RSS Feed     Twitter     Facebook

Arsip Lama 12-Penyu(FE 089)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 6 views    Font size:
Arsip Lama 12-Penyu(FE 089)

Sesungguhnya permukaan dasar laut kepulauan NTT ini tetap basah dan tidak terpengaruh udara kering yang terjadi di daratan. Sesungguhnya karang dan hewan laut di perairan ini bisa tumbuh dengan subur, seperti di kawasan lainnya di tanah air. Tapi yang saya temui saat itu (2007) tinggalah bekas2nya saja.

 

Jelas di dasar laut di sini pernah tumbuh subur biota laut. Pernah tumbuh ganggang dan tumbuhan lainnya. Bekas-bekasnya jelas tampak. Pernah tumbuh karang, tapi tinggal potongan sisanya berserakan memutih. Dulu pernah banyak plankton dan tentu saja banyak ikan berwarna warni berenang-renang disela karang dan tumbuhan lainnya.

 

Sekarang semuanya habis, tinggal sisa-sisa karang memutih pada kawasan yang sangat luas. Tidak ada seekorpun ikan yang melintas. Tampak jelas kawasan ini pernah dihujani bom. Cara memperoleh ikan yang paling gampang, namun merusak mahluk laut yang lain. Sayang sekali.

 

Tiba-tiba saya melihat seekor penyu yang melintas berenang kepermukaan air. Ia tampak jinak, tapi di laut ia gesit juga dan saya tidak berhasil menangkapnya. Itu penyu pertama kali saya lihat berenang di alam bebas dan itu satu2nya mahluk laut yang saya lihat selama saya berenang disini.

 

Saya berharap kesadaran penduduk setempat makin meningkat dan membuang jauh kebiasaan mem-bom laut. Bila terumbu karang tumbuh subur, tentu banyak wisatawan yang singgah pada lalu lintas yang lumayan padat ini dan tentu memberikan penghasilan tambahan yang baik bagi mereka.

 

Ketika kemudian kapal merapat kedermaga, saya hanya ‘manut asal katut’ saja ketika diminta bergegas ke kendaraan sewaan dan langsung tancap gas menuju ke airport Bima. Kami melaju langsung menuju ke bandara, disebelah kiri kanan nampak tambak ikan bandeng. Memasuki bandara, petugas mengatakan bahwa pesawat belum datang. Alhamdulillah, kami tidak terlambat.

 

Saya juga ‘manut asal katut’ ketika diajak keluar airport dan menuju ke seberang. Kami berjalan beberapa puluh meter ke warung sederhana yang ber dinding anyaman bambu tapi ramai. Rupanya inilah ‘the real waiting room’ dari airport. Suguhannya bandeng goreng. Bumbunya sambal kecap, lalap mentimun dan disajikan panas, baru saja diangkat dari wajan. Kami makan sepuasnya. Sedap.

 

Di warung ini tidak perlu ada pengumuman boarding dll, sebab deru pesawat terdengar keras dan calon penumpang langsung dapat melihat pesawat yang akan membawa kami ke Denpasar turun mendarat. Kami semua bangkit, sudah saatnya pulang ….……….Tamat. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code