RSS Feed     Twitter     Facebook

Problematika Pada Pola Asuh 3 Generasi

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 13 views    Font size:
Problematika Pada Pola Asuh 3 Generasi

Setiap ortu ingin agar  anak2nya hidup bahagia, lahir-batinnya.  Walau sering bersikap tegas dan keras pada anak2nya, namun sikap itu tetap ber tujuan baik dan mulia, agar anak2nya jadi orang sukses, menjadi pemilik masa kini dan juga pemilik masa depan.

 

Tugas ortu gampang2 susah. Tidak hanya menyiapkan anak bisa jadi sarjana, lalu mendapat pekerjaan, atau jadi pebisnis sukses, tapi juga harus menyiapkan anak untuk jadi generasi penerus yang kuat (QS. An Nisa [04]:09), memiliki pasangan, dan diharapkan anak2nya kelak jadi ortu muda bertanggungjawab.

 

Anak itu cermin masa depan ortunya.  Anak berbahagia di usia dewasa, juga mempengaruhi kebahagiaan ortu yang mengasuh dan mendidiknya. Apa yang terjadi kini? Karena anak-menantu sibuk kerja, sedang di rumah tidak ada pembantu yang dipercaya mengasuh anaknya, maka anak dan menantu ini menyerahkan  perawatan dan pengasuhan anaknya kepada Eyangnya.

 

Ini disebut Sandwich Parenting. Semua keluarga sering dibikin repot, terlibat pengasuhan anak itu. Akibatnya, makin banyak Eyang jadi baby sitter. Tentu ada yang terhibur atas kehadiran cucunya, namun ada yang mengeluh karena selain bertugas jadi MC (momong cucu), merangkap jadi satpam di rumah anaknya. Muncul masalah akibat pola asuh diserahkan ke Eyangnya.

 

Bagi ortu yang merasa pernah berhasil menerapkan pola asuh pada anak2nya, maka pola asuh itu akan diulanginya lagi pada cucunya. Padahal, zaman sudah berubah. Sudah bukan lagi Zaman Yes … Zaman Yesterday. Sekarang ini sudah Zaman Now coy.

 

Tiap generasi punya pandangan, aturan, dan pola pengasuhan beda. Perbedaan nilai2 ini latar belakang konflik.  Jika pola asuh berbeda Eyangnya (generasi ke 1) dengan ayah bundanya (generasi ke 2), maka aturan yang ditetapkan di rumah bisa sia-sia, dan konflik Eyang-ayah bundanya pasti terjadi.  Akibatnya, cucu  (Generasi ke 3) jadi korbannya. Ini persoalan tanggungjawab, cinta, dan kasih sayang keluarga.

 

Sahabatku,

Konflik pola asuh antara Eyang  dengan anak atau menantunya bisa dicegah melalui kompromi dalam suasana komunikasi yang sehat dan efektif. Namun, banyak ortu2 tidak menyadari gaya hidup cucu itu berubah, sehingga kultur, adat istiadat, selera makan, cara bicara, cara mendisiplinkan, juga berbeda.

 

Apalagi jika Eyang dan menantu beda suku, agama, dan  bangsa. Perlu cara lebih khusus menanganinya. Jika Eyang kita sebut dengan Generasi ke 1, maka cucu itu Generasi ke 3, Generasi Platinum, Generasi Super Modern. Beda zaman beda iptek, kakek-neneknya masih gaptek. Ada kesenjangan keterampilan.

 

Apa peran ayah bunda bisa diganti Eyangnya? Bisa saja, tapi jangan dominan. Biarkan anak-mantu kita berlatih menyelesaikan masalahnya, dan ajari mereka memikul risikonya. Tanggung jawab kakek dan nenek  kepada cucu itu hanya sekadarnya.  Sebagai ortu masa kini, kewajiban ayah bundanya harus mampu melatih Adversity Quotient pada dirinya, juga terhadap anak2 :

 

Bagaimana cara mengatasi tantangan hidup. Tentang kegigihan, tentang ketegarannya, cara mengatasi kesulitan, dan tahan banting. Adversity ini mencakup daya juang dan daya tahan seeorang mengubah kesulitan, kesengsaraan, kemalangan dan kerepotan jadi sesuatu yang bermanfaat.  Sudah siapkah Anda hidup di Zaman Now ? (Bandung, 11/1/2018; (Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code