RSS Feed     Twitter     Facebook

Mengubah cara berpikir ke paradigma baru tentang merokok

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 141 views    Font size:
Mengubah cara berpikir ke paradigma baru tentang merokok

Melihat tayangan video “Indonesia Surga Rokok” yang diposting rekan kita M Farid Fannani, ternyata paradigma berpikir para pemimpin negeri ini, secara tidak langsung ikut berperan dalam menyuburkan industri rokok, dan memiskinkan rakyatnya. Jika kita mau merenungkan, fenomena rokok di negeri kita layak untuk menjadi perhatian bersama.
Mari, belajar sejarah, mengapa kita jadi bangsa lemah, mudah dijajah bangsa lain. Era 1700-an, Belanda menundukkan orang Jawa tak hanya dengan senjata, tapi dilengkapi candu. Akibatnya, kita tak berdaya 350 tahun karena ketagihan candu. Orang Jawa jadi bodoh, miskin dan terbelakang. Akhirnya hanya tunduk menuruti kemauan Belanda ketika dipaksa menjual hasil bumi dan tanahnya dengan murah.
Awal abad ke-19, Inggris menundukkan China juga dengan candu, akibatnya China jadi hancur karena ketagihan. Efek candu yang diperdagangkan Inggris di China, memperlemah dan merusak kehidupan China. Melihat banyaknya rakyat China jadi korban candu, Pemerintah China sadar dan berusaha menyetop masuknya candu dari Inggris. Dengan berani Inggris menyatakan perang terhadap China.

 

Akibatnya, pecah Perang Candu. Satu persatu kota di sepanjang Sungai Yangtze jatuh ke tangan Inggris, dan akhirnya China menyerah kalah. Itu adalah episode pertama Perang Candu tahun 1834 – 1842.
Melihat cara menundukkan bangsa lain dengan membuat orang jadi lupa dan lemah karena ketagihan, maka negara2 Barat lain : Perancis, AS, dan Rusia tahun 1850-an mengikuti jejak Inggris, terlibat dalam Perang Candu. Terjadilah Perang Candu II, tujuannya tidak lebih pada kepentingan perdagangan yang menguntungkan Negara Barat, sekaligus memperlemah ketahanan China.
Perang Candu episode ke-3, saat Perang Vietnam berada pada puncaknya. Rakyat Vietnam menggunakan strategi perang candu dan menebar penyakit kelamin (Vietnam Rose) dalam menghadapi tentara AS. Maka berangsur, tentara AS di Vietnam dibuat ketagihan candu, ganja, dan wanita, sehingga “moral, mental, dan akhlak” mereka hancur.

 

Walau persenjataan tentara AS lebih unggul dan tidak masuk di akal kalau AS bisa dikalahkan Vietnam, tapi karena “moral, mental, dan akhlak” dari sebagian besar tentara AS hancur, AS bertekuk lutut menyerah kalah.
Perang Candu episode ke-4, adalah episode yang kita jalani saat ini. Episode peperangan yang “tanpa kita sadari” berlangsung ini episod tersulit karena dampaknya lebih lama, tidak terasa, mirip godaan setan yang halus masuk ke relung hati manusia. Tujuan utamanya dominasi ekonomi dan politik.
Perang Candu episode ke-4 ini tidak dilakukan hanya candu, ganja, dan narkoba, tapi juga zat lain yang dapat menimbulkan rasa ketagihan. Caranya lebih halus sehingga pemerintah di negara sasaran tidak merasa dikendalikan, bahkan ikut ketagihan dari hasil perdagangan zat tersebut.

 

Zat adiktif yang dipakai secara legal bebas diperdagangkan di pasaran, bisa dibeli ketengan di pinggir jalan. Itulah rokok, yang mengandung candu nikotin, merupakan zat adiktif berbahaya untuk kesehatan manusia.
Perang Candu episode ke-4 ini saya namakan “War against the enjoining soul on evil” (perang melawan hawa nafsu). Karena nafsu itu menyuruh orang kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmatNya (QS. Yusuf [12]:53). Ini peperangan terbesar abad ini, prediksi Rasul Saw. ketika ditanya sahabatnya, perang apa yang paling hebat sesudah Perang Badar? Yaitu perang melawan hawa nafsu dirinya.
Bangsa kita kondisi yang lemah tidak berdaya menghadapi peperangan lawan hawa nafsu dirinya dari kecanduan nikotin. Lebih dari 400.000 rakyat Indonesia tiap tahun mati sia2 akibat merokok. Saya yakin hati pemimpin yang amanah trenyuh dan menangis melihat fakta yang jadi korban terbanyak dari keganasan candu nikotin adalah orang miskin.
Kalau kaya merokok tak masalah. Namanya orang kaya, terkena serangan jantung atau stroke tinggal berobat ke Singapore / Malaysia. Paling hanya 200 juta. Pensiunan Telkom tak masalah, anggaran disediakan Yakes Telkom (Tapia apa nikmatnya hidup tersiksa?-Red). Kalau orang miskin mengandalkan BPJS? Padahal, saat Lansia menghampiri dan sakit mulai mendera, mereka hanya memiliki dua pilihan.

 

Berjuang bangkit dan sadar, merokok berbahaya untuk kesehatan, atau membiarkan tubuh terjangkit berbagai macam penyakit, lalu mati. Selesai riwayatnya. Rasanya, perilaku masyarakat harus diubah. Walau secara umum perokok mengerti bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi mereka mengalami kesulitan yang luar biasa untuk terbebas dari jeratan nikotin.

 

Banyak pasien di-wanti2 dokter untuk tidak merokok lagi, ternyata pasien itu gagal berhenti merokok. Dari sudut ekonomi, industri rokok dapat memberi lapangan kerja ke jutaan orang, dan memberi penghidupan ke petani tembakau, juga memberi kontribusi cukai bagi pemasukan negara. Industri rokok dipercaya sebagai usaha padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja massal.

 

Pada tataran dunia, rokok menjadi salah satu penyebab kematian terbesar. Setiap tahun lebih dari lima juta orang meninggal terkena penyakit paru-paru kronik dan emfisema. Ditinjau dari aspek pemborosan dan kesehatan bangsa, maka tidak ada sisi positif apa pun yang bisa didapatkan dari barang ini.
Hingga kini jumlah perokok tidak berkurang, bahkan makin banyak diminati anak2 dan remaja. Candu rokok sudah meracuni kalangan murid sekolah, merupakan pemandangan yang biasa. Tidak ada rasa khawatir dari para orangtua, bahwa gejala ini sangat berbahaya untuk masa depan mereka.

 

Padahal anak2 dan remaja itu investasi masa depan bangsa. Faktanya, dengan mudah ditemukan hampir tiap sekolah. Pengeluaran uang beli rokok bisa jadi lebih banyak dari biaya beli buku2 pelajaran. Ironisnya para ortu sering mengeluh, mereka mengalami kesulitan untuk membeli kebutuhan pokoknya.
Rokok, isu yang tak pernah tuntas penanganannya. Riset Kesehatan Dasar 2013 Kemenkes menyatakan perilaku merokok usia 15 tahun ke atas belum menurun dari 2007-2013, cenderung mengalami peningkatan dari 34,2% pada 2007 jadi 36,2% pada 2013. Selain itu, data riset juga menunjukkan pada 2013, 64,9% warga yang menghisap rokok berjenis kelamin lelaki dan sisanya 2,1% perempuan.

 

Di samping itu, ditemukan 1,4% perokok berumur 10-14 tahun, dan 9,9% perokok pada kelompok tidak bekerja. Kalau penduduk Indonesia tahun 2014; 250 jt, maka jumlah perokok laki-laki dan perempuan di Indonesia: 36,2 % x 250 juta = 90.500.000 orang. Dari data ini dapat dibuat analisis tentang besarnya pemborosan yang telah dilakukan oleh para perokok setiap tahunnya.

 

Rata2 mereka belanja Rp.10.000,- tiap hari dari pendapatannya, beli rokok. Setahun 365 hari x Rp.10.000,- = Rp. 3.650.000,- Berarti, perokok di Indonesia membelanjakannya per hari : Rp. 10.000,00 x 90,5 juta = Rp. 905 miliar. Per tahun, 365 hari x Rp.905 miliar = Rp 330,325 triliun. Jumlah yang besar
Rupanya jalinan antara rokok–perekonomian sulit terpisahkan dari peta politik. Dalih penerimaan kas negara terlalu kompromistis terhadap keberadaan industri rokok. Pendapatan dari cukai rokok, tidak sebanding pengeluaran negara menanggulangi biaya kesehatan.

 

Bahaya akibat merokok, pemborosan yang dilakukan membeli rokok, dan pengeluaran negara untuk mengobati orang2 yang terkena dampak merokok, jadi bencana bagi bangsa. Padahal sebagian besar perokok adalah dari kelompok sosial masyarakat ekonomi rendah. Bagaimanapun, mereka akan kesulitan untuk dapat menabung apalagi berinvestasi.

 

Uangnya habis dipakai untuk hal2 konsumtif dan menimbulkan penyakit. Disadari atau tidak, masyarakat miskin kelompok masyarakat yang paling jadi korban dari industri rokok. Negara kita bukan miskin atau terbelakang karena kurang sumber daya alam atau karena alam yang kejam kepada kita. Negara kita memiliki sumber daya alam yang berlimpah dan sumber daya manusia yang tidak kalah kualitasnya.

 

Kemauan mematuhi dan mengajarkan prinsip hidup hemat, sehat, bersih, jujur, dan bermakna, sangat rendah. Akhirnya kita jadi bangsa lemah. Itu yang saya katakan saat ini kita sedang memasuki perang besar seperti yang disampaikan Rasul Saw ketika Perang Badar usai, yaitu perang melawan hawa nafsu.
Setiap bangsa yang mencintai negaranya, pasti tidak akan membiarkan negaranya tetap berlanjut dan larut dalam kemiskinan. Kalau kondisi ini terus berjalan tanpa ada kesadaran berhemat nasional melalui gerakan stop smoking, dapat kita prediksi sampai kapan pun kemiskinan terus melanda. Utang negara tidak akan terlunasi, karena tanpa disadari bangsa ini boros harta dan energi sia2 yang luar biasa.
Mengalihkan uang beli rokok ke makanan bergizi, menolong perbaikan nasib anak2 Indonesia, sehingga persoalan kekurangan gizi yang banyak terjadi tidak ada lagi. Seandainya bangsa kita berhemat melalui gerakan berhenti merokok, maka uang itu dapat digunakan menyantuni anak yatim, menyekolahkan anak2 terlantar, memperbaiki tempat2 ibadah kumuh.

 

Atau membangun tempat ibadah dan gedung sekolah lebih megah. Kita bisa hitung, katakan satu buah tempat ibadah atau sekolah yang akan dibangun bernilai Rp.1 M, dalam kurun satu tahun di Indonesia akan berdiri tempat ibadah/sekolah megah minimal 330.325 buah. Sangat fantastis bukan ?
Kami generasi muda berharap dan yakin andai menteri penanggungjawab bidang pertanian, menteri penanggungjawab bidang perindustrian-perdagangan, menteri yang bertanggungjawab di bidang kepabeanan/cukai, mau mengubah paradigma lama dengan breakthrough, aktif membina penyelenggaraan upaya pengamanan rokok bagi kesehatan, (sendiri2 / bekerjasama dengan badan atau lembaga internasional atau organisasi kemasyarakatan).

 

Menteri yang bertanggungjawab di bidang pertanian, mendorong dilaksanakan diversifikasi tanaman tembakau ke jenis tanaman lain yang lebih bermanfaat. Menteri yang bertanggungjawab di bidang perindustrian, mendorong dilaksanakannya diversifikasi usaha industri rokok ke industri lain yang juga lebih bermanfaat bagi seluruh bangsa.
Apa yang harus dikatakan ke anak cucu kita, bila mereka bertanya kita tahu rokok itu racun, rokok itu membuat bangsa jadi lemah, rokok itu sumber macam2 penyakit, rokok itu sumber pemborosan, tapi pemimpin bangsa ini tidak berbuat apa-apa ketika lebih dari 400 ribu orang tiap tahun meregang nyawa? Siapa yang harus disalahkan dan siapa yang bertanggung jawab?
Seperti Perang Candu di China, rokok menyebabkan mental bangsa jadi lemah, akhirnya mudah dipaksa dan ditundukkan bangsa lain. Inilah Indonesia. Biarlah anak cucu kita nanti yang pilih sendiri tinta apa yang pantas mereka torehkan untuk menulis nama2 pengelola di negeri yang membiarkan jutaan rakyat mati sia-sia, atau yang tulus ikut berjuang mengarahkan bangsa ini menuju kehidupan lebih sehat dan bermakna. (Bandung, 1 Desember 2014; Wassalam; Muchtar A.F)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code