RSS Feed     Twitter     Facebook

Wayang-Gatutkaca (36)-Senapati Dadakan

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 3 views    Font size:
Wayang-Gatutkaca (36)-Senapati Dadakan

Karena Utara diam, sementara dari kejauhan terdengar sorak sorai pasukan Trigarta dan Hastinapura yang mulai bisa mendesak pasukan Wirata. Tiba2 secepat kilat Wrehatnala mengangkat tubuh Utara dan mendudukkannya di kursi sais kereta, Wrehatnala meloncat dan duduk di kursi senopati.

Utara terkesiap. Kaget dengan kecepatan gerak Wrehatnala. Dalam hatinya berkata, Wrehatnala bukan orang sembarangan dan tidak bermaksud jahat. Maka dia menuruti perintah Wrehatnala. Kini dia harus mengakui mulai saat itu Wrehatnala jadi senapati / panglima perang dadakan, tanpa direncanakan.

Wrehatnala memerintahkan Utara memacu kereta perangnya bukan ke arah pasukan yang bertempur, namun ke jalan menuju hutan. Di pinggir hutan itu Wrehatnala memerintahkan Utara menghentikan keretanya. Wrehatnala lalu berlari ke dalam hutan. Utara mengikuti dari belakang. Di dalam hutan itu, Wrehatnala lalu masuk ke dalam gua gelap.

 

Di gua dia ambil bungkusan kain putih yang tergantung di atas gua dan bentuknya serupa pocongan. Itu bungkusan berbagai senjata. Wrehatnala lalu ambil senjata2 yang diperlukan, mengembalikan bungkusan itu ke tempat semula dan segera keluar dari sana. Bersama Utara menuju medan perang.

Di kereta perang dengan sais Utara, Wrehatnala mengamuk di medan pertempuran. Utara ikut kesetanan mengendarai kereta perang itu, sambil berteriak menyemangati pasukannya. Debu beterbangan memenuhi medan yang saat itu tanahnya kering karena musim kemarau.

 

Debu itu makin tebal dan menutupi pandangan yang berperang, sehingga mereka tidak tahu siapa yang mengamuk itu. Pasukan Wirata tahunya Raden Utara yang memimpin karena suara teriakan2nya menyemangati pasukan, telah dikenal oleh pasukan Wirata.

Wrehatnala mengeluarkan pusaka panah sakti. Ketika gendewa dipentangkan dan anak panah dilepas, anak panah meluncur ke atas, dan di atas anak panah itu beranak, 1 jadi 2, dua jadi 4, empat jadi 8 dst, maka ada ribuan anak panah terluncur ke pasukan musuh. Selain itu Wrehatnala juga meluncurkan anak panah lain. Anak panah ini meluncur ke arah musuh.

 

Setelah mengenai musuh, anak panah tidak terjatuh ke tanah, namun bergerak ke musuh2 lain seperti ada mesinnya. Maka pasukan musuh berjatuhan satu persatu terkena dua jenis anak panah itu. Pasukan Wirata dapat angin segar, dapat semangat bertempur, mereka mengamuk se-jadi2nya.

Kini pasukan musuh yang sebelumnya bersorak sorai, kewalahan dan bergerak mundur. Bahkan Prabu Susarma dari negara Trigarta gugur. Adipati Karna sebagai senopati atau panglima perang dari pihak Hastinapura mencari sosok yang memporak porandakan pasukan Trigarta dan Hastina itu dan berusaha menghentikannya, namun langkahnya terhalang oleh pasukan dari kedua belah pihak.

 

Pandangannya juga terhalang debu beterbangan dan menjadikan langit gelap. Selain itu sosok yang mengamuk dari pihak Wirata itu bergerak terus dengan kereta perangnya. Adipati Karna tidak berhasil mendekati / menangkap sosok itu yang adalah Wrehatnala dengan Utara sebagai saisnya.

Hari mulai senja, matahari terbenam dan sesuai aturan perang di jaman wayang, maka pertempuran harus diakhiri dan bisa dilanjutkan esok harinya. Tidak diijinkan perang di malam hari. Ketika pasukan Hastinapura berkumpul. Prabu Duryudana memeriksa kelengkapan pasukan, banyak bala tentaranya tewas, belum yang terluka. Misinya gagal.

 

Menduduki Wirata tak berhasil, mencari dan menangkap pandawa yang saat itu masa penyamaran juga gagal. Karena hari itu terakhir masa penyamaran. Artinya esok, kerajaan Indraprasta yang 13 tahun dia pegang, harus diserahkan ke pandawa. Yang lebih menakutkan, pandawa akan minta hak mereka atas negara Hastinapura yang jadi haknya dan selama ini dikukuhi kurawa.

Melihat itu, ditambah gugurnya Prabu Susarma, Prabu Duryudana memutuskan mundur dari peperangan dan kembali dengan pasukannya ke Hastinapura. Ada yang mengenal sosok yang memporak porandakan pasukan Trigarta dan Hastinapura itu walau dia tidak ikut bertempur, hanya di belakang pasukan, mendampingi Prabu Duryudana. Dia Pandita Durna.

 

Dia kenal anak panah yang berubah ribuan itu, serta mengenal pemilik panah yang berkemampuan demikian. Namun dia diam, sebab dia anggap yang dilakukan sosok itu benar. Itu tindakan seorang kesatria mempertahankan negara yang mau dijajah oleh kese-wenang2an.

Hari gelap. Utara dan Wrehatnala mengumpulkan pasukan Wirata dan diajak pulang ke istana Wirata. Pasukan yang tewas, terluka dan sakit dirawat, semua dibawa ke rumah sakit di kota Wirata. Proses mengumpulkan pasukan dan menangani yang sakit dan tewas makan waktu lama, sampai malam.

Sejak pagi, Prabu Maswapati berada di istana bersama istri, putri yang didampingi Emban atau Dayang Salindri. Kerabat istana juga ada, juga Brahmana Kangka. Jagal Bilawa diminta ber-jaga2 di sekitar istana, jangan sampai ada musuh menyusup dan berjaga seandainya kemungkinan terburuk terjadi, yaitu pasukan Wirata bisa dikalahkan pasukan musuh. Dia bersama yang lain membentengi istana.

Prabu Matswapati dan kerabat istana memantau perkembangan perang dari istana. Karena waktunya lama dan tidak tahu kapan berakhir, di ruangan itu tersedia makanan dan minuman, walau mereka makan sedikit, sebab suasana hati jelas tidak enak dibawa makan.

Saat senja menjelang, kabar kemenangan pasukan Wirata tersebar dan ada yang lapor ke Prabu Matswapati. Prabu Matswapati gembira mendengarnya yang mengusir pasukan musuh dari negaranya, kabarnya Prabu Susarma tewas. Yang berada di ruangan itu semua gembira mendengar berita itu.

” Luar biasa pasukan Wirata. Luar biasa Utara yang bisa memimpin dan mengalahkan musuh”, kata Prabu Matswapati ber-api2, saking gembiranya.
” Mohon maaf sinuwun”, kata Brahmana Kangka menyela.
” Yang berhasil memimpin dan mengalahkan musuh itu bukan Rd Utara, tapi Wrehatnala”, sambungnya.

” Kamu bicara apa Brahmana Kangka?”, kata Prabu Matswapati marah dengar kata Brahmana Kangka. Yang memimpin jelas Rd Utara, Wrehatnala hanya banci, guru tari, lumayan bisa jadi sair kereta perang.
” Ya betul, yang berhasil memimpin dan mengalahkan musuh itu Wrehatnala”, jawab Brahmana Kangka.

Prabu Matswapati tidak bisa menahan amarah, diambilnya sendok nasi di depannya dan dilemparkan ke wajah Brahmana Kangka dengan geram. Lemparan itu mengenai dahinya. Seketika dahi Brahmana Kangka terluka dan darah segar mengucur. Dayang Salindri yang berada di ruangan itu segera menghampiri Brahmana Kangka.

 

Dia cepat2 membersihkan darah yang mengalir, menempelkan sapu tangan miliknya di luka itu dan minta Brahmana Kangka menahan dengan tangannya. Dayang salindri berlari ke dapur dan segera meracik obat untuk mengobati luka Brahmana Kangka. Dia datang dan memborehkan ramua obat itu ke luka Brahmana Kangka. Tidak ada kata yang terucap.

 

Namun tanpa disadarinya, air matanya menitik, meleleh dan membasahi pipinya. Kini air mata itu terasa justru semakin membanjir mengalir. Brahmana Kangka juga tiba2 merasa air matanya menetes. Bukan karena menahan sakit, namun kesetrum melihat membanjirnya air mata Dayang Salindri yang tulus menolong dan mengobati lukanya.

Setelah sekian lama ditunggu, Raden Utara didampingi Wrehatnala sampai di istana Wiarata. Mereka menghadap Prabu Matswapati yang menunggunya.
” Luar biasa anakku Utara”, kata Prabu Matswapati yang segera memeluk dan merangkul Raden Utara.
” Aku sangat bangga padamu berhasil memimpin dan mengalahkan musuh dari Trigarta dan Hastinapura”, sambungnya sambil tetap memeluk Rd Utara. Semua menyaksikan dengan sukacita.
Raden Utara melepaskan pelukan ayahandanya, dia berlutut di depan Prabu Matswapati.
” Mohon ampun Ramanda, yang mengalahkan dan mengusir musuh bukan hamba”, katanya.
” Apa?”, kata Prabu Matswapati. Mulutnya ternganga.

Raden Utara ingat kejadian sejak dia siapkan kereta perang, tak menemukan saisnya sebab telah gugur. Dayang Salindri mengatakan Wrehatnala bisa jadi kusir kereta perang. Wrehatnala jadi sais. Lalu Utara takut menghadapi musuh. Dia dipaksa Wrehatnala berganti posisi.

 

Kemudian Wrehatnala mengamuk dan mengeluarkan pusaka sakti. Sampai di situ Utara yang yakin kemampuan Wrehatnala dan yakin di bukan orang sembarangan belum tanya identitas Wrehatnala sesungguhnya dan apa maunya.

Setelah perang berakhir dan Wirata menang, baru Utara tanya ke Wrehatnala. Sambil berdua menaiki kereta perang namun dengan suasana santai dan Wrehatnala kini duduk di kursi sais, Utara di kursi senopati perang kembali, seperti ketika mereka meninggalkan istana Wirata.

” Siapakah kamu Wrehatnala dan apa maumu? Aku yakin kamu tidak bermaksud jelek. Aku yakin kamu diutus dewa untuk melindungi Warata”, kata Utara.
” Mohon ampun Raden Utara”, jawab Wrehatnala lirih.
“Hamba Arjuna menyamar selama setahun di kerajaan Wirata. Hamba terpaksa jadi banci agar tidak diketahui intelijen dari Hastinapura yang tiap saat cari dan membuka kedok kami”, jawab Wrehatnala.
Betapa gembiranya Raden Utara, yang menolong cucu sendiri. Dia memeluk Arjuna dan tak henti2nya mengucapkan terima kasih.

” Lalu di mana saudara2mu pandawa : Puntadewa, Bima, Nakula, Sadewa dan Drupadi?”, tanya Utara.
” Atas doa restu paduka mereka selamat tidak kurang suatu apa”, jawab Arjuna. Dia ceritakan para pandawa menyamar di kerajaan Wiarata setahun dan tidak diketahui keberadaanya oleh para kurawa.

Di ruang istana itu Raden Utara berlutut dan memeluk kaki Prabu Matswapati. Dia menahan air matanya yang mau tumpah, mengingat kisah dan jasa Arjuna dan para pandawa lainnya.
” Jadi siapa yang mengalahkan musuh, Utara?”, tanya Prabu Matswapati ke Raden Utara. Apakah benar sesuai informasi dari Brahmana Kangka? Begitu katanya dalam hati.

” Wrehatnala Ramanda”, jawab Raden Utara. Tak terasa air matanya menitik, walau telah ditahannya.
” Tidak mengapa bukan kamu Utara. Yang penting musuh bisa dikalahkan dan dihalau. Tidak kebayang kalau negara kita jadi negara jajahan”, kata Prabu Matswapati. Raden Utara mengangguk, mengiyakan.
” Lalu siapa Wrehatnala itu Utara?”, tanyanya kepada Raden Utara.

” Mohon ampun Ramanda. Lebih baik Ramanda tanya kepada Wrehatnala”, jawab Raden Utara.
” Hmm, ya ya ya”, katanya. Pandangannya tertuju pada Kandi Wrehatnala. Yang dipandang menunduk.
” Wrehatnala”, katanya.
” Aku berterima kasih atas pertolonganmu pada Wiarata”, sambungnya.

” Kamu pasti bukan banci dan sekedar guru tari. Siapa kamu?”.
Wrehatnala lalu maju dan bersujud di depan Prabu Matswapati.
” Hamba Arjuna Eyang”, jawab Wrehatnala.
“Aduh Ngger!”, kata Prabu Matswapati tak menyangka dia yang selama ini lemah lembut sebagai banci, guru tari, ternyata Arjuna. Prabu Matswapati memeluk Arjuna. Perasaan hatinya campur aduk, antara gembira, kasihan, rasa bersalah dan macam2 perasaan lain. Air matanya tumpah seketika.

” Terima kasih banyak Ngger”, sambungnya.
” Saya tahu kamu pasti sedang dalam penyamaran. Di mana saudara2mu para pandawa?”, tanyanya setelah rasa harunya mereda dan melepaskan rangkulannya.

Arjuna belum menjawab. Tak terasa air matanya meleleh. Kini pandanganya menyapu menglilingi ruang itu, seakan ada yang dia cari. Tanpa dikomando, semua mata di ruangan itu mengikuti arah pandangan mata Arjuna. Bersambung Jum’at depan……….. (Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*