RSS Feed     Twitter     Facebook

Ghibah-Bergunjing-Gosip-Fitnah Dan Kemoceng

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 38 views    Font size:
Ghibah-Bergunjing-Gosip-Fitnah Dan Kemoceng

Aku datang ke rumah Kyai Husain. “Kyai, maaf saya yang telah mengghibah & mungkin jadi fitnah ke kyai, jadi ajarkan sesuatu yang dapat menghapuskan dosa saya ini.”
Aku tunduk & berharap Kyai mau memaafkannya.

“Kau serius?” Kata kyai. Aku mengangguk “Serius, Kyai. Saya benar2 ingin menebus kesalahan saya.”
Kyai diam sejenak dan “Aku maafkan kesalahanmu. Tapi apa kau punya kemoceng dirumah?”
“Ya, saya punya Kyai. Tapi maaf, apa hubungan ghibah, fitnah & kemoceng? Untuk Apa kemoceng itu?”

Kyai Husain senyum. “Kamu akan tahu setelah kau lakukan. Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku. Berjalanlah sambil mencabuti bulu2 Kemoceng itu. Setiap kali kau cabut sehelai bulu, ingat2 perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuh di jalanan yang kau lalui.”
Aku mengangguk. “Aku tak akan membantahnya” bisik hatiku.

“Barangkali maksud kyai agar aku merenungkan kesalahan2ku. Dengan menjatuhkan bulu2 satu2, maka kesalahan2 itu akan gugur diterbangkan waktu, aku berguman & masih tetap tertunduk…”
Lanjut Kyai “Kau akan belajar sesuatu darinya.”

Esoknya, Aku temui Kyai Husain dengan kemoceng tanpa sehelai bulu di gagangnya. Kuserahkan gagang kemoceng pada beliau. “Kyai, bulu2nya sudah saya jatuhkan sepanjang 5 km perjalanan dari rumah.
Saya hitung betapa luasnya ghibah & fitnah2 saya tentang Kyai yang saya sebarkan ke banyak orang.
“Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”

Kyai Husain mengangguk “Seperti aku katakan, aku memaafkanmu. Barangkali kau khilaf dan hanya tahu sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya. Aku terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hati.
“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.

Aku akan beranjak pamit dan mencium tangannya, tapi Kyai Husain melanjutkan, “Pulanglah lewat jalan yang sama saat kau ke pondokku tadi…”
Aku kaget pada permintaan kyai Husain, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya:

“Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungut kembali bulu2 kemoceng yang tadi kaucabuti. Esok hari, laporkan padaku berapa bulu yang bisa dikumpulkan.”
Aku terdiam & tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.
“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.

Dalam perjalanan pulang, Aku cari bulu2 kemoceng yang kulepas. Namun dlm cuaca kering & terik matahari, Aku hanya mampu temukan 5 lembar bulu kemoceng. Esoknya dengan murung kutemui Kyai Husain & serahkan 5 helai bulu kemoceng itu. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.”
Sambil membuka genggaman tangan kuserahkan 5 helai bulu pada Kyai Husain.

Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu.

“Apa yang telah aku pelajari, Kyai? Aku tak mengerti”.
“Tentang ghibah & fitnah2 itu,” jawabnya.
Tiba-tiba Aku tersentak, dadaku berdebar & mulai berkeringat.

“Bulu2 yang kaucabuti dan kaujatuhkan itu ghibah & fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meski menyesali perbuatanmu dan memperbaikinya, ghibah & fitnah2 itu jadi bulu2 yang beterbangan entah kemana. Bulu2 itu kata2mu. Dibawa angin ke mana saja, ke tempat2 yang tak mungkin bisa kau duga, ke wilayah2 yang tak mungkin bisa kau perkirakan”

Tiba2 Aku menggigil mendengar kata2 Kyai. Seolah ada mata pisau yang menghujam jantungku. Ingin Aku menangis sekerasnya & ingin mencabut lidahku sendiri.

Kyai Husain: “Bayangkan satu dari ghibah & fitnah2 itu suatu saat kembali ke dirimu. Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar2 merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata2mu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tapi kau tak bisa menghentikan semua itu

Kata2mu yang tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam kotak besi untuk kau kubur dalam2 sehingga tak ada yang mendengarnya. Angin waktu mengabadikannya.”
“ Ghibah & Fitnah2 itu jadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya.

Agama menyebut dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertama. Maka tentang ghibah & fitnah2 itu, meski aku atau siapapun  yang kau ghibah & kau fitnah memaafkanmu, tapi ghibah & fitnah2 itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya.

Meski kau telah wafat, ghibah & fitnah2 itu terus hidup karena angin waktu membuatnya abadi. Maka kau tak mungkin bisa menghitung lagi berapa banyak ghibah & fitnah2 itu memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku pecah, “Astagfirulloh hal-adzhim, Astagfirullohal-adzhim, Astagfirulloh hal-adzhim” Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari mataku. “Ajari saya apa saja untuk membunuh ghibah & fitnah2 itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…”
Aku terus menyesali yang telah aku perbuat.

Kyai tertunduk dan meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat maha menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim”

“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata.
Demikianlah ghibah apalagi fitnah itu “KEJAM”. Mari kita senantiasa istigfar & berdoa (Dikirimkan oleh Rahmadi Djojosumarto; dan Sjahril Sjam sumber : Sumber dari grup WA-sebelah)-FR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code