RSS Feed     Twitter     Facebook

Wayang-Gatutkaca(35)-Bela Pati

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 2 views    Font size:
Wayang-Gatutkaca(35)-Bela Pati

Para prajutit itu menggotong Rajamala penuh semangat. ” Satu dua tiga empat, 1-2-3-4″, teriak mereka menyemangat. Makin dekat dengan sendang, langkah mereka jadi makin kompak dan semangat, bahkan setengah berlari, makin cepat. Mendekati ujung sendang mereka seperti berlari.

 

Di ujung sendang, selangkah jelang bibir sendang, mereka lemparkan Rajamala ke sendang”. Tahan”, tiba2 Kicakarupa teriak, karena mencium gelagat tak baik. Air sendang itu seperti mendidih, panas. Permukaannya mengeluarkan uap, persis seperti air direbus. Namun terlambat, tubuh Rajamala melayang ke sendang.

Byur. Tubuh Rajamala terhempas, dia terbangun dan teriak keras. Tubuhnya meng-gelepar2 seperti direbus dan mati. Saat tubuhnya di sendang sangat panas. Maka Rajamala terbangun kesakitan. Namun tubuhnya dimakan panasnya air sendang itu.

Kicakarupa dan Rupakica sedih, marah campur aduk. Pasti terjadi sebelum ini, pikirnya. ” Prajurit. Tadi apa ada yang ke sendang ini?”. Tangannya meng-guncang2 pundak prajurit di dekatnya. ” Ti, tidak ada sinuwun”, kata prajurit itu ter-bata2.
“Ingat2 tadi siapa yang ke sendang ini?” Hardik Patih Kicakarupa, sambil pegang leher baju prajurit itu.

” Tidak ada sinuwun, hanya dayang ambil air”, kata prajurit itu.
“Hrrrrkkhhh”. Gigi Kicakarupa gemeretak. Dia curiga dayang itu. Ingin rasanya memanggil dayang itu dan tanya kenapa ke sendang. Apa iya bertujuan tidak baik ke sendang? Pikirannya jadi ragu2

” Kurang ajar Jagal Bilawa”, kubunuh engkau. Teriak Patih Kicakarupa. Dia mengajak adiknya, Rupakica dan prajurit2nya untuk membunuh Jagal Bilawa. Kehilangan jagonya, Rajamala, membuat Kicakarupa dan Rupakica marah ke Jagal Bilawa. Tak menyangka ada yang mengalahkan Rajamala, apalagi yang mengalahkan jagal.

Berita matinya Rajamala menyebar ke semua penjuru. Ada yang kaget, senang dan ada pula yang sedih. Prabu Matswapati dan putra putrinya, Jagal Bilawa, Brahmana Kangka gembira. Kegembiraan itu tak lama, Partih Kicakarupa dan Rupakenca datang dengan pasukannya, menyerang Jagal Bilawa.

 

Jagal Bilawa siap menghadapinya, kini terjadi pertempuran antara Jagal BIlawa – Kicakarupa dan Rupakenca. Prajurit yang ingin menyerang Jagal Bilawa, disambut prajurit yang setia kepada Prabu Matswapati. Maka pertempuran antara kedua kubu seru.

Sekalipun berdua mengeroyok, namun Patih Kicakarupa-Rupakenca bukan lawan sebanding dengan Jagal Bilawa. Lama kelamaan mereka terdesak dan diminta menyerah oleh Jagal Bilawa. Mereka tidak mau. Mereka akan dituduh pemberontak dan akan dihukum mati juga, pikirnya. Mereka menyerang Jagal Bilawa sekuat tenaga. Akhirnya Jagal Bilawa membunuh mereka berdua.

Mendengar Kicakarupa-Rupakica terbunuh, saudara mereka Setatama dan Gandawana belapati membela saudara2nya. Setatama dan Gandawana tewas melawan Jagal Abilawa. Saudara ya tetap saudara. Kelak ketika suasana damai, Prabu Matswapati mengangkat Arya Nirbita, putra Setatama yang lahir dari istri Dewi Kuwari, jadi patih yang baru.

Ketika Rajamala, Kicakarupa dan Rupakica terbunuh, ada anak buahnya yang setia melapor ke raja sahabat dari ketiga orang itu, yaitu Prabu Susarma dari negara Trigarta. Merekanlapor dan membubuhi cerita, bahwa negara Wirata sangat lemah, maka itulah saat yang tepat untuk menyerang Wirata.

Ketika ditanya kalau lemah, kenapa bertiga bisa terbunuh? Anak buah Kicarupa itu mengatakan  Rajamala, Kicakarupa dan Rupakica mati berkelahi dengan jagal bukan dalam peperangan. Membunuh jagal itu bisa dengan berbagai cara, bertempur jarak jauh agar tidak bertemu fisik, misal memanahnya.

Jawaban itu masuk akal Prabu Susarma dan dia membujuk Prabu Duryudana (Hastinapura) menyerbu Wirata. Prabu Duryudana setuju ajakan itu dengan tiga alasan. Pertama “tetunggul” atau orang yang diandalkan di Wirata sudah mati 3 orang, kini tinggal Prabu Matswapati, Utara dan Wratsangka, karena anak tertuanya Seta lebih senang hidup sebagai pertama dan tidak senang politik dan kekuasaan.

 

Kedua keberhasilan mengalahkan Wirata akan meluaskan jajahannya. Mereka lupa raja Wirata saat itu saudara kandung Dewi Durgandini yang ibu dari Begawan Abiyasa, kakek mereka. Jadi raja Wirata itu kerabat dekat, ortu mereka yang harusnya dihormati.

 

Alasan ketiga, penyerangan itu untuk cari para pandawa yang dalam masa penyamaran setahun di Wirata. Sudah hampir setahun prajurit2 dan “telik sandi” alias intelijen mencarinya di Wirata gak ketemu. Jika tertangkap, maka mereka kembali menjalani masa pembuangan 12 tahun dan masa penyamaran setahun kembali. Itu sesuai perjanjian ketika main dadu sekian tahun lalu.

Mereka, Prabu Susarma dan Prabu Duryudana menyiapkan pasukan untuk menyerbu Wiarata. Akhirnya pasukan Trigarta dan pasukan Hatinapura jadi menyerang Wirata. Pasukan Wirata bersiap menghadapi serangan ini. Putra Prabu Matswapati, Utara memimpin pasukan Wirata menghadapi Trigarta dan Hastina. Kedua pasukan berperang di luar istana Wirata dan perang seimbang.

 

Namun lama2 pasukan Wirata terdesak, sebab pasukan dari Hastinapura berdatangan terus, sehingga jumlahnya makin banyak dan makin banyak. Utara lari pulang ke istana Wirata, pimpinan pasukan diserahkan ke anak buah yang dipercaya. Utara pulang untuk mengambil kereta perang.

 

Ketika kereta dan kuda disiapkan baru disadari tidak ada kusir kereta. Tentu kusir bukan sembarang kusir, karena kereta itu khusus untuk perang, maka kusirnya harus kusir kereta perang juga dan saat itu tidak ada, karena perang telah mati dalam peperangan. Utara menjadi bingung.

Saat itu Kandi Wrehatnala menawarkan jadi kusir kereta itu. Utara tidak mau seorang banci bisa mengusiri kereta perang. Wrehatnala menjelaskan dulu dia pernah kerja untuk Arjuna putra pandawa jadi kusir/sais kereta perang. Utara setuju dikusiri Wrehatnala, banci guru tari di istana Wiarta itu.

Wrehatnala memacu kereta perangnya ke medan laga. Begitu keluar dari istana, Utara memerintahkan Wrehatnala ke tempat yang agak tinggi dan berhenti di untuk melihat situasi perang. Dari kejauhan dan ketinggian itu, mereka lihat pasukan musuh banyak, jauh lebih banyak dari pasukan Wirata. Hati Utara  ciut, takut. Dia diam, ragu.

Sekian lama terdiam, sampai Wrehatnala menegurnya.
” Raden, ayo kita maju ke medan perang, kasihan pasukan Wirata tidak ada yang memimpin, yang mengomando, yang melindungi”, kata Wrehatnala.

” Wrehatnala, saya berfikir realistis, pasukan Wirata tak akan menang lawan pasukan musuh yang jauh lebih besar”, kata Utara.
” Bagaimana pasukan Wirata? Mereka perlu didorong agar bersemangat bertempur. Kasihan mereka Raden Utara”, kata Wrehatnala.

” Aku tidak mau. Ayo kita ke istana Wirata dan lapor ke Ayahanda Prabu Matswapati”, jawab Utara.
” Raden, harusnya kita malu kalau harus menghindari berperang”, kata Wrehatnala lagi.
” Kamu banci, kusir, tidak perlu menggurui aku!”, kata Utara, nadanya meninggi.
” Kalau Raden takut, bagaimana kalau kita tukar posisi, saya di depan sebagai senopati dan Raden sebagai kusir?”, kata Wrehatnala.
” Kamu jangan menghina aku Wrehatnala”.
” Raden, waktunya tidak banyak, pasukan Wirata semakin terdesak. Cepatlah ambil keputusan”.

Utara tak menjawab. Menjadi senopati, menghadapi musuh hatinya ciut. Mau jadi kusirnya Wrehatnala dan menjadikannya Senopati atau panglima perang jelas tak mungkin. Ini menjatuhkan martabatnya sebagai putra kerajaan Wirata. (Bersambung Jum’at depan…..(Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*