RSS Feed     Twitter     Facebook

Hidup Yang Penuh Makna (TA 255)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 16 views    Font size:
Hidup Yang Penuh Makna (TA 255)

“Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun”.

“…Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi pada-Ku.”.(Adz Dzaariyaat QS 51:56); Allah menciptakan jin dan manusia, tiada lain kecuali buat mengabdikan diri pada Allah. Jika seorang mengakui beriman kepada Allah, tidaklah dia mau jika hidupnya di dunia ini hampa belaka.

 

Pantang se-hari2 mulai bangun tidur, sampai malam tiba, hanya menganggur. Tap orang memiliki kesibukan sendiri2, namun tiap kesibukan hendaknya memiliki nilai ibadah, selama niatnya mengabdi kepada Sang Pencipta. Selama nyawa dikandung badan, manusia harus ingat jangan sampai waktunya kosong dari pengabdian. Seluruh hidup hendaklah dijadikan ibadah.

 

Hassan al Banna, (1906-1949), ulama terkemuka Mesir, yang wafat muda, mengatakan Islam akan jaya, bila kaum muslimin kembali pada falsafah kematian yang dituliskan Al Qur’an. Al Qur’an tidak menyebutkan khusus falsafah kematian, namun konsep Islam mengenai kematian, banyak tersebar dalam ayat2nya. Marilah kita kupas pendapat ulama termashur itu.

 

Kematian itu sebuah kepastian, yang berjiwa pasti mati (Ali Imran QS 3:185). Hidup manusia tidak serentak ber-sama2, namun bergiliran dan setelah kematian, semua menunggu di alam Barzah, tempat parkir yang tidak mengenal konsep waktu, ada yang merasa cepat dan ada pula yang merasa lambat.

 

Setelah kiamat, barulah semua dibangkitkan. Ini menunjukan konsep mengenai keadilan, karena adanya rentang waktu yang panjang dari pertama diciptakan manusia, Adam, sampai kelak manusia terakhir saat akhir jaman.

 

Islam mengajarkan konsep ada sebab dan selalu ada akibat atas amal2 perbuatan. Masakan kejahatan tidak berbalas? Bila tidak di dunia, kelak dibalas di akhirat. Sebaliknya kebaikan sekecil apapun dicatat dan pasti berbalas.

 

Konsep ini guna menyadarkan suatu saat, kita dipanggil mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama hidup yang diberi  peran dan tanggung jawab  untuk mengabdi pada Allah dan jadi khalifah dimuka bumi. Balasan amalan adalah adanya surga dan neraka, tempat ditegakkannya keadilan. Dengan demikian, kematian tidaklah pantas ditakuti.

 

Adanya kematian bukan akhir dari kehidupan , namun jadi pintu untuk kehidupan selanjutnya bagi yang meninggal dan nasihat bagi kita yang hidup . Nasihat ini juga, agar  lebih menghargai kehidupan dan mengisinya dengan baik. Falsafah dibalik konsep ini hendaknya selama jantung berdenyut manusia selalu harus mengisi hidupnya dengan nilai yang se-tinggi2nya.

 

Islam mengajarkan ilmu yang diamalkan dan disebarkan, kelak setelah kematian jadi bonus untuk kenikmatan akhirat. Dibalik konsep ini, mengandung perintah menuntut ilmu, mengamalkan dan menyebarkannya. Termasuk kewajiban menyebarkan ilmu pada anak dan keluarga terdekat. Terkait itu, Islam mengenal konsep manfaat do’a anak atas orang tuanya yang sudah wafat.

 

Dibalik konsep ini Islam menekankan pentingnya pendidikan bagi anak2, remaja dan pemuda. Letak kejayaan itu adalah bagaimana pendidikan diterapkan. Dari upaya pendidikan diharapkan lahir masyarakat yang bersemangat untuk kemajuan, bermoral dan akhlak yang tinggi. Melalui pendidikanlah konsep2 budi luhur ditanamkan dan diwariskan.

 

Hassan al Banna adalah tokoh pergerakan dan pembaharuan di Mesir, muslim yang taat, sederhana, ikhlas dan gigih berdakwah serta berjuang demi menegakan ajaran Allah SWT. Tokoh ini sempat tercatat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, ketika ia mengirimkan pesan dan selamat kepada Bung Karno, yang baru saja mengumumkan kemerdekaan Indonesia.

 

Mesir saat itu dilanda kemerosotan, menyebabkan gerakannya jadi populer dan berkembang dengan pesat. Gerakannya tidak disukai penguasa setempat dan dibubarkan. Keadaan bertambah kacau ketika Perdana Menteri Nuqrashi Pasha mati terbunuh.

 

Tujuh minggu kemudian, pada tanggal 12/2/1949, al Banna juga tewas diberondong tembakan, konon  tidak kurang dari tujuh peluru bersarang ditubuhnya. Ia sudah lama wafat, tapi ide-idenya masih tinggal hidup sampai saat ini.. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code