RSS Feed     Twitter     Facebook

Pengalaman cara menulis

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 5 views    Font size:
Pengalaman cara menulis

Sekarang kita kembali ke masalah Dunia Tulis Menulis. Ini dari seorang penulis ndeso dan kampungan lagi (biar pak Dhon membacanya bisa sambil mesem). Kaya kiye tulisane : Your Dream Comes True
1-Pernahkah Anda bermimpi jadi penulis? Benarkah untuk jadi penulis harus berbakat? Keterampilan menulis bukan faktor bakat atau genetis. Menulis hubungannya potensi dari bakat yang dimiliki. Siapa pun orangnya bisa menulis asal ada kemauan, peduli, peka, dan tanggap pada persoalan2 yang terjadi.

2-Kegiatan menulis itu bagian hidup yang tak terpisah dari peradaban. Hasilnya dibutuhkan untuk menunjang kegiatan di semua aspek kehidupan, bidang akademis, sosial, politik, atau bisnis. Seorang pakar belum sah kepakarannya jika ia belum memiliki karya tulis.

3-Bagi ilmuwan, guru, dosen, pelajar atau mahasiswa, peneliti, pengamat, dan praktisi apapun, menulis artikel di media massa dan menulis buku, itu terhormat secara intelektual. Juga tulisan motivator, politisi, birokrat, militer, penegak hukum, pebisnis, pimpinan dan karyawan, pekerja sosial, dokter, notaris, dari berbagai profesi dan komunitas lain.

4-Sedahsyat apapun ide di pikiran, lebih bermakna jika dituangkan jadi tulisan. Melalui menulis,  bisa raih sukses di bidang yang ia tekuni. Tapi tak banyak orang mampu menulis yang baik dan enak dibaca.

5-Menulis itu mampu mengungkap, kreativitas memindah ide2-gagasan, pemikiran, memberi keyakinan, penjelasan, petunjuk, informasi, dan menyampaikan pengalaman2 batin, perasaan, imajinasi, impian, dan khayalan ke bentuk tulisan.

6-Kemampuan menulis dapat imbalan finansial dan non finansial. Membangun reputasi dan citra diri. Dapat mengoptimalkan fungsi kerja otak, hingga tidak cepat pikun. Menulis jadi obat penenteram jiwa.

7-Menulis itu ibadah, ber-amar ma’ruf nahi munkar dan menebar suara batin mereka yang terlupakan.  Jika penulisnya tiada, karya tulisnya jadi amal saleh. Kekuatan kata2 yang ditulis banyak orang tersentuh, tergugah kesadarannya, termotivasi jiwanya, tercerahkan pikirannya untuk bangkit, mengubah jalan hidupnya jadi lebih baik.

8-Menulis itu ilmu, ada teori dan aturan. Menulis itu seni, perlu kreativitas dan inovasi. Perlu setia terus menggali potensi diri, mendalami teknik2 pengembangan, dan semangat meningkatkan iptek. Menulis terlahir dari orang2 cerdas dan sadar, bahwa potensi dari Tuhan perlu dimanfaatkan.

9-Jika Anda ingin menjadi penulis sukses, padukan kemauan, ilmu, dan kesempatan. Jika  ketiga unsur ini berpadu, maka Anda memiliki semangat untuk terus berkarya, menjadi penulis yang diperhitungkan.

10-Banyak hal yang selama ini terpendam di diri seseorang, kelihatan terpancar begitu indah setelah dituangkan berbentuk tulisan. Ternyata, mereka bisa menulis semudah mereka ber-cakap2 dengan lisan.

11-Hal lain yang tidak kalah penting dan harus Anda pahami, tidak cukup kalau hanya tahu  ”Bagaimana cara Anda bisa jadi penulis,” Anda harus bisa menjawab pertanyaan: ”Mengapa Anda ingin jadi penulis?”

12-Menulis, itu panggilan hati nurani yang mendatangkan kenikmatan. Dengan menulis, kita temukan jati diri sebenarnya. Ketika impian jadi penulis Anda wujudkan, ada kepuasan yang dapat Anda rasakan.

13-Anda tersenyum bahagia, ketika tulisannya dimuat di majalah/koran, dipajang di  toko2 buku, dan dibaca banyak orang. Anda layak jadi orang yang patut dibanggakan. Menulis itu menyenangkan. Karena itu, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. (Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

Catatan :

Menulis itu tradisi  dan rekreasi intelektual. Dengan menulis, IPTEK bertambah, wawasan makin luas, daya analisis makin tajam. Menulis berarti berbagi info dan iptek. Diharapkan, dapat  meng-ubah dan berdampak positif bagi kehidupan individu dan keluarga. Karena  salah satu fungsi tulisan itu  mencerahkan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi orang banyak.

Dengan berbagi pengetahuan melalui tulisan, maka secara tidak langsung telah ikut berupaya mencerahkan kehidupan bangsa. Perlu disadari kemajuan bangsa, biasanya diukur dari minat baca rakyatnya dan jumlah buku yang diterbitkan.

Nah, ini masalahnya …
1-Banyak yang ingin menulis, tapi hambatan2 menghadang. Walau ide2 bagus tersimpan di pikiran, namun sulit menuangkan ke tulisan. Walau keinginan menulis kuat, tapi bingung, harus mulai dari mana.

2-Menulis itu sepele. Tapi kebanyakan orang, menulis itu sulit meski komunikasi mereka tidak ada  hambatan?  Mengapa mengungkapkan kata2 lebih mudah ketimbang tulisan? Apakah kemampuan menulis itu hanya milik orang2 berbakat, seperti melukis, menyanyi, atau berpidato? Apa rahasianya agar kita bisa lancar menulis yang ada di dalam pikiran?

3-Walau sejuta kata2 ia siapkan, karena tidak tahu cara mulainya, angan2 hanya tersimpan di pikiran. Tidak satupun tulisan diwujudkan. Karena tak mampu menyingkirkan penghambatnya. Ada pemula bersemangat menulis, ia undur diri dari dunia tulis menulis. Hanya orang2 berkemauan dan serius yang mampu merealisasikan niat menulis, jadi sebuah tulisan.

Komentar BDS :

Ada saran dan motivasi dari teman Penulis kondang. Intinya mencoba memulai menulis dan terus menulis. Ada hambatan yang harus dilawan yaitu Penyakit Malas, Membagi Waktu dan Kurang PD.
Marilah kita belajar kepada Senior Kita : al. P. Sadhono, P. Muchtar_AF, P. Sunarto_SA dan Bapak2 lain. (Bambang Dono Samekto)-FR

Komentar dari SSa :

P Sadhono, p Muchtar, ada temen dekat yang ikut gabUNG di WAG-VN. Ketika saya tanya, kok tidak  muncul tulisannya. Dia jawab, aku minder wong banyak penulis top di WAG ini. Dia justru senang menikmati postingan2nya, karena materinya bermanfaat dan sejuk dihati.

Saya bilang, sambil berguru kepada para beliau itu, kita salurkan hoby kita menulis. Bagus jelek urusan nanti, yg penting tetap menjaga keselarasan dan kententraman hati. (Soenarto SA)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*