RSS Feed     Twitter     Facebook

Tentang Hadits (4): Shahabat (TA 233)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 17 views    Font size:
Tentang Hadits (4): Shahabat (TA 233)

[Kata Shahabat adalah jama’ dari Shahib. Shahib, artinya yang menyertai, arti umumnya kawan atau teman yang selalu bersama dengan kita. Kata shohib sudah jadi kosa kata bahasa Indonesia, biasa dipakai sebagai bentuk tunggal dari seorang yang hubungannya melebihi sahabat.

 

Dalam ilmu hadits, shahabat itu orang yang bertemu Nabi dalam keadaan Islam, dimasa Nabi hidup dan orang itu meninggal dalam Islam. Definisi ini dipegang ketat para ulama, sehingga orang buta yang tidak pernah lihat Nabi dan dia tetap beriman sampai wafatnya seperti  Ibnu Ummi Maktum (terabadikan kisahnya di surat ‘Abasa ayat 1-4), tetap disebut shahabat.

 

Demikian pula disebut shahabat bagi semua yang hadir dalam khotbah Rasullulah di padang Arafah, saat haji Wada’, haji yang paling mengharukan para sahabat, dimana Rasul seolah berpamitan dalam haji yang terakhir yang beliau lakukan.

 

Sebaliknya, bagi Uwais al Qarni, penduduk Yaman, yang beriman, namun tak pernah bertemu Nabi karena harus mengurus ibunya yang sakit, tidak bisa disebut sahabat, ia disebut Tabi’in. Nabi tahu ke-shalehan dan baktinya kepada ibunya, berpesan kepada Ali dan Umar :

 

Agar kelak mencarinya diantara rombongan haji dari Yaman, ‘Mintalah agar dia berdoa agar Allah mengampunimu dan mengampuni semua umat Islam, karena do’anya didengar Allah’. Pesan Rasullullah ini dilaksanakan saat Umar menjadi Khalifah.

 

Juga seperti Abu Dzuaib, yang pergi dari rumahnya setelah di beriman, menjumpai Nabi dan tiba di Madinah lalu hanya melihat jenazah Nabi. Dia tidak masuk golongan shahabat. Najasi, raja Habasyah, yang saat wafatnya Nabi shalat Ghaib untuknya, sebagian ulama berpendapat dia masuk golongan shahabat bisa Tabi’in. Najasi tidak pernah bertemu muka, tapi bertukar surat dengan Nabi.

 

Diantara shahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits adalah, Abu Huraira, 5374 hadits,

Abdullah Ibn Umar bin Khattab, meriwayatkan 2603 hadits, Anas ibn Malik, meriwayatkan 2286 hadits,

Aisyah Ashshiddiqiyyah, 2210 hadits,  Abdullah ibn ‘Abbas, 1660 hadits, Jabir ibn ‘Abdullah, 1540 hadits,

Abu Sa’id Al Khudri 1120 hadits.

 

Akan halnya Abu Bakar, shahabat yang paling lama bersama Rasul namun tidak banyak hadits yang diriwayatkannya, karena beliau lebih dahulu wafat sebelum masyarakat memberi perhatian dan mencari para penghapal hadits…. Bersambung………. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code