RSS Feed     Twitter     Facebook

Arsip Lama 3: Kebun Jelatang (FE 080)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 7 views    Font size:
Arsip Lama 3: Kebun Jelatang (FE 080)

Kami tidak bisa ber-lama2 di Pura dan segera pamit melanjutkan perjalanan. Saya membawa ransel punggung, khusus untuk pendaki. Alas tidur saya gulung dan selipkan pada ransel. Yang luar biasa hebat adalah para pemandu sekaligus Sherpa.

 

Mereka membawa ransel depan belakang dengan entengnya mendaki. Kebanyakan mereka memakai sandal gunung. Mereka selain membawa perlengkapan masak, tenda serta perbekalan pribadi mereka sendiri. Yang paling ringan adalah pasangan suami-istri, mereka sewa Sherpa khusus pembawa ransel, jadi mereka melenggang hanya membawa tongkat.

 

Saya adalah peserta yang paling tua, sedang putri salah satu peserta yang paling muda. Anggauta yang lain sekitar 30 – 40 tahun, kecuali Pengusaha sekitar 50 tahun, sedang istrinya masih muda, dibawah 40 tahun.

 

Jalan menanjak terus, bagi saya tidak ada jalan, karena jalan atau bukan jalan tampaknya sama saja. Entah bagaimana mereka menandai jalan. Kadang2 tatkala menunduk cari jalan, tiba2 pohon besar didepan mata, terpaksa melingkar. Bila ada pohon besar tumbang, itu seolah jalan toll, kami meniti batang pohon yang diameternya lebih dari setengah meter, dengan nyaman.

 

Sepatu hiking disini sangat bermanfaat, sol-nya mencengkeram sehingga meniti pohon tidak licin. Kadang kami harus loncat, tentu tanpa sepatu khusus akan terpeleset. Sempat terlintas di pikiran saya, kalau batang pohon sebesar ini dibawa ke kota, jadi berapa meja panjang dan harganya pasti ber-juta2. Sayang ya, batang2 besar bergelimpangan tidak bisa dimanfaatkan.

 

Kami istirahat sebentar di Pos 1. Yang disebut Pos, serupa dangau terbuat dari balok2 kayu. Atapnya yang dari seng sudah tidak utuh lagi, ditelan usia. Biasanya di tiap Pos kami temukan mata air, tapi itupun harus turun belasan meter, untuk mengisi bekal air, sekaligus shalat. Sekalipun letih, saya berusaha keras tidak duduk dibawah, takut tidak bisa bangkit.

 

Memang nyaman sekali bila duduk diatas akar dan menyandarkan punggung ke pohon, tapi itu membuat terbuai dan sulit bangkit kembali. Kami tidak lama berhenti dan melanjutkan pendakian. Sampai di Pos 2 kembali beristirahat.

 

Di Pos 2 ini, salah satu peserta menyerah, ia tidak mampu melanjutkan perjalanan dan kembali kebawah diantar seorang penunjuk jalan dan putrinya yang menemani sang ayah. Ya, kami tidak bisa memaksa, biasanya beliau ini tangguh, mungkin kondisinya kurang sehat. Kami kehilangan tokoh yang riang, banyak canda dan tempat bertanya, karena pengetahuannya luas, seolah kamus berjalan.

 

Tiba-tiba terjadi sedikit insiden. Rombongan berhenti. Satu2nya wanita, si ibu yang riang dan kuat maju kedepan berbisik kepada pemandu. Rombongan diminta berhenti dan berdua si Ibu dan pemandu berjalan menerobos semak ke arah samping.

 

Kami semua saling berbisik, menahan tertawa. Rupanya ibu itu sudah tidak kuat kebelet, dan pemandu dengan parangnya menebas semak membuat WC darurat, menyiapkan lubang dan menitipkan golok untuk menutup kembali lubang setelah hajat.

 

Sekalipun jauh dari mana-mana, etika buang air tetap dipatuhi, kotoran sebaiknya ditutup kembali. Di gunung sangat sulit mendapatkan air, namun hampir semua pendaki, termasuk saya selalu membawa tissue gulung, jadi tidak ada masalah untuk membersihkan diri.

 

Akhirnya kami sampai di Pos 3, pohon2nya sedikit jarang. Alasnya bukan semak, tapi tanah kering. Di Pos ini pendaki harus hati2, karena banyak sekali semak Jelatang disana-sini, seolah sengaja ditanam. Lengan saya sempat tergores dan luar biasa gatal, namun atas saran teman2, saya tahan tidak digaruk, hanya diusap dengan tanah. Bersambung…….. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply