta alam yang baru dikenalnya di daerah itu.
Memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, antrean truk tujuan Pulau Jawa yang panjang membuatnya terpaksa meninggalkan truk yang ditumpanginya sejak dari Sumsel. Setelah berterima kasih kepada pengemudi, ia pindah dan menumpang truk yang berada di antrean terdepan menuju penyeberangan. Dalam beberapa jam, ia tiba di Jakarta.

KEPERGIANNYA menuju Antartika tidak ada yang memberatkan. Antoine Valenza hanya membutuhkan 3 hari untuk membulatkan tekad dan memutuskan ke Antartika dan mengelilingi dunia tanpa uang. Kendati kedua ortu, kakak, dan adiknya yang kuliah di Fak. kedokteran mencegah, ia tetap berjalan. “Tidak ada yang bisa mencegah,” ujarnya. Meski demikian, setiap berada di satu negara ia selalu memberi kabar kepada keluarganya di Prancis dengan mengirim pesan singkat melalui telepon seluler atau e-mail dari laptop yang menyertainya.

Sebelum memutuskan ke Antartika, Antoine sempat membaca buku berjudul Little America karya Richard E Byrd, orang yang ke Antartika dengan pesawat terbang. Tetapi bukan itu yang menginspirasi tekadnya mencapai benua es itu. Menurut putra pasangan pensiunan guru itu, ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukan perjalanan tanpa harus selalu menggunakan uang.

 

Selain itu, untuk membuktikan semua tempat dapat dikunjungi. Sebab, ujarnya, ada orang yang tidak memiliki waktu untuk melakukan perjalanan karena terlalu sibuk. Dengan petualangan yang ia lakukan dan kebebasan yang diperoleh, ia akan mempunyai cerita menarik dan tidak akan terlupakan bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Saat tulisan ini diturunkan, pemuda bertubuh jangkung itu tengah menelusuri sejumlah daerah di Jawa, Bali, Lombok, hingga Pulau Komodo. Seluruh perjalanannya kelak akan ia tuangkan dalam buku yang bakal diterbitkannya setiba di negeri asalnya, Prancis, sekitar 4-5 tahun mendatang. Selamat berpetualang Antoine. Bon voyage. (Harits At Tsari; bahan dari Patna Budi Utami/X-14; http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2012/07/17/4087/2/Melintasi-14-Negara-dengan-Transportasi-Tumpangan)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*