RSS Feed     Twitter     Facebook

Wayang Gatutkaca (33 )-Mencari Jago

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 8 views    Font size:
Wayang Gatutkaca (33 )-Mencari Jago

Prabu Matswapati memanggil putra2nya, Raden Seta, R. Utara dan R. Wratsangka bicarakan tantangan Patih Kicakarupa. Dewi Utari tidak diajak bicara, sebab ini masalah laki2, selain itu Dewi Utari wanita dan kecil, belum saatnya diajak bicara berat2, bicara negara.

Putra2nya mencoba cari jago ke seluruh negeri Wirata yang bisa mengalahkan jago Kicakarupa, yaitu Rajamala yang masih saudara juga. Masih uwanya, sebab Rajamala juga Patih Kicakarupa adalah kakak dari ibu mereka, Dewi Rekatawati.

Hari demi hari di Wirata makin tegang. Apalagi rakyat Wirata mendengar akan ada adu jago, sebab Patih Kicakarupa sengaja menyebar berita akan ada adu jago. Tujuannya tak lain untuk membuat Prabu Matswapati panik. Kalau bahasa bukan jaman perang disebut “psi war”, perang psikologi.

Sepekan dari hari adu jago yang ditentukan sepihak oleh Patih Kicakarupa, Prabu Matswapati dan putra2 nya belum dapat jago. Mereka makin tegang. Apa jadinya kalau tidak ada jago yang diandalkan dan kelak tahta Wirata diserahkan ke Kicakarupa dan Rajamala. Prabu Matswapati dan putra/inya mau diapakan? Dibunuh? Diusir? Dijadikan rakyat biasa? Apapun keputusannya jelas tidak mengenakkan.

Tiap hari Prabu Matswapati mengajak rapat punggawanya, cari solusi. Terutama mencari info kalau ada jago yang bisa diandalkan. Namun belum juga dapat info jago yang dicari. Malam itu Prabu Matswapati mengundang putra2 dan punggawa penting kerajaan membicarakan jago Prabu Matswapati.

 

Kali ini brahmana2 diajak serta dan diminta doa serta sarannya. Setelah dijelaskan, semua tidak memberi jawaban, diam dan menundukkan kepala. Tiba2 ada satu brahmana yang sanggup cari jago untuk Prabu Matswapati, brahmana yang baru berada di istana itu bernama Tanda Dwijakangka atau sering dipanggil dengan Brahmana Kangka.

 

Brahmana itu minta ijin malam itu cari kenalannya bernama Jagal Bilawa agar mau jadi jago Wirata. Pertemuan bubar. Brahmana Kangka mencari Jagal Bilawa. Prabu Matswapati yang berharap banyak pada usulan Brahmana Kangka tidak bisa tidur. Dia mondar mandir di istana.

Brahmana Kangka ke kediaman Jagal Walekas, penjual daging dan sekaligus sebagai jagal. Jagal Walekas, penjual daging besar, dia punya anak buah jagal2. Jagal itu orang yang kerjaannya memotong hewan besar berkaki-4 serta mengurusnya, seperti menguliti, me-motong2 sampai siap dijual berupa daging dan tulang2. Jagal Walekas sering kirim daging ke istana Wirata, dia tukang daging langganan istana.

Salah satu andalannya Jagal Walekas bernama Jagal Bilawa (Abilawa) yang belum lama jadi jagal anak buah Jagal Walekas. Ceritanya suatu hari ada hewan besar yang mau dipotong oleh anak buah Jagal Walekas. Namun tiba2 hewan besar itu lepas dari ikatannya dan berkeliaran di jalan dan di kampung.

 

Jagal Walekas berusaha menangkapnya namun gagal, selain hewan itu besar, Jagal Walekas sudah mulai tua, Tenaganya tidak sekuat jaman muda dulu. Anak buah Jagal Walekas berusaha membantu menangkap hewan itu, namun gagal. Mungkin karena jengkel di-kejar2 jagal, hewan itu mengamuk.

 

Jika ketemu orang, akan diserangnya. Lama2 tanaman, pagar orang, rumah orang, terutama yang kurang kokoh, dimasuki dan diobrak abrik hewan itu. Masyarakat jadi heboh, panik dan ketakutan. Sat itu ada orang muda gagah perkasa lewat. Tanpa diminta orang itu menangkap hewan yang mengamuk dan berhasil. Orang itu kuat badannya, sehingga mampu menangkap hewan itu.

Jagal Walekas senang, sebab hewannya bisa tertangkap. Jika tidak tertangkap, dia akan mengganti kerugian kerusakan rumah dan barang2 lain akibat amukan hewan itu. Mungkin dimarahi punggawa kerajaan Wirata yang saat itu di bawah kendali Patih Kicakarupa. Mungkin juga dia akan dihukum berat.

Jagal Walekas tanya pada orang itu, namanya dari mana dan mau ke mana. Dia jawab, Bilawa atau Abilawa. Dia asal dari desa, kedatangannya ke kotaraja Wirata cari pekerjaan. Ketika ditawari pekerjaan sebagai jagal, orang itu mau dan senang. Maka sejak itu Bilawa jadi jagal anak buah Jagal Walekas. Dia tinggal di bagian belakang rumah Jagal Walekas.

Malam itu Jagal Walekas kaget sebab ada tamu datang malam2. Tamu itu tidak lain Brahmana Kangka ditemani putra Wirata, R. Utara dan punggawa2 istana. Jagal Walekas sekalipun tidak dekat, namun kenal Brahmana Kangka sebab ketika mengirim daging ke istana sering berjumpa dengannya.

“Saya kedatangan tamu agung Raden Utara”, kata Jagal Walekas membuka pembicaraan saat sudah duduk di rumah Jagal Walekas. ” Selamat datang Raden, salam hormat saya untuk Raden Utara”
” Salammu sudah aku terima Jagal Walekas, restuku untukmu selalu”, jawab Raden Utara.
” Maaf, ada keperluan apa kok malam2 datang ke gubuk kami Raden?’, tanya Jagal Walekas.

” Jagal Walekas, aku datang bersama Brahmana Kangka dan punggawa2, ada perlu penting datang ke rumahmu”, kata Raden Utara. Brahmana Kangka diam, juga punggawa2. Mereka serahkan masalah ini pimpian mereka, kepada Utara dan hanya bicara jika diminta. Begitulah sikap anak buah yang baik.
” Apakah kamu punya anak buah bernama Jagal Bilawa?” Tanya Utara selanjutnya.

” Benar Raden”, jawab Jagal Walekas.
” Tolong panggil dia ke sini, aku ada perlu”, kata Raden Utara.
Jagal Walekas ter-gopoh2 ke belakang rumahnya, menemui Jagal Bilawa yang sedang beristirahat di depan rumah. Jagal Bilawa lalu diajak menemui Raden Utara.

” Oh, ini Jagal Bilawa?” Tanya Utara sambil memandangi jagal itu dari kaki – kepala, setelah Jagal Bilawa datang . Badannya besar dan nampak kuat, cocok sebagai jago Prabu Matswapati, kata Utara dalam hati.
” Jagal Bilawa”, kata Raden Utara ke Jagal Bilawa. ” Kedatanganku ada perlu denganmu. Kini tenagamu diperlukan negara oleh rajamu, Prabu Matswapati.

Utara menceritakan kedatangannya cari jago yang akan diadu dengan jago Patih Kicakarupa : Rajamala.
” Apakah kamu bersedia Jagal Bilawa?” Kata Utara, setelah bercerita secukupnya.
” Prabu Matswapati akan memberi hadiah besar jika bersedia dan bisa mengalahkan Rajamala”.
” Hmm, bukan soal hadiah”, jawab Jagal Bilawa.

” Aku sudah tenteram kerja sebagai jagal di sini. Yang paduka sampaikan itu  masalah keluarga kerajaan, kata orang itu masalah politik. Aku tidak mau ikut2an masalah ini”, sambungnya.
” Kalau ada orang mau mendongkel kewibawaan rajamu apa kamu mau diam?”, tanya Utara.
” Seperti saya katakan, itu masalah keluarga, internal istana. Jadi saya jangan diikutkan”, jawabnya.

” Hmm, jadi kamu tidak mau?”, tanya Utara.
” Ya benar”, jawab Jagal Bilawa.
” Kalau diperlukan negara, kamu tidak mau. Lebih baik pergilah meninggalkan Wirata ini Jagal Bilawa!”, kata Utara yang mulai menunjukkan kemarahannya.

” Raden Utara”, Brahmana Kangka menggamit Utara.
” Bolehkan saya bicara dengan Jagal Bilawa?”, tanyanya berbisik di telinganya.
” Ya ya, silahkan”, jawab Utara.
” Jagal Bilawa”, kata Brahmana Kangka ke Jagal Bilawa. Matanya memandang mata Jagal Bilawa.
” Apakah kamu kenal aku?” Tanya Brahmana Kangka.
” Ya, aku mengenalmu. Kamu brahmana di istana Wirata. Kita sering ketemu kalau aku mengantar daging ke istana Wiarata”, jawab Jagal Bilawa.
” Baguslah kalau kamu mengenalku”, kata Brahmana Kangka.
” Sebagai brahmana, aku perlu menasehatimu, ” Persoalan di Wirata ini masalah internal keluarga kerajaan, masalah politik. Namun perlu kamu tahu. Prabu Matswapati itu raja yang sah, sebab dia mewarisi dari ortunya, kakeknya, leluhurnya. Patih Kicakarupa bukan pewaris tahta kerajaan Wiarata. Apa kamu mau diam saja kalau rajamu yang sah didongkel orang?” Tanyanya Kangka pada Jagal Bilawa.

 

Yang ditanya diam, mencerna kata-kata Brahmana Kangka dan me-nimbang2.
” Prabu Matswapati ini saudara kandung dari Dewi Durgandini”, kata Brahmana Kangka melanjutkan.
” Dewi Durgandini (Dewi Gandawati) itu istri Begawan Palasara. Mereka berputra Abiyasa yang merupakan kakek Pandawa dan Kurawa, Jagal Bilawa”. Bilawa nampak terkaget.

” Hmm… “, gumam Jagal Bilawa kemudian.
” Jadi Prabu Matswapati ini juga dihormati bukan saja oleh rakyat Wirata, juga rakyat Hastinapura Bilawa, Apa kamu rela raja agung ini diremehkan Patih Kicakarupa?” Tanya Kangka kepada Jagal Bilawa.

” Ya ya ya, aku mengerti”, kata Jagal Bilawa.
” Sekarang bagaimana ?, Apa kamu bersedia jadi jago Prabu Matswapati?” Tanya Kangka.
” Ya, aku bersedia”, jawab Bilawa, setelah agak lama me-nimbang2
” Raden Utara, mendengar, Jagal Bilawa bersedia jadi jago Prabu Matswapati”.

” Ya ya, terima kasih Jagal Bilawa atas kesediaanmu”, kata Utara ke Jagal Bilawa.
” Ayahanda Prabu Matswapati tidak akan melupakan jasa2mu”, sambungnya.
” Kini sudah malam, silahkan istirahat. Beberapa hari ke depan, kamu siapkan dengan baik, sebab jago Patih Kicakarupa, yaitu Rajamala sakti dan tidak bisa dianggap remeh”, lanjutnya.

Utara pamint ke Jagal Walekas, Jagal Bilawa dan jagal2 lain. Sesampai di kotaraja Worata Utara melaporkan kesediaan Jagal Bilawa jadi jago Prabu Matswapati. Dia mengatakan dia yakin Jagal Bilawa tidak akan mengecewakan, sebab postur tubuhnya besar dengan otot2 kuat. Malam itu Prabu Matswapati dan kerabat Wirata tidur dengan nenyak.

Hari-hari berikutnya Jagal Bilawa tetap bekerja seperti biasa, setelah selesai kerja, baru dia berlatih olah tubuh agar bugar, kuat dan stamina meningkat. Dua hari jelang adu jago itu, di alun2 Kerajaan Wirata dibangun panggung tinggi, besar dan kuat. Panggung ini diperuntukkan laga antara jago Patih Kicakarupa, yaitu Rajamala dan jago Prabu Matswapati yakni Jagal Bilawa.

 

Panggung itu tinggi, hingga penonton bisa melihatnya, walau dari jauh. Lantai panggung terbuat dari kayu gelondongan itu di pinggirnya dikelilingi tali kuat, tujuannya agar jago yang terdesak ke pinggir tidak mudah jatuh dari panggung. Jago yang lemah yang jatuh dari panggung dan dinyatakan kalah.

 

Itupun kalau mengaku kalah. Kalau belum, pertandingan dilanjutkan. Pengakuan kalah ini hanya sah jika dilakukan yang punya jago. Sekalipun jagonya kalah atau tidak berdaya, kalau pemilik jago belum menyerah, belum bisa dikatakan kalah. Begitulah aturannya.

Ketika orang melihat panggung di alun2 Wirata, kabar akan ada adu jago itu menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Pada harinya, laki2-laki, ber-bondong2 melihat adu jago itu. Para wanita dan anak2 tidak banyak yang menonton, mereka takut melihat orang berkelahi, sebagian ngeri.

 

Takut terjadi kerusuhan, kalau tidak terima jagonya dikalahkan. Baginya lebih baik di rumah/di sawah, bekerja se-hari2 atau bertani. Bersambung Jum’at depan………; (Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP)-F

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*