RSS Feed     Twitter     Facebook

Arsip Lama 11: Hisab (FE 088)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 32 views    Font size:
Arsip Lama 11: Hisab (FE 088)

Saya sedikit bergeser kedepan dan setelah menyampaikan salam pembuka, saya memulai mengisi acara malam diatas anjungan kapal kecil diatas laut Flores ini, kira-kira begini isi Tausyah saya,

 

“Saat ini, kalau kita belanja ke Makro, kita diminta menggesekan kartu anggauta kita di pintu masuk dan dalam sekejap sebuah pusat data, atau yang disebut data base di toko Makro itu bisa membuka kembali sejarah belanja kita sejak pertama kali belanja sampai yang terakhir belanja. Apakah kita pernah belanja pete atau jengkol? Dalam sekejab Makro menemukan berapa banyak kita belanja dan kapan.

 

Data Base Makro juga dalam hitungan detik bisa melihat kebiasaan belanja kita, setiap bulan berapa kilogram beras, terigu, minyak goreng, gula dan sebagainya. Tersimpan data bahwa kita pernah belanja petis, kapan dan berapa banyak. Makro memilki data statistik beragam barang yang pernah, sering kita beli. Kita tidak bisa mengelak, bahwa kita pernah belanja minuman keras, misalnya.

 

Dimasa depan kemajuan teknologi elektronika makin pesat. Komponen semi konduktor makin lama makin kecil ukurannya namun makin besar kapasitasnya dan makin tinggi kecepatannya. Kelak ribuan halaman data bisa disimpan dalam memori sebesar pentol korek api dan dapat dibaca dalam sepermilyar detik.

 

Saat ini dengan mengkombinasikan teknologi selular, pemilik anjing menempelkan alat pemancar pada kalung anjingnya dan pemilik bisa memonitor gerakan anjingnya dari jarak jauh. Kelak bila komponen bisa dibuat lebih kecil lagi, tidak ditempelkan, namun bahkan ditanamkan dibawah kulit hewan piaraan kita, sehingga kita bisa mengawasi dan mencatat semua gerakan hewan piaraan kita.

 

Bapak-bapak sekalian,

Semua keajaiban teknologi itu telah dicapai saat ini (saya berbicara tahun 2007). Kita tidak perlu bicara, dan tidak bisa berkilah, data membuktikan kelakuan kita. Itu semua terjadi di dunia dan dibuat oleh manusia. Manusia sendiri ada yang membuat dan menciptakan.

 

Kalau kita pakai alur logika yang sederhana, pembuat manusia tentu jauh lebih pintar dari ciptaannya. Dengan alur logika sederhana pula, sama sekali tidak ada kesulitan Allah SWT, sang pembuat manusia untuk merekam segala perbuatan manusia. Tidak ada kesulitan Allah SWT mengawasi, memonitor semua tingkah kita. Ilmu Allah sangat luas, tanpa batas, Masya Allah.

 

Kelak, manakala sangsakala ditiup dan kita dibangunkan, mulut ditutup rapat dan rekaman “belanja” kita di dunia diputar kembali, semua amal dan dosa di evaluasi  dan direkapitulasi, bobot mana yang lebih berat, mana mungkin kita berkilah? Semua mudah bagi Maha Pemilik Hari Akhir”. Percaya kepada  hari akhir adalah salah satu Rukun Iman dan adakah alasan untuk tidak percaya?

 

Saya tidak tahu apa yang sampaikan itu relevan dengan kondisi saat itu. Setelah acara ditutup sebagian kami tinggal di anjungan dan justru kita masih membahas teknologi yang saya sampaikan. Saya bersama Bapak yang putrinya ikut rombongan, yang baru saya ingat namanya pak Tri Djoko, terus ngobrol, menghabiskan malam. Ternyata ia guru di salah satu SMA, tidak heran bila pengetahuannya luas.

 

Suara gemericik air kadang menyela suara mesin kapal. Memandang kesekeliling, melihat ke segala penjuru gelap, hanya kadang2 dikejauhan nampak cahaya lampu, saya tidak tahu apakah lampu perahu nelayan atau pulau yang berpenghuni.

 

Cahaya bintang tidak cukup terang menuntun jalannya kapal, tentu jurumudi yang biasa menelusuri jalur ini, hapal dan semoga tidak tersesat. Beberapa saat saya mampu menemani pak Tri, namun kelopak mata saya mulai berat, sehingga saya pamit, masuk ke cabin……….bersambung  (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code