RSS Feed     Twitter     Facebook

Harun Yahya (TA 259)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 4 views    Font size:
Harun Yahya (TA 259)

Kasian pemikir Islam Harun Yahya (lahir di Turki, 1952) yang nama aslinya Adnan Oktar ini. Karena ia banyak berseberangan dengan teori-teori yang sudah mapan dari pemikir-pemikir Barat, ia memang tidak disukai dan kurang mendapatkan publikasi yang layak.

 

Alih-alih ia fokus kepada keilmuan, ia juga sibuk menangkis serangan Barat. Sebagai ilmuwan, ia pernah salah kutip namun kesalahan kecil yang kemudian ia perbaiki itu sangat di-besar2kan. Bayangkan, ia berani menjungkir balikan teori evolusi Darwin yang mapan dalam pemikiran Barat satu setengah abad

 

Ia menulis eksperimen di Laboratorium perhitungan probabilitas membuktikan, asam amino, cikal bakal kehidupan tidak dapat muncul secara kebetulan. Begitu pula sel, yang menurut anggapan evolusionis muncul secara kebetulan pada kondisi bumi primitif dan tidak terkendali, tidak dapat disintesis oleh laboratorium2 abad 20 yang paling canggih sekalipun.

 

Tidak pernah diketemukan sisa atau bukti di belahan dunia manapun satu saja mahluk “bentuk transisi” yang menunjukan evolusi bertahap organisme maju dari organisme yang lebih primitif.

 

Dalam perhitungan probabilitas yang dilakukan oleh ahli biologi muslim juga, Ali Demirsoy, 500 asam amino untuk membentuk protein dasar dari kehidupan, dalam rangkaian yang tepat dalam struktur tiga dimensi, kemungkinannya satu dibandingkan dengan 1 dengan 950 angka nol dibelakangnya !! Angka 10 pangkat 950 hanyalah angka teoritis dan diluar pemikiran manusia.

 

Harun Yahya dan pemikir2 Islam lainnya masih menemukan banyak hal yang mustahil dalam teori evolusi. Ia menambahkan asumsi Darwin bisa berkembang luas, karena pada jaman itu disiplin ilmu genetika, mikrobiologi dan bio kimia belum berkembang seperti sekarang ini.

 

Harun Yahya menolak teori Big Bang dalam penciptaan jagad raya ini. Ia tentu berhadapan dengan sebagian besar ilmuwan Barat, termasuk ilmuwan yang tidak mempercayai agama. Untuk mendukung kebenaran teori dentuman besar itu diperlukan volume nol, adanya ketiadaan, yang menurutnya hanya istilah teoritis, karena sulit untuk mendapatkan istilah matematis yang lain.

 

Secara teori untuk mengalahkan gaya gravitasi yang luar biasa besar, sehingga materi bisa muncrat ke-mana2, juga diperlukan probabilitas waktu yang muskil. Menurutnya jagad raya ini terlalu sempurna  untuk bisa diciptakan dengan kebetulan. Jangankan jagad raya, untuk membuat bumi sebagai tempat yang layak dihuni saja, diperlukan rangkaian “kebetulan” yang diluar nalar manusia.

 

Pemikir muslim, patut bersyukur, karena memiliki rambu2 berpikir yang disebutkan Al Qur’an, jadi mereka tidak berkerja tanpa dasar yang nol, mereka memiliki platform kokoh dan belum pernah terbukti kesalahannya.

 

Dalam Islam dikenal konsep Ilmu pengetahuan harus dibuktikan (burhani) kebenarannya dan diselami dengan norma dan nurani (irfani). Jadi tidak benar ilmuwan muslim hanya mampu mencocok-cocokan temuan ilmiah saja, Al Qur’an-lah menawarkan ribuan ladang pembuktian.

 

Catatan: Artikel tersebut tersusun dari berbagai buku dan sekalipun anjuran Islam menghindari  perdebatan, namun terbuka untuk masukan dan koreksi. Maaf bila tidak berkenan. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code