RSS Feed     Twitter     Facebook

Masjid Unik bentuk Kapal Laut pertama Indonesia

Vote This Post DownVote This Post Up (+1 rating, 1 votes)
Loading...
   View : 19 views    Font size:
Masjid Unik bentuk Kapal Laut pertama Indonesia

(kompasiana.com/jumariharyadi)-Konon Masjid Al Baakhirah satu2nya dan masjid pertama di Indonesia yang bentuknya menyerupai Kapal Laut. Ini tidak terbantahkan. Meski ada masjid lain yang sering disebut masjid kapal / masjid perahu, tetapi bentuknya tidak benar2 seperti kapal.

 

Tapi masjid yang di depannya terdapat monumen atau bangunan berbentuk kapal laut. Contoh Masjid Perahu di Jalan Raya Serang no. 10, Desa Cibarusah, Bekasi, Jabar. Masjid ini tak jauh dari gerbang Perumahan Cibarusah Indah. Bentuk masjid ini kecil tidak mirip perahu. Cuma karena di depan masjid ini berdiri bangunan unik berbentuk perahu warna biru, sehingga disebut Masjid Perahu.

 

Ada lagi masjid yang di depannya ada bangunan berbentuk kapal laut ukuran besar. Itu  Masjid Agung Al-Munada Darrussalam Baiturrohman atau sering disebut Masjid Perahu. Lokasi masjid ini di antara dua sisi tower Apartemen Casablanca yang menjulang tinggi, tepatnya di gang kecil yang memiliki beberapa undakan menurun, sekira 15 m dari Jalan Raya Casablanca, Jakarta Selatan.

 

Penulis belum menemukan ada masjid lain yang bangunan masjidnya mirip kapal laut/perahu, kecuali di luar negeri, yaitu di Bakra Peri, Karachi, Pakistan. Tempat peribadatan umat muslim yang indah ini Masjid Safinah, atau dikenal dengan boat shapped. Karena bentuknya mirip kapal laut. Malam hari, masjid ini terlihat lebih cantik, karena dihiasi lampu warna-warni yang menarik.

 

Peresmian Masjid Al Baakhirah

Sejak diresmikan (24/4/2016), keberadaan Masjid Al Baakhirah menggemparkan Indonesia. Betapa tidak, masjid yang terletak di Jalan Bapak Ampi, RT 02/06, Kelurahan Baros, Kec-Cimahi Tengah, Kota Cimahi ini menyedot perhatian awak media untuk meliputnya.

 

Tidak kurang dari 15 media pernah meliput masjid unik berbentuk kapal laut ini, media cetak, daring (online), dan elektronik. Media2 : PR (Pikiran Rakyat), Bandung Ekspres, Tribun Jabar, Republik, Tempo, Galamedia, jurnalsumatra.com, islamindonesia.id, news.detik.com, inilahkoran.com, MQ TV, Trans TV, Global TV, RCTI, Net., TV One, dan CNN Indonesia.

 

Menurut Soenaryo (pengurus Masjid Al Baakhirah) keberadaan masjid unik ini tidak terlepas dari niat baik sang penggagasnya, yaitu H. Budianto (almarhum). Sebelum wafat (2002), mantan nakhoda kapal laut itu mengutarakan keinginan mendirikan masjid yang bisa digunakan bagi kepentingan warga sekitar.

 

Sekira Agustus 2015, pihak keluarga H. Budianto ingin mewujudkannya mendirikan masjid. Lalu pihak keluarga mempercayakan kepada Testa Radenta (41) -putra bungsu H. Budianto– sebagai arsitek pembangunan Masjid. Setelah selesai, masjid itu diberi nama “Al Baakhirah” yang artinya “lautan”.

 

“Ada dua alasan yang melandasi bentuk masjid ini serupa kapal laut. Pertama, karena almarhum H. Budianto cinta dunia pelayaran, kedua, karena beliau ingin meneladani kisah Nabi Nuh as yang membangun bahtera demi menyelamatkan umatnya dari banjir besar” ujarnya ketika ditemui penulis di Masjid Al Baakhirah (21/8/16).

 

Acuan pembuatan Masjid Al Baakhirah ini Kapal Motor (KM) Kerinci. Hal itu tak lepas dari sejarah perjalanan hidup H. Budianto yang membawa kapal itu pertama kalinya dari Jerman ke Indonesia.

 

“Selain Kapal Kerinci, semasa hidupnya H. Budianto pernah jadi Nakhoda Kapal Kampuna dan Kapal Tampomas II. Namun karena sejarah Kapal Kerinci begitu penting, karena merupakan kapal laut pertama untuk kerjasama Indonesia-Jerman, sehingga keluarga memilih kapal ini modelnya,“ tambah Soenaryo.

 

Delapan bulan kemudian, tepatnya (April 2016), proses pembangunan masjid yang dikerjakan 50 orang tenaga kerja ini selesai. Pihak keluarga mengadakan acara syukuran, sekaligus resmi mewakafkan tanah dan bangunan masjid ke masyarakat sekitar.

 

Tasyakur dan Penyerahan Wakaf Masjid

Masjid Al Baakhirah jadi ikon kebanggaan Kota Cimahi ini resmi untuk umum pada 24/4/2016. Saat itu keluarga besar H. Budianto mengadakan tasyakur di kediamannya, Jalan Kebon Sari 157, Kelurahan Baros, Kec-Cimahi Tengah.

 

Acara ini dihadiri keluarga besar H. Budianto, dan seluruh keluarga pekerja yang terlibat pembangunan masjid, para tetangga masjid, dan tokoh masyarakat. Awak media, cetak, online, dan elektronik, ikut meliput kegiatan ini.

 

Dimulai pemberian hidangan ke para tamu undangan. Usai santap makanan, pihak keluarga H. Budianto menyerahkan bingkisan ke seluruh keluarga pekerja yang terlibat pembangunan Masid. Bingkisan itu bentuk syukur keluarga almarhum atas rampungnya pembangunan masjid ini.

 

Ketika Salat Zuhur, muazin mengumandangkan gema azan pertama kalinya. Hadirin melaksanakan salat berjamaah. Usai salat, acara penyerahan masjid secara simbolis, dari pimpinan proyek ke perwakilan pihak keluarga besar H. Budianto.  Perwakilan keluarga melaksanakan ijab kabul penyerahan wakaf Masjid Al Baakhirah ke masyarakat yang diwakili Ketua DKM Masjid Al Bakhirah, Manit Rodmiadi, S.Pd.

 

Puncak acara diisi tausiah bertema “Keutamaan Wakaf dan 3 Amalan Yang Tidak Putus Sampai Hari Kiamat” oleh Ustad Abdul Wahab, LC. (Ketua Bidang Fatwa Lajnah Syariah Pesantren Daarut). Prasasti wakaf sebagai tanda masjid ini jadi milik masyarakat, ditempatkan di bagian depan lambung kapal, tepatnya di dalam taman, persis di dekat jangkar kapal.

 

Menjadi tempat Wisata Religi

Sejak diresmikannya masjid unik ini, banyak masyarakat ke Masid Al Baakhirah, dari dalam kota dan dari luar kota. Mereka penasaran ingin lihat keberadaan masjid yang jadi kebanggaan warga Baros, Cimahi. Mereka mampir dan berfoto bersama, tetapi juga memanfaatkannya untuk melakukan badah shalat.

 

Bagi yang dari luar kota mau ke Masjid Al Baakhirah, dapat masuk ke Kota Cimahi melalui pintu Tol Baros. Setelah keluar, belok kiri ke arah Cimahi. Beberapa ratus meter, akan ketemu pertigaan jalan, lalu belok kanan ke arah rel KA. Tidak jauh dari sana terdapat Jalan H. Haris (persis di samping Kantor Pusat Kesenjataan Artileri Medan, Kodiklat TNI AD). Masjid itu terlihat dari jalan ini berjarak sekira 50 m.

 

Yang datang dari arah Kota Bandung, bisa susuri Jalan Raya Cibabat. Ketika ada pertigaan, belok kiri melalui Jalan Jend. Garot Subroto ke arah Jalan Tol Baros. Ikuti terus jalan itu. Setelah melewati rel, masuk ke Jalan Kartini. Di sana ada pertigaan, kalau belok kanan ke Pasar Antri atau ke Rumah Sakit Dustira, ambil jalan lurus arah ke Tol Baros.

 

Sisi kanan jalan ada Taman Kartini, dan sisi jalan ada Kantor Pusat Kesenjataan Artileri Medan, Kodiklat TNI AD. Sekitar  100 m akan bertemu Jalan H. Haris, lalu belok kiri. Lokasi Masjid Al Baakhirah terlihat ber jarak sekira 50 m.

 

Suasana masjid seperti Kapal Laut sedang berlabuh

Kalau dilihat dari kejauhan, bentuk Masjid Al Baakhirah ini serupa kapal sedang sandar di dermaga, seperti terlihat dari foto yang diunduh dari situs tribunnews.com:

 

Yang unik dari Masjid ini ornamen2 yang ada dalam masjid benar2 dibuat serupa kapal asli. Misalnya pelampung dekat papan pengumuman, itu benar2 pelampung asli yang biasa ada dikapal, bukan mainan atau replika. Bagian anjungan difungsikan sama seperti kapal, terdapat panel berfungsi pengaturan listrik. Ada radar sebagai radio komunikasi.

 

Persis di sisi kanan depan kapal ada menara yang dibuat seperti mercusuar. Pada bagian atasnya diberi lambang bulan sabit, sebagai pengganti menara yang biasanya terdapat disetiap masjid. Ketika malam hari, menara ini terlihat lebih menawan karena menyala terang seperti umumnya mercusuar.

 

Pada Bagian depan masjid ada bedug besar terbuat dari kayu dan kulit berdesain artistik. Selain itu juga terdapat miniatur KM Kerinci yang dibungkus dalam kaca. Pengunjung bisa naik ke atas masjid melalui anak tangga berwarna orange.

 

Sebelum naik, ada petugas yang menyodorkan buku tamu untuk diisi pengunjung. Di sampingnya ada kotak kecleng yang bisa diisi secara suka rela untuk kas masjid. Jika sampai di atas masjid, terlihat ada bendera morse yang bertuliskan “MasjidAl-Baakhirah Baros Cimahi”.

 

Biasanya ada petugas DKM yang mengenakan seragam pelaut, dengan warna biru tua dan ada gambar bendera Indonesia di sebelah lengan kanan. Mereka bertugas melayani tamu yang ke masjid ini, sekaligus menjaga keamanannya.

 

Pengunjung bisa bertanya ke mereka seputar keberadaan masjid ini. Mereka akan melayaninya ramah.

(Jumariharyadi Kohar; Bahan dari :  https://www.kompasiana.com/jumariharyadi/masjid-unik-berbentuk-kapal-laut-pertama-di-indonesia_57be8d6cf3967350444b93a6)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.