RSS Feed     Twitter     Facebook

Ibnu Khaldun (TA 209 )

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 4 views    Font size:
Ibnu Khaldun (TA 209 )

Mempelajari Politik Islam, menurut Dr.Haedar Nashir, adalah mengumpulkan dan mempelajari serpihan2 sejarah Islam. Kita beruntung, beberapa tokoh pemikir Islam bersedia mengabadikan pemikiran2nya dengan menerbitkan buku2 ilmiah.

Salah satu pemikir Islam yang dikenal sebagai perintis Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Islam : Ibnu Khaldun (1332 – 1406M). Kalau di-urut2 keatas, ia masih keturunan salah satu sahabat Nabi, Wail bin Hujar, yang kemudian salah satu cucunya Khalid bin Usman mengembara sampai ke Carmona, Andalusia (Spanyol).

 

Keturunannya membentuk keluarga besar, Bani Khaldun. Karena kekacauan mendera di kawasan itu, keluarga ini mengungsi ke banyak tempat akhirnya sampai di Tunis. Di Tunis ini lahir Ibnu Khaldun, yang sejak kecil menunjukan kecerdasannya. Ia hapal Al Quran dan belajar dari ayahnya. Saat itu Afrika Utara, menjadi tempat pengungsian ulama2 karena peperangan di mana2.

 

Dari banyak ulama ia belajar, tafsir, hadits, usul fiqih, tauhid. Ia juga dengan semangat mempelajari ilmu bahasa, fisika dan matematika. Karunia Allah, semua yang dipelajarinya ia memperoleh nilai yang memuaskan.

Kisah hidupnya penuh dengan pengembaraan ke Eropa Selatan dan Timur Tengah. Dimana ia menetap, dengan bekal pengetahuannya yang tinggi ia selalu berhasil menjadi pejabat tinggi dan beberapa kali menjadi sekretaris Sultan. Berulang kali ia dipuja namun juga diusir.

 

Karena berbeda faham, sampai suatu saat ia menghentikan kegiatan politik dan belajar secara otodidak dan menulis beberapa buku yang sampai kini menjadi khasanah ilmu pengetahuan Islam. Terahir ia menjadi Ilmuwan dan mengajar di banyak tempat di Mesir sampai akhir hayatnya.

Konsepnya mengenai negara antara lain adalah Al Umran, perwujudan sebuah masyarakat beradab yang bertujuan melahirkan kesejahteraan bagi seluruh anggautanya. Ibnu Khaldun juga banyak mengupas konsep Khilafah atau imamah, yakni kepemimpinan menyeluruh. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*