Islam

Rasul Berkurban Saat ber-Haji

Rasul Saw seorang ma’shum yang terbebas dari dosa yang lalu dan yang akan datang serta dijamin masuk surge. Namun walau demikian beliau tetap melakukan permohonan ampunan, demikian juga kesungguhan melaksanakan perintah Alloh Swt tidak terpengaruh dengan ke-ma’shumannya. Upaya beliau untuk mendapatkan ampunan dan Rakhmat Alloh Swt :

 

1. Dalam beberapa hadits disampaikan tiap hari beliau mengucapkan istighfar tidak kurang dari 70-100X.

2. Setiap malam beliau tidak melewatkan sholat malam. Sholatnya sangat panjang, dalam satu rakaat setelah membaca Al Fatihah diteruskan dengan membaca surat panjang, bahkan bisa lebih dari satu  surat yaitu Surat Al Baqorroh diteruskan dengan Surat Ali Imran dan Surat An Nissa.

 

Karena lama berdiri sholat, kaki beliau bengkak, melihat hal ini Siti ‘Aisyah berkata “Ya Rasul, bukankah engkau seorang yang ma’shum yang dijamin masuk surga, tapi kenapa melakukan sholat seperti itu” Rasul Saw menjawab “Tidak bolehkah aku bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh Swt kepadaku”.

 

3. Saat pelaksanaan haji yang terakhir (haji wada), yang ditulis dalam “Riwayat Hidup Muhammad” karya MH Heikal, Rasul Saw berkurban, menyembelih dengan tangan sendiri sebanyak 63 ekor unta, satu ekor unta untuk setiap tahun usianya, dan sisanya dari 100 ekor unta yang dibawa dari Madinah disembelih oleh Ali bin Abi Tholib.

 

Ada pelajaran menarik terutama pelaksanaan kurban, Rasul Saw ber-kurban satu ekor unta untuk setiap tahun usianya. Dari kejadian ini kita bisa bertanya kepada diri sendiri mau dan beranikah meniru kurban yang dilaksanakan Rasul Saw ?. Boleh jadi sulit.

 

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk beramal walau sulit meniru Rasul Saw saat berkurban. Dengan skala prioritas dan pertimbangan bahwa masih ada saudara kita yang dari sisi ekonominya kurang beruntung, kurban tetap dilaksanakan seekor kambing.

 

Disamping itu memperbanyak shodaqoh sunnah / wakaf yang diberikan kepada yang berhak menerima, terutama untuk kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan ekonomi. Cara ini berdampak positif jangka panjang. Pengaruhnya terhadap mustahik dalam meningkatkan taraf hidup mereka, dan bisa dipertimbangkan diniatkan dengan kuat untuk melakukannya.

 

Boleh jadi kita berat melaksanakan alternatif ini, tapi Rasul Saw pernah bersabda “Kelak semua yang meninggal akan menyesal, yang selalu berbuat maksiat menyesal karena tidak berhenti melakukannya, yang berbuat kebaikan menyesal karena tidak memperbanyak kebaikannya”………walau telah melakukan kebaikan, penyesalan tetap akan ada, tapi kita berusaha untuk mengurangi penyesalan itu. Wallohu ‘alam.

 

Jika Bapak/Ibu/Sdr ingin mengurangi penyesalan dengan meningkatkan kebaikan dengan infak shunnah dan atau wakaf, Zakatel siap memfasilitasinya. (Nanang Hidajat)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close