RSS Feed     Twitter     Facebook

Jabatan dan pangkat ibarat pakaian

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 152 views    Font size:
Jabatan dan pangkat ibarat pakaian

Bambang Susantono memulai kariernya di Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum (sekarang KemenPupera). Saat itu, Bambang Susantono dipercaya mengelola beberapa proyek pembangunan untuk air bersih, sanitasi, dan perumahan rakyat yang berhubungan dengan lingkungan perkotaan.

Semua itu terkait dengan pembangunan infrastruktur dasar untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) demi mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tanah Air.

 

Hingga akhirnya peraih gelar doktor (PhD) untuk studi perencanaan infrastruktur dari University of California Berkeley itu dikenal sebagai salah seorang birokrat dan pakar perencanaan infrastruktur dan transportasi di Indonesia.

 

Berbagai jabatan di pemerintahan, akademik, dan organisasi telah dijalaninya. Terhitung sejak Juni 2015, Bambang Susantono ditunjuk menjadi wapres Bank ADB untuk Urusan Pengelolaan Pengetahuan dan Pembangunan Berkelanjutan. Tidak mudah meraihnya, ia harus bersaing banyak kandidat lain dari berbagai negara.

 

Meski di atas, Bambang S tetap rendah hati. Baginya, pangkat dan jabatan bisa berubah. “Seperti halnya pakaian, jabatan dan pangkat itu bisa dikenakan dan ditanggalkan. Karena itu, sebagai manusia, kita harus tampil apa adanya,” kata mantan wakil menteri perhubungan era Presiden SBY itu, baru-baru ini.

 

Bagaimana perspektif Bambang S sebagai petinggi ADB tentang Indonesia? Apa visi dan obsesinya? Bagaimana ia menerapkan gaya kepemimpinan di lembaga keuangan multilateral yang bermarkas di Manila, Filipina, itu? Berikut wawancara dengan pria kelahiran Yogyakarta, 4 November 1963 tersebut.

 

Bisa diceritakan bagaimana Anda bisa bergabung dengan ADB?
ADB beranggota 67 negara. Dari jumlah itu, 48 negara di wilayah Asia Pasifik dan dari luar wilayah, misalnya AS, Jerman, dan Kanada. Sejak didirikan 1966, Indonesia jadi anggota, namun hingga 2015 ini belum pernah satu pun warga Indonesia yang diberi kesempatan jadi wapres. Saat ini, ADB memiliki satu presiden dan enam wakil presiden dengan jumlah staf sekitar 3.000 orang.

 

Tahun ini terdapat kekosongan posisi 2 Wapres ADB. Maka ADB membuka peluang dari berbagai negara. Nama saya diajukan Pemerintah Indonesia untuk bersaing dengan 32 kandidat. Melalui serangkaian proses uji kompetensi, dipilih dua orang untuk mengisi posisi dua wakil presiden. Saya terpilih untuk posisi vice president for knowledge management and sustainable development.

 

Alasan Anda menerima posisi tersebut?
Bagi saya, ini kesempatan untuk membuktikan bahwa orang Indonesia pun mampu berperan di kancah internasional. Pada era global saat ini, kita membutuhkan jejaring profesional mancanegara yang kuat untuk memajukan kesejahteraan Indonesia.

 

Dengan berkarier di lembaga multilateral seperti ini, banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa diambil dari pembangunan di berbagai negara. Hal ini bisa menjadi modal bagi bangsa Indonesia ke depan.

 

ADB bertujuan menghilangkan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di Asia dan Pasifik. Ini salah satu alasan utama saya bergabung dengan ADB. Harapan saya sederhana, yakni bisa berbuat dan beramal untuk 4,4 miliar orang di Asia dan Pasifik.

 

Posisi saat ini sesuai bidang yang Anda tekuni sebelumnya?
Saya merasa se-olah2 Allah SWT menuntun saya ke posisi yang merupakan rangkuman dari berbagai karier saya sebelumnya. Tugas ini kombinasi antara periset, pelaksana lapangan, dan seseorang yang tahu masalah korporasi dan bagaimana berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan.

 

Kebetulan, saya pernah berada dalam posisi tersebut sehingga rasanya tidak canggung lagi. Di bawah koordinasi saya terdapat 15 tim kerja, sektor dan tematik, mulai dari water, transport, energy, health, education and finance, hingga yang sifatnya spasial atau berdimensi ruang, seperti urban, rural and food security, dan regional cooperation. Juga grup dengan tema-tema khusus, seperti climate change, environment, gender, social, governance, dan public private partnership (PPP).

 

Apa tugas dan wewenang Anda?
Tugas saya lebih pada memperkuat ADB sebagai institusi yang memiliki pengetahuan yang bisa dibagikan dan berguna untuk penduduk, terutama di Asia dan Pasifik. Di bawah kepemimpinan Presiden Takehiko Nakao saat ini, ADB memiliki pendekatan Finance++ (double plus).

 

Kalau dahulu hanya membantu berbagai negara dengan memberikan pembiayaan dengan bunga yang lebih rendah dari pasar, ataupun hibah, saat ini ADB juga menyediakan pengetahuan yang terakumulasi dari berbagai pengalaman ADB membangun di berbagai negara. Jadi, ADB tidak hanya membantu dalam hal uang saja, tapi juga pengetahuan.

 

Visi-misi Anda dengan tugas baru di ADB?
Tentu tugas saya berkaitan dengan visi dan misi ADB untuk meniadakan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di Asia dan Pasifik. Lebih spesifik lagi, tugas saya berkaitan dengan knowledge development and management di ADB dan juga mengarusutamakan (mainstreaming) sustainable development dalam kegiatan ADB sehari-hari.

 

Artinya, langkah pembangunan di ADB tidak hanya layak dari sisi ekonomi, tapi juga berkelanjutan dari aspek lingkungan hidup dan secara sosial sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat.

 

Kontribusi seperti apa yang bisa diberikan kepada Indonesia?
Indonesia salah satu pemilik ADB dapat memanfaatkan layanan ADB. Khususnya berkaitan dengan pembiayaan pembangunan dan juga alih IPTEK. Dalam banyak hal, tidak hanya pembiayaan yang penting, tetapi juga pelajaran (lesson learned) yang dapat diambil dari begitu banyak pengalaman di berbagai negara, di berbagai sektor, dengan variasi situasi dan kondisi yang beragam.

 

Misalnya, bagaimana pengalaman keberhasilan pembangkit listrik skala kecil dengan tenaga surya di perdesaan. Atau sistem layanan kesehatan berbasis komunitas dikembangkan, termasuk bagaimana kota-kota besar serta menengah membangun sistem angkutan umum massalnya, dan lain-lain.

 

Bagaimana ADB melihat pembangunan berkelanjutan di Indonesia?
Saya kira, kita merupakan salah satu dari sedikit negara yang telah lama mengadopsi prinsip pembangunan berkelanjutan. Bagi Indonesia yang kaya sumber daya alam, sustainable development menjadi keharusan agar penggunaannya benar-benar dapat membawa manfaat dan berkelanjutan. Tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.

 

Yang tak kalah penting adalah sifat pembangunannya harus inklusif. Artinya memiliki dimensi pemerataan dan keadilan yang kuat. Social inclusiveness ini merupakan salah satu ciri pendekatan pembangunan ADB. Di samping itu, penting juga aspek tata kelola (governance)-nya, sehingga pengelolaan sumber dayanya fair, transparan, dan akuntabel.

 

Apa filosofi hidup Anda dan apa artinya?
Dua hal yang selalu menjadi pegangan saya. Pertama, kita harus berupaya semaksimal mungkin, tapi hasil akhirnya Allah SWT yang menentukan. Jadi, berdoa itu penting, dan juga mensyukuri apapun yang diberikan oleh-Nya. Kedua, orangtua saya selalu berpesan agar saya selalu berguna buat orang lain pada posisi apa pun, serta selalu rendah hati.

 

Sebagai makhluk yang diciptakan Allah, kita ini diperankan di berbagai macam posisi di dunia ini. Pangkat dan jabatan bisa berubah sewaktu-waktu, seperti halnya pakaian yang bisa dikenakan dan ditanggalkan. Tetapi kita sebagai manusia akan tampil apa adanya. Jadi, penting untuk selalu menjaga silaturahmi.

 

Bagaimana Anda membagi waktu untuk karier dan keluarga?
Tahun ini, kedua anak saya berada di Inggris untuk melanjutkan studi mereka. Kalau kami bertemu secara fisik tentu kami berusaha untuk jalan bersama. Bisa menonton di bioskop, lihat pertunjukan, atau makan bersama.

 

Karena sementara ini kami terpisah antara Manila dan Inggris, maka skype menjadi alat komunikasi di samping tentunya media sosial lainnya. Dengan kemajuan teknologi informasi, kami bisa terhubung setiap saat.

 

Dukungan keluarga terhadap karier Anda?
Saya kira, ini salah satu yang utama sejak dulu. Keluarga merupakan oase bagi saya untuk berbuat yang terbaik bagi semua orang. Istri saya saat ini untuk sementara cuti dari bekerja sebagai pengacara. Sebetulnya sejak saya menjadi wakil menteri perhubungan, istri saya cuti untuk menghindari conflict of interest dalam pekerjaannya.

 

Anak-anak saya juga mandiri dalam kegiatannya masing-masing. Semuanya saling dukung dalam kapasitas masing-masing. Bila ada hal yang cukup penting, biasanya kami putuskan bersama, termasuk keputusan untuk hijrah dan menetap di Manila.

 

Apa obsesi Anda?
Bagi saya, hidup ini mengalir saja seperti air. Kita syukuri saja dan nikmati apa adanya. Tetapi kita harus tetap punya prinsip hidup, sehingga jelas mana yang baik dan buruk, mana yang hak kita dan yang bukan.

 

Juga selalu menyadari bahwa sebagian rezeki yang kita terima merupakan titipan dari Allah yang harus kita teruskan kepada yang berhak. Bila kita jalankan prinsip ini, maka obsesi kita adalah selalu berbuat baik. Tidak ada akhirnya karena akhir akan ditentukan sewaktu kita menghadap kembali ke Sang Khalik.

 

Gaya kepemimpinan Anda seperti apa?
Saya selalu berusaha menerapkan collective collegial dengan rekan-rekan yang bekerja bersama saya. Dalam manajemen, kerja tim ditentukan oleh semua orang, di semua lini dalam mata rantai manajemen.

 

Jadi, sangat penting agar semua anggota tim menyadari betapa dia sangat strategis dalam menentukan hasil akhir dari tim. Kalau ini bisa disadari, siapa pun dalam tim akan berupaya bekerja maksimal. Kalau dalam teori leadership, mungkin gaya saya lebih sebagai servant-leadership style.

 

Selama karier Anda, keberhasilan atau upaya apa yang dianggap paling monumental?
Karena saya selalu bekerja dalam tim, capaian atau prestasi merupakan kerja bersama. Untuk bidang infrastruktur seringkali manfaat yang ada tidak langsung terasa, ada lag of time dari selesainya pembangunan, hingga semua pihak merasa ada manfaat yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tersambungnya “Sabuk Selatan Nusantara” yang merupakan perpaduan dari jaringan jalan nasional dan feri penyeberangan antarpulau yang membentang dari barat hingga timur Indonesia, tentunya memungkinkan barang dan penumpang dialirkan dari Sabang hingga Merauke.

 

Ataupun juga selesainya pembangunan jalur ganda kereta api (KA) di Pantura Jawa yang memungkinkan kereta api kita berperan lebih besar lagi dalam logistik dan pergerakan penumpang. Lebaran lalu, frekuensi KA kita bisa ditingkatkan lebih maksimal karena rangkaian KA tidak lagi bersilangan dan saling tunggu. (Tri Listyarini/AB; Investor Daily dan http://m.beritasatu.com/figur/305366-pangkat-dan-jabatan-ibarat-pakaian.html)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code