RSS Feed     Twitter     Facebook

Tentang Hadits (11): Pemalsuan Hadits (TA 241)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 11 views    Font size:
Tentang Hadits (11): Pemalsuan Hadits (TA 241)

Pada abad pertama Hijriah, Islam sudah meluas ke banyak wilayah. Syam (Suriah) dan Irak (17 H), Mesir (20 H), Persia (21 H), Samarkand (56 H) dan Spanyol (93 H). Para sahabat harus bertugas ke luar wilayah guna mengajarkan agama Islam ke penduduk setempat.

 

Semangat mencari hadits berkembang. Seorang sahabat yang mendengar riwayat hadits yang belum pernah didengar, merasa perlu mengunjungi sahabat lain di tempat lain. Sebaliknya, bila sahabat datang berkunjung ke sebuah kota, maka para tabiin datang menemuinya dan mendengarkan pengajaran dari mereka, juga ingin mendengar riwayat hadits dari mereka.

 

Banyak kisah2 perjalanan sahabat bahkan Tabiin ke negeri2 jauh untuk mencari dan mendengar langsung penuturan sebuah hadits yang sebelumnya belum pernah mereka dengar. Pusat2 penelitian hadits bukan hanya berada di Mekkah atau Madinah, tapi tersebar di Kufa, Basrah, Syam, Mesir.

 

Tahun2 (40an) H atau 30 tahun setelah Rasul wafat, sejarah Islam tercatat dengan tinta hitam. Tahun itu batas dimana tidak ada hadits palsu dan mulai dibuat hadits palsu. Perpecahan dalam Islam merebak, meluas sampai detik ini. Sesungguhnya bibit perpecahan mulai tumbuh saat pemerintahan Khalifah Ustman dengan pengangkatan jabatan2 yang menimbulkan pihak2 kecewa.

 

Keadaan makin tak terkendali dengan terbunuhnya Khalifah Ustman tahun 36H (656M). Pem-baiat-an Ali sebagai Khalifah bukan meredakan, namun malah memperuncing keadaan. Pada masa Ali ini, terjadi peperangan sesama pasukan Islam yang dikenal dengan perang Jamal.

 

Istri Nabi, Aisyah yang mengendarai Jamal (sebangsa Keledai) ikut terjun dalam peperangan, berseberangan dengan Ali. Menurut sejarawan korban yang tewas pada perang ini puluhan ribu jiwa, termasuk sahabat Zubair dan Talhah. (Ensiklopedi Islam , Dasuki, Hafizh Et.Al, 1994)

 

Pada tanggal 17 Ramadhan 40H, atau 24/1/661 Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh lawan politiknya. Hasan sempat menggantikan ayahnya 3 bulan, namun karena tidak rela umat Islam saling bunuh karena berebut kekuasan, ia serahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah dengan beberapa syarat.

 

Terbunuhnya Khalifah Ali perpecahan dunia Arab makin meruncing. Peperangan demi peperangan diantara sesama umat Islam makin menjadi-jadi dan menelan korban berjatuhan. Fitnah merajalela, berita palsu banyak beredar.

 

Demi kepentingan golongan dibuatlah hadits2 palsu dan orang bodoh membalas dengan hadits palsu balasan. Pembuat hadits palsu yang paling poduktif adalah golongan Syiah, diperkirakan mereka membuat sekitar 12,000 hadits palsu. ( Ilmu Hadits, Shiddieqy, Hasbi, 1974)

 

Golongan-golongan yang terpecah bisa dikelompokan dalam tiga kelompok besar, yakni golongan Ali bin Abu thalib, golongan Khawarij, yang menentang Ali dan golongan Jumhur yaitu kalangan pemerintahan saat itu. bersambung …….  (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code