Wisata dan Kuliner

Pesona Pulau Natuna

KOMPAS.com – Natuna. Apa yang terbersit di benak kita ketika dengar Natuna? Bisa Ikan, pantai, atau gas alam? Natuna terletak di perairan Laut China Selatan, di antara Malaysia dan Kalimantan, berbatasan dekat dengan Vietnam.

Iya, Natuna adalah salah satu pulau terdepan Indonesia. Termasuk dalam gugusan Kepulauan Tudjuh, begitu orang Natuna menyebutnya, Natuna terdiri dari ratusan pulau yang dikenal dengan tiga bagian berdasar pulau terbesarnya yaitu Natuna Utara dengan Pulau Laut, Natuna Tengah dengan Pulau Bunguran, dan Natuna Selatan dengan Pulau Subi dan Serasan. Gugusan Kepulauan Tudjuh sendiri terdiri dari 4 kepulauan: Badas, Tambelan, Natuna, dan Anambas.

Kabupaten Natuna masuk dalam wilayah teritori Provinsi Kepulauan Riau. Sebelum pemekaran, Natuna merupakan sebuah kecamatan yang meliputi banyak pulau, sehingga ada ujar orang lokal, “Dulu waktu masih jadi satu dengan Riau, kami tak pernah melihat bupati, Mbak.”

Letak geografisnya yang berada di tengah Laut China Selatan memang menghasilkan tantangan tersendiri terkait akses. Natuna memiliki bandar udara yang berbagi dengan bandar udara TNI Angkatan Udara di Ranai, ibu kota kabupaten.

Penerbangan menuju Natuna dilayani oleh pesawat komersial yang melewati Batam dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 10 menit. Selain jalur udara, kapal perintis dan kapal Pelni yang beroperasi di jalur Jakarta – Pontianak – Surabaya juga ada yang singgah di beberapa pulau di Natuna.

“Natuna dulu sebenarnya masuk Malaysia, Mbak, lalu setelah kemerdekaan, masuk menjadi bagian dari Indonesia,” Pak Aan, penduduk Natuna, bercerita.

Menurut sejarah, Natuna dulu merupakan bagian dari Kesultanan Johor di Malaysia. Waktu berlalu, Natuna kemudian menjadi bagian kekuasaan Kesultanan Riau, dan ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan, Riau bergabung dengan Indonesia, menjadikan Natuna bagian dari Republik Indonesia.

Tak heran, etnis Melayu adalah etnis paling dominan di Natuna. Tentu saja corak Melayunya begitu kental, baik bahasa, jenis makanan, hingga ramah hangatnya penerimaan orang-orang di sana.

 

Kekayaan ikan Natuna tercermin dari konsumsi masyarakatnya yang didominasi oleh ikan. Kernas, kue dari sagu, dan ikan yang digoreng dan dinikmati dengan sambal merupakan makanan ringan khas Natuna yang cocok dikonsumsi dengan teh atau kopi.

Juga tabel mando, piza ala Natuna yang terbuat juga dari sagu dan ikan, yang dimasak dengan cara dibakar. Olahan ikan lainnya adalah lempar, semacam lemper yang isinya bukan abon, melainkan suwiran ikan. Iya, di Natuna, ikan begitu jamak ditemui, segar-segar pula.

Pak Aan bertutur, “Di sini ikan yang usianya lebih dari sehari nggak bakal laku, Mbak, karena yang segar banyak.”
Bicara soal kepulauan, pasti akan selalu ada obrolan tentang pesisir juga pantai. Pulau Bunguran Besar, lokasi ibu kota kabupaten, tentu saja dikelilingi pantai dan tebing. Masih di Pulau Bunguran Besar, Natuna juga dianugerahi gugusan batu granit.

Sulit membayangkan batu granit? Cara paling mudah adalah mengingat film Laskar Pelangi yang mengambil latar pantai, laut, dan bebatuan besar di Belitung. Serupa seperti itu, Natuna juga memiliki banyak pesisir dan tebing dengan bebatuan besar.

Lokasi dengan bebatuan granit menawan ini bisa dilihat di Bukit Senumbing dan Alif Stone Park. Spot yang terakhir ini sedang dikembangkan dengan penginapan terintegrasi dan jembatan kayu yang mempermudah kita untuk menikmati puluhan batu besar dengan campuran warna yang cantik. (Marlistya Citraningrum; Ni Luh Made Pertiwi F; Kompasiana dan http://travel.kompas.com/read/2015/10/19/174600027/Pesona.Natuna.Pulau.Terdepan.Indonesia)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close