RSS Feed     Twitter     Facebook

Mengenal Mineral yang Responsible Consumption

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 2 views    Font size:

Ada zat yang dibutuhkan tubuh kita dalam jumlah sedikit tapi bila kurang atau tidak ada jadi sumber  masalah kesehatan, zat itu mineral. Mineral harusnya tersedia cukup pada makanan kita. Ketersediaannya jadi semakin berkurang dari waktu ke waktu.

 

Akibatnya ada ancaman penurunan kwalitas generasi ke depan yang disebabkan penurunan kadar mineral di bahan makanan ini. Ada peluang memperbaikinya, tapi untuk ini kita harus mau  mememperbaiki pola konsumsi kita – yaitu menjadi pola konsumsi yang bertanggung jawab.

Karena kebutuhan mineral hanya beberapa milligram sampai beberapa gram / hari, sering diabaikan dan luput dari perhatian. Akibatnya generasi kita kini jauh lebih rentan penyakit dibanding generasi sebelumnya, bila kita tidak memperbaiki-penurunan mutu kesehatan ini berlanjut pada anak-cucu kita.

Manganese (Mg) dan Copper (Cu) misalnya, tubuh kita hanya butuh 2 mg/hari. Tetapi ketika tubuh kita kekurangan Manganese proses produksi dan kerja enzyme kita terganggu (segala masalah kesehatan timbul dari sini). Kekurangan Copper mengganggu produksi energy dan neurotransmission, juga meningkatkan resiko cardiovascular dan neurodegenerative diseases.

Mineral lain yang dibutuhkan lebih banyak adalah Calcium (1 gr/hari), Phosphorus (1 gr/hari) dan Potassium (3.5 gr/hari). Kekurangan Calcium berdampak pada kesehatan tulang, gigi dan muncul  penyakit2 seperti osteoporosis, osteopenia dan  hypocalcemia .

 

Kekurangan Phosphorus berisiko juga muncul penyakit2 tulang, kekurangan Potassium berdampak pada otot, syaraf dan penyakit cardiovascular. Di antara kebutuhan sedikit dalam satuan mg dan kebutuhan yang cukup banyak dalam satuan gram itu, ada sejumlah mineral yang kebutuhannya bervariasi.

 

Di antaranya adalah Zinc (14 mg/hari),  Iron (18 mg/hari), Magnesium (0.3 g/hari)  dan mineral-mineral lainnya yang tingkat kebutuhannya belum diketahui secara pasti. Apa yang jadi masalah ? Kandungan mineral2 itu di dalam zat makanan kita mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

 

Seiring dengan penurunan ini, meningkat pulalah resiko berbagai penyakit seperti yang kita saksikan di masyarakat modern kini. Kita yang hidup di jaman ini lebih rentan penyakit ketimbang orang tua kita, anak kita lebih rentan dari kita dan seterusnya.

Di negara2 yang data kandungan makanannya tersimpan rapi sejak berpuluh tahun seperti di AS dan Inggris, mereka dapat melihat trend penurunan mineral ini. Di AS study pada 43 jenis sayur dan buah2 antara 1950-1999 menunjukkan ‘reliable declines’ pada kandungan protein, vitamin dan mineral2.

The Organic Consumers Association menemukan penurunan nutrisi 12 jenis sayur antara 1975-1997 masing2 Calcium turun 27%, Iron turun 37 %, Vit-A turun 21 %; Vit-C 30 %. Hal senada ditemukan di Inggris antara 1930-1980; menunjukkan penurunan nutrisi pada 20 jenis sayuran masing2 Calcium turun 19%, Iron turun 22 %,  dan Potassium turun 14 %.

Di Indonesia  saya belum temukan datanya, tapi bisa jadi penurunan senada juga terjadi. Indikatornya  buah dan sayuran kita tidak memancarkan aroma seperti dulu. Jeruk keprok kita dulu mengharumkan secara harfiah terminal2 bis di Jawa-sekarang tidak ada lagi aroma ini.

 

Bahkan sayur yang namanya krai (mentimun hijau besar) kesegarannya tercium beberapa meter, sayur yang sama kini tidak beraroma. Pertanyaannya mengapa mineral dan zat2 makanan lain menghilang dari bahan makanan kita? (Prasetya B Utama; dari grup WA-VN; sumber dari Muhaimin Iqbal; http://www.geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1912-responsible-consumption)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*