RSS Feed     Twitter     Facebook

Drama menjelang kelahiran

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 27 views    Font size:

Pada bulan keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria (Luk 1:26-27).

 

Bulan Elul menurut penanggalan Ibrani kuno, berkisar bulan Agustus menurut penanggalan Masehi sekarang, yang bisa dilihat di dalam kamus Kitab Suci.

 

Pagi hari itu dikampung Nazaret terlihat asap keluar dari rumah2. Hal itu menandakan mereka sedang memasak sesuatu untuk persiapan makan atau sekedar sarapan pagi. Demikian juga yang dilakukan oleh keluarga muda yang terlihat begitu rukun penuh kasih, yang terlihat sibuk berdua di dapur.

 

Keluarga muda itu bernama Yusuf dan Maria.  Sebelumnya, mereka sepakat melakukan perjalanan jauh karena ada perintah dari penguasa Romawi. Perintah itu adalah sensus penduduk yang harus didaftar seturut mereka berasal. Sensus penduduk waktu itu berlandaskan dari pihak keturunan laki2, yang kebetulan Yusuf berasal dari keluarga dan keturunan Daud.

 

Perbincangan mereka seru, mengingat kandungan Maria yang begitu besar mendekati bulannya. Perjalanan dari Nazaret yang di Galilea ke Bethlehem yang di Yudea bukan perjalanan pendek. Paling tidak butuh berkisar tiga hari, bahkan bisa lebih. Apalagi bagi Maria yang mau tidak mau harus sering beristirahat mengingat tubuhnya  makin berat.

 

Perintah penguasa dan penjajah, yang pasti tidak bisa diabaikan. Tidak ada rasa belas kasihan atau kebijaksanaan  yang ditawarkan. Perintah adalah perintah, harga mati yang harus dituruti kalau ingin bebas dari hukuman. Pilihannya hanya satu dan tidak bisa mengelak dari kewajiban.

 

Yusuf dan Maria bukan keluarga cengeng, yang mudah mengeluh dan suka memberontak. Mereka  keluarga tulus hati, pekerja keras yang menyandarkan hidupnya pada kerahiman Allah. Mereka yakin dan percaya penyertaan Alah. dimanapun mereka berada. Mungkin mereka berpegang ungkapan : Rawe rawe rantas, malang malang putung.”

 

Setelah segala persiapan yang dibutuhkan perjalanan jauh dirasa cukup, berangkatlah Yusuf Maria ke Bethlehem. Mereka bertemu orang2 yang sibuk dengan keperluan masing2. Para tetangga juga melakukan kegiatan sensus penduduk. Ada yang searah ke Yudea, namun ada yang arahnya berbeda, sesuai garis keturunan.

 

Awalnya keluarga muda ini berjalan ber-sama2 dengan kelompok yang searah setujuan ke Yudea. Tapi lama kelamaan ada yang mendahului karena keperluan khusus. Yusuf dan Maria jelas tidak bisa berjalan cepat, beda dengan yang lain, yang tak punya beban kandungan. Yang penting “lumaku tumuju”  dan akan sampai ke tujuan pada waktunya.

 

Yusuf yang tulus hati begitu perhatian ke Maria. Segala kebutuhan Maria dia lakukan sepenuh hati. Yusuf sadar Maria adalah mutiara yang dititipkan Allah padanya. Dia bertekad dan bulat hati  mematikan ego pribadi. Hidup hanya Maria dan calon anaknya. Penyerahan diri total seorang kepala keluarga tanpa pikiran negatif. Dia harus jaga mutiara dengan hati2, tidak tergores dan tetap bercahaya cemerlang.

 

Akhirnya, sampailah mereka di kampung Bethlehem sore hari. Yang dibutuhkan saat itu cari penginapan untuk beristirahat. Badan letih berkeringat dan berdebu hanya bisa disegarkan dengan mandi.

 

Ternyata cari penginapan di musim panas bersamaan sensus penduduk tidak mudah. Kamar2 terisi oleh mereka yang datang lebih dahulu. Semua tempat sudah dijelajahi sampai petang hari, namun kamar tidak didapatkan. Perjalanan sampai ke ujung kampung dan Maria butuh istirahat.

 

Tak ada rotan, akarpun jadiah. Maria dengan senyum manis memaklumi situasi itu. Yusuf hanya senyum kecut dan bersepakat dengan Maria memasuki ruang bukit batu  kosong untuk istirahat, karena hari begitu gelap. Ruangan itu seperti lorong gua yang biasa dipakai untuk kandang domba dimusim dingin.

 

Saat itu musim panas, semua domba dibawa gembala ke padang rumput. Yusuf penuh semangat dan kasihnya, membersihkan ruangan itu. Mengumpulkan jerami bersih, ditutupi jubah untuk istirahat Maria. Menyalakan dian penerangan yang ditinggalkan gembala, agar gua itu tidak terasa gelap.

 

Kemudian Yusuf keluar dari gua dan memandang langit yang penuh bintang bertaburan. Cuaca cukup bersahabat yang membuat didalam gua hangat. Hangatnya suasana dan sasana bagi mereka berdua, yang sudah siap menerima keadaan yang harus terjadi.

 

Mereka berdua asyik mengobrol penuh kasih dan sukacita, makan malam bersama. Lalu bersepakat sang kepala keluarga harus tetap cari tempat penginapan yang lebih layak. Untuk sementara waktu Maria ditinggal sendirian agar bisa istirahat dengan santai.

 

Allah berkehendak lain!

Berkisar pukul 22.00, terdengar tangisan bayi  dalam gua yang sepi. Tak seorangpun tahu bagaimana Maria melahirkan! Anak Allah yang Mahakaya dan Mahasegalanya telah memiih tempat yang dianggap paling hina bagi manusia untuk keluar dari rahim sang ibu yang begitu suci. (Dar 03-03–03)- Sub

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code