Selingan

Simbol masuknya Islam Haroon Mosque dari Indonesia

Surya.co.id; Surabaya-Warga muslim tak perlu kuatir jika ke Thailand. Meski umat muslim Thailand ± 5% dari total penduduk, namun tidak susah cari tempat ibadah dan makanan halal. Begini cara warga Thailand menjaga keharmonisannya.

“Assalamualaikum,” sapa seorang pedagang wanita ke wartawan Surya Musahadah saat masuk kompleks masjid Haroon (Haroon Mosque), Bangkok, (15/11/17). Di samping wanita ini, ada 10 pedagang lain menjajakan makanan halal : Roti Maryam dan Roti Canai.

 

Kompleks masjid Haroon di ujung jalan Surawong perkampungan Muslim Thailand. Ini salah satu masjid terbanyak dikunjungi di Thailand dan bisa menampung 500 jemaah saat bersamaan. Di prasasti yang terpasang di area masjid tertulis, Haroon Mosque ini dibangun Toh Haroon Bafaden asal Indonesia.

 

Toh Haroon berimigrasi ke Thailand, tinggal di Ton Samrong, desa kecil di distrik Bangrak sejak awal pemerintahan Raja Rama III (1828). Ia bangun masjid untuk tempat ibadah muslim di desa itu. Awalnya masijd ini berupa kayu dengan lantai ditinggikan. Toh Haroon Bafaden jadi imam pertama masjid ini dan setelah wafat diganti putranya, Haji Muhammad Yusuf.

 

Haroon Mosque salah satu situs budaya Bangkok terdaftar di Royal Act of Islamic Mosques (194). Di kawasan masjid ada perpustakaan buku2 Islami dan kompleks makam Islam. Di Masjid ini ada tim rescue yang siap di daerah bencana. Di depan kawasan masjid, ada kampung muslim dihuni 300an  warga. Wartawan Surya sempat memasuki kawasan yang warganya asal etnis melayu.

 

Tak jauh dari Haroon Mosque, ada masjid Ban Oou dibangun (1912). Masjid Ban Oou ini di ujung jalan Charoen Krung distrik Bangrak. Di prasasti dijelaskan, masa Raja Rama VI memberi sebidang tanah untuk masjid dan pemakaman umum Muslim. Masjid ini juga ditetapkan sebagai situs budaya di Bangkok.

 

Di depan masjid, ada pasar kecil bisa untuk umat muslim : Ikan, ayam dan sapi. Rumah2 makan halal mudah ditemui. Direktur Tourism Authority of Thailand untuk Indonesia, Busakorn Promannot mengungkap, wisata di Thailand kini ramah muslim. Ada aplikasi Muslim Friendly Destination di ponsel android. Aplikasi ini memberi info waktu salat serta panduan menemukan lokasi masjid via GPS.

 

Di Thailand juga ada hotel dan restoran yang bersertifikat hotel. Di antaranya Hotel Al Meroz hanya bermenu halal di restorannya. Tiap kamar hotel dilengkapi arah kiblat dan ada Mukena-sajadah. “Meski kami bukan mayoritas muslim, kami tunjukkan bahwa kami ramah dengan muslim” katanya.

Bagaimana umat muslim bisa hidup dan berkembang di Thailand?

Toleransi antar umat beragama di Thailand tinggi. Terlihat di kawasan Charoen Krung. Selain Masjid Ban Oou dan Haroon, di tempat ini juga ada tempat2 ibadah yang berdekatan. Sekitar 50 meter dari Masjid Ban Oou ada tempat ibadah agama Buddha (klenteng) kokoh di sudut Jalan Charoen Krung. Klenteng Jeal Eng beal ini menandai masuknya komunitas Tionghoa di Thailand.

 

Bangunan klenteng ini tak beda jauh dengan klenteng Indonesia dengan ornament2 naga didominasi  merah-kuning. Umat Budha kerap ritual melemparkan kayu bertulis angka2. Tiap angka dijelaskan  ramalan yang terjadi seminggu ke depan. Jika angka itu berisi keberuntungan, maka Jemaah  menyimpan di dompet. Jika kesialan, maka kertas dengan penjelasan angka itu digantung di pohon.

 

“Masyarakat Budha yakin hal ini, ada yang tiap minggu ke sini berdoa dan baca peruntungannya,” terang Suree Pongnopparat, pemandu saya selama di Thailand. 200 meter dari masjid, berdiri kuil buddha Wat Suanpoo, yang di dalamnya ada sekolah dasar. Lalu, 100 meter di depan kompleks sekolah katolik yang bergengsi. Ada Katedral yang dibangun tahun 2000 dengan kompleks sekolahnya.

 

Meski berdekatan tidak pernah terjadi gesekan. “Mereka berprinsip, agama itu kebebasan masing2 dan harus dibedakan dengan masalah bisnis,” katanya.

 

Dengan dasar saling menghargai ini, tidak heran jika ada kebiasaan jika ada warga muslim yang ingin menyantap makanan berbahan dasar babi, maka umat budha atau katolik mengingatkannya. Ini sesuai nama distrik ini Bangrak, Bang artinya tanah dan Rak berarti Cinta. “Di sini kami hidup berdampingan berdasar cinta,” katanya. (musahadah)

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://surabaya.tribunnews.com/2017/11/23/haroon-mosque-simbol-masuknya-islam-dari-indonesia-yang-masih-berdiri-kokoh)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close