RSS Feed     Twitter     Facebook

Berbakti kepada Orang Tua

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 65 views    Font size:
Berbakti kepada Orang Tua

Mari belajar dari kisah *Kematian pasangan suami isteri di Magelang dirumahnya tanpa diketahui orang lain ±1 minggu. Beberapa hari ini saya dapat kiriman foto dan ulasannya, tentang kematian tragis yg terjadi di wilayah Mungkid Magelang. Mayat 2 orang sepuh yg membengkak, menghitam & berair. Nlangsani banget.

 

Kebetulan kita semua Pensiunan sudah pada tua, jadi rasanya juga layak untuk ikut merenungkannya. Begini ceritanya :

 

Jenasah kakek nenek itu ditemukan beberapa hari setelah wafatnya oleh menantu dan tetangga. Tak ada yg tahu persis kapan mereka wafat. Kata polisi mungkin seminggu. Mereka meninggal tanpa kata, tanpa pamit dan yg pasti tanpa didampingi anak, menantu dan cucu2nya.

 

Pada ngapain aja anak putune?

Bukan karena mereka tak punya anak putu, namun tak ada satu pun anak yg bisa menemani dan merawat  mereka di hari2 tuanya. Anak2 mereka jadi orang sukses, tapi tinggalnya di luar kota. Lelaki  sepuh itu  meninggal dlm keadaan duduk bersandar di kursi kayu di ruang tamunya.

 

Lelaki itu se-hari2nya suami yg merawat istrinya yg stroke dan sdh tdk bisa beraktivitas apapun, kecuali berbaring di tempat tidur. Polisi memperkirakan kematian lelaki sepuh ini lebih dulu. Istrinya menyusul wafat, banyak org mengira : sang istri meninggal krn ber-hari2 tak makan minum atau beraktivitas lain, krn sang suami satu2nya ‘perawat’ lebih dulu meninggal.

 

Bisakah Anda bayangkan keadaan mereka? saat sang istri memanggil suaminya ber-kali2 dlm resah namun tak ada jawaban. Resah bukan saja karena ia merasa lapar, sakit dan tak berdaya. Namun mengkhawatirkan keadaan belahan jiwa tapi tak bisa berbuat apa2 karena badan tak lagi bisa digerakkan karena stroke yg telah menahun.

 

Suami tak bisa mengabarkan siapapun utk menggantikannya merawat istrinya. Kematian datang tanpa pemberitahuan. Begitu tiba2 dan nyata. Mereka berdua wafat di rumah yg mereka bangun. Rumah yg jadi saksi saat pernikahan mereka, saat mereka melahirkan anak demi anak. Membesarkan anak2nya, hingga akhirnya bisa merangkak perlahan, berjalan, berlari dan pergi sendiri2 menapaki jalan takdirnya.

 

Menjadi orang tua adalah jalan panjang untuk melepaskan seorang anak agar mampu menjalani kehidupan mereka sendiri, karena itulah mengapa kisah pengasuhan anak jadi rumit. Karena melibatkan berjuta ragam emosi dan kenangan. Anak2 lahir dari Rahim ibunya, membawa DNA bapaknya, besar dengan keringat dan airmata orang tuanya : namun bukan milik orang tuanya.

 

Orang tua hrs ridho melepas anaknya menjalani peran kehidupannya, suatu waktu. Bahkan saat sang anak memutuskan pergi mengembara menggapai mimpi2nya, dan bagi orang tua, berpisah dgn anak itu bukan urusan mudah.

 

Meski teknologi membuat kita bisa menatap wajah keriput mereka di layar HP, ternyata tdk ada yg bisa mengobati rindu sebaik dekapan hangat dan ketulusan cinta. Sebanyak apapun uang tak akan bisa membeli perhatian, senyuman, dukungan dan pelayanan tulus.

 

Tulisan ini bukan hendak menyalahkan si anak atau keluarganya, krn kitapun tak tahu persis apa kesulitan mereka. Saya hanya ingin menuliskan catatan untuk diri sendiri.

 

Mereka itu pintu surga yg terbuka. Berbuat baik pada mereka bahkan lebih didahulukan daripada jihad. Menafkahi mereka itu keutaamaan. Bersabar atas mereka adalah pahala yg besar dihadapan ALLAH.

 

Waktu berlalu, usia mereka bertambah, badan mereka makin lemah, kematian semakin mendekat. Bukan ttg kematian mereka, namun juga ttg jatah kematian diri kita. Adakah yg bisa menjamin bahwa kita bisa setua mereka dan punya wkt utk melanjutkan mimpi yg tak ada habisnya ?

 

Pulanglah

Seorang lelaki datang kpd Rasulullah : “Saya berbai’at kepadamu utk berhijrah dan berjihad, aku berharap pahala dari Allah.” Beliau tanya, “Apakah salah satu orang tuamu masih hidup?” Ia jawab, “Ya, bahkan keduanya masih hidup.”

 

Rasul tanya lagi, “Apakah kamu akan mencari pahala dari Allah?” Ia jawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Pulanglah kepada kedua orang tuamu lalu berbuat baiklah kepada mereka.” (HR. Muslim)

Pulanglah, ada surga yg bisa kita raih dalam bakti padanya. Pulanglah, ada berkah dan kebaikan yg besar yg akan kita dapatkan utk memperbaiki kehidupan kita sendiri.

 

Pulanglah, kesempatan terbatas dan tak bisa diulang. Sempatkanlah pulang, supaya kita bisa memohon maaf atas bakti yg tak sempurna, atas semua kedurhakaan dan belum mampunya kita membahagiakan mereka. Bener ya, jangan saampai lupa orang tua. Sayangilah mereka selagi masih ada.

 

Pulanglah, karena sampai kita menjadi orang tua bagi anak2 kita pun masih saja merepotkan mereka.

Pulanglah, untuk mengucapkan terimakasih yang tak pernah cukup …

Jika mereka sakit hari ini, sakit mereka bisa jadi karena kita anak2nya. Masa muda dan kekuatan mereka berkurang utk membesarkan kita anak-anaknya.

 

Rindu itu berat, hidup dalam sepi tanpa anak cucu di akhir masa tua itu jauh lebih berat

Tidak ada orang tua yg ingin merepotkan anak2nya. Tak ada yg ingin sakit di masa lemahnya. tak ada yg ingin berhitung budi dgn anak2nya. Mereka ikhlas. Bener2 ikhlas.

 

Bukan orang tua yg membutuhkan anak2nya. Tapi justru anak2nyalah yg seharusnya butuh orang tua. Krn sadar bahwa amal yg tak seberapa ini, dosa yg banyak ini hanya bisa lebur dgn amalan istimewa di mata ALLAH. Salah satunya adalah *berbakti pada orang tua.*

 

“Ridho Allah sangat tergantung kpd keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kpd kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

 

“Tiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dgn kehendak-Nya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kpd orang tua. Orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari, Kiamat).” [HR Bukhari]

 

Tak ada ortu sempurna namun yg pasti tiap anak berhutang pada ortunya. Bukan tentang nominal angka2 yg mereka habiskan untuk membesarkan dan mendidik kita, namun tentang cinta, ketulusan, perhatian, doa dan pegorbanan yang tak berbilang.

 

Maka, ketika seorang anak yg menggendong sang ibu bertawaf bertanya pada Ibnu Umar_“apakah aku sudah membalas baktiku pada ibuku?”

“Belum, bahkan engkau belum membalas satu tarikan nafas dan rasa sakitnya saat ia melahirkanmu”

(Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code