RSS Feed     Twitter     Facebook

Terakhir bersama pak Martono

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 66 views    Font size:
Terakhir bersama pak Martono

Ketika saya membuka Ruang 4 pavilyun Alamanda di RSUD Magelang, pak Martono tidak ada di tempat tidur pasien. Di tempat tidur yang tinggi itu, malah putri almarhum sedang tidur pulas. Pak Martono sendiri tersenyum riang menyambut saya di sofa tempat penunggu,

 

“Pak Sadhono …..”, sapa beliau, masih ingat nama saya, berarti pikirannya masih jernih. Ketika saya tanyakan mengapa malah tidur di sofa sempit yang beralas imitasi itu, “Lebih dingin …..”, jawabnya.

 

Wajahnya riang, senyumnya selalu sumringah, sekalipun surya di raut mukanya sudah tampak pudar. Badannya teramat kurus, dimakan penyakit ganas, namun badannya dan rambut hitam tebalnya tampak sangat bersih.

 

Ia memakai baju berwarna coklat berlengan pendek, sehingga nampak seperti bukan pasien. Di perutnya menempel peralatan medis dengan lampu yang berkelip-kelip, tertutup baju. Ketika ia akan menunjukannya, cepat-cepat saya cegah, tidak sampai hati saya melihat penderitaannya.

 

Saya berusaha untuk tidak banyak mengajaknya bicara, takut ia nanti kecapaian, namun justru pak Martono yang terus berbicara dengan semangat sekalipun dengan suara lirih. Ia menanyakan alamat rumah kami dan rupanya ia cukup paham dengan daerah Tempel, tahu persis ancer-ancernya..

 

Ia bercerita bahwa ayahnya dahulu lurah di desa Mertoyudan Magelang  dan kepulangannya ini dalam rangka mudik dan bertemu dengan kakaknya.

 

Dengan tabah ia bercerita sejarah sakitnya, awalnya hanya bengkak di leher, dekat telinga ternyata kemudian kanker Getah bening. Terakhir ia di operasi di Malaysia, di punggungnya, “sudah ke sumsum”, ceritanya sambil terus senyum menghiasinya.

 

Ia bercerita kakinya lemah, malah pernah jatuh. Luar biasa ketabahannya. Bu Martono nampak juga tabah, menimpali pembicaraan kami, beliau tampak ikhlas tidak khawatir dengan sakit suaminya, tapi saya tidak tahu, perasaan yang disimpan di dada beliau.

 

Ketika istri saya bertanya tentang pesantren yang diasuhnya, ia mempersilahkan singgah di Bandung. “Pak Martono, jangan banyak menggalih jangan stress. Harus tahu kapan istirahat, jangan sungkan”, saran istri saya. “Lha, itu yang sulit, untuk tidak banyak pikiran”, jawabnya tetap sambil tersenyum.

 

Saya takut menganggu waktu istirahat beliau, lalu pamitan. Tapi buru-buru dia minta bu Martono untuk mengambil foto kami. Padahal dari semula saya menjaga perasaan beliau untuk tidak mengambil gambar beliau, keadaannya yang sangat kurus, padahal saya mengenalnya beliau tinggi, tegap.

 

Allah telah memberikan kepada almarhum kondisi yang ideal untuk menjemput maut. Beliau kondisi sakit, parah lagi, namun tidak nampak kesakitan. Pikirannya masih bening, jernih, terus menyebut dan mengingat nama Allah.

 

Beliau bisa dengan tenang menjemput kematian. Subhanallah. Semoga pak Martono yang tadi pagi meninggalkan kita, berangkat dengan husnul khatimah…..

Aamiin…. Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code