RSS Feed     Twitter     Facebook

mBah Jum mengisi waktunya

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 5 views    Font size:
mBah Jum mengisi waktunya

Mbah Jum, Begitu dias dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogya. Nama desanya saya lupa. Mbah Jum tuna netra yang berprofesi berdagang tempe. Tiap pagi dia dibonceng cucunya ke pasar untuk jualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar.

 

Sambil menunggu pembeli, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang mengantar simbahnya pulang kerumah.

 

Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lain. Sebelum pulang mbah Jum minta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum  minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

 

Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

“Modal simbah bikin tempe 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya ya 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

 

“Lho, kalo lebih dari 50 ribu, itu hak mbah, artinya mbah bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya gak berubah, jumlahnya sama.” Kata Cucunya.

“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa beda2 ?” tanyaku lagi

 

“Begini mbak, kalau ada yang beli, karena mbah tidak bisa melihat, mbah bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi pembeli2 selalu bilang, uangnya pas kok mbah, gak ada kembalian. Padahal banyak yang beli tempe 5 ribu, bayar 20 ribu. Ada yang beli 10 ribu ngasih 50 ribu”. “Semua bilang uangnya pas. Pernah mbah dapat 350 ribu. Ya 300 ribu nya saya taruh dikotak amal.” Begitu kata cucunya.

 

Aku melongo terdiam mendengarnya. Disaat semua orang ingin semua jadi uang, kalau bisa kotoran sendiripun disulap jadi uang, tapi ini mbah Jum? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini belum sampai.

 

Sampai rumah pukul 10:00 dia langsung masak untuk makan siang-malam. Mbah Jum juga tukang pijat bayi. Jadi bila ada anak2 yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah2 dsb, biasanya orang tuanya langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bukan hanya pijat bayi dan anak2, mbah Jum bisa bantu pemulihan kesehatan orang dewasa yang keseleo, memar, patah tulang, dsb.

 

Mbah Jum tidak pernah pasang tarif untuk jasanya, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh. Bila ada yang memberi imbalan, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% ! anda kaget ? saya juga kaget. Ketika aku bertanya : “Kenapa semua dimasukkan ke kotak amal ?”

 

mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum : “Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu nggak pinter mijit. KJika sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya)

 

Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Manusia dari peradaban kapitalis akan kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Di era kapitalis orang sekarat masih bisa dijadikan lahan bisnis.

 

Mbah Jum tinggal bersama 5 cucunya. Cucu kandung mbah Jum satu, yaitu yang terbesar usia (20), laki2, yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum jualan tempe dipasar. 4 cucu yang lain itu anak2 yatim piatu dari tetangga yang dulu rumahnya kebakaran. Masing2 berumur (12); lelaki, 10 tahun (laki2), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

 

Karena kondisinya tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa baca-tulis, namun ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah. Cucu terbesar, guru mengaji untuk anak2 dikampungnya. Ke-4 orang cucu angkatnya semua qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

 

“Kulo niki tiang kampung. Mboten saget ningali nopo2 ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener2 adil.” (saya ini orang kampung. Tidak bisa melihat sedari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu adil).

 

Itu kata2 terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan jadi pelayan baginya.

 

Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta. (Oleh : Irene Radjiman

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1630417800338523&id=100001109553805)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code