Selingan

Tradisi ramadhan di Indonesia (3/5)

(halomoney.co.id)-Seri ketiga : 5-Malamang-Minangkabau Sumbar

Tradisi malamang atau membuat lemang jadi ritual khas masyarakat minang di Sumbar menyambut kedatangan bulan puasa. Malamang berarti membuat lemang, yaitu makanan dari beras ketan yang dimasukkan ke buluh bambu beralas daun pisang.

 

Lalu, lemang itu disiram santan dan dipanggang dengan kayu bakar hingga beberapa jam. Kegiatan membuat lemang inilah yang disebut malamang.

 

Malamang jadi tradisi khas masyarakat Sumatra Barat ketika menyambut hari2 penting dalam kalender Islam. Lemang biasa disajikan dengan tapai sipuluik yang terbuat dari beras ketan hitam atau merah.

 

6-Balimau Minangkabau Sumbar

Masih dari Sumatra Barat. Menyambut bulan Ramadhan, masyarakat Minangkabau memiliki ritual Balimau yaitu tradisi mandi memakai air jeruk nipis yang dilakukan di kawasan dengan aliran sungai atau tempat pemandian.

 

Tradisi ini dilatarbelakangi keinginan bersih diri lahir batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan.  Mengapa memakai jeruk nipis? Ini tidak terlepas dari tradisi berabad silam, ketika itu masyarakat belum mengenal sabun seperti saat ini. Sehingga, jeruk nipis atau limau menjadi pilihan membersihkan diri.

 

7-Kirab Dandhangan-Kudus Jateng

Tradisi unik menyambut kedatangan puasa ini berlangsung di Kudus, Jateng. Kirab Dhandhangan mengacu pada tradisi di masa Sunan Kudus masih ada, yaitu para santri beliau berkumpul di depan mesjid Al Aqsha atau Mesjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa.

 

Setelah diumumkan keputusannya oleh Sunan Kudus, beduk di mesjid ditabuh dan dari sanalah istilah Dhandhangan lahir. Akhirnya, lambat laun ritual pengumuman itu menarik banyak pedagang membuka lapak dagangan. Kini, ritual itu jadi semacam kirab budaya yang dimulai 2 pekan sebelum puasa dan berakhir pada malam hari jelang sahur pertama.

 

8-Nyorog Betawi

Ini tradisi khas masyarakat Betawi. Nyorog, tradisi membagikan bingkisan makanan pada keluarga yang lebih tua seperti Bapak, ibu, mertua, paman, kakek-nenek. Kebiasaan mengirimkan bingkisan ini masih berlangsung sampai sekarang walau isi bingkisan berubah mengikuti perkembangan zaman.

 

Bila dulu isi bingkisan adalah makanan matang seperti sayur atau lauk, kini berganti dengan kirim bingkisan berisi biskuit, kopi, gula, sirup, dsb. Bagi masyarakat Betawi, tradisi Nyorog ini sebagai tanda saling mengingatkan bahwa Ramadhan segera tiba, juga sebagai cara mempererat silaturahmi.  (Ruisa Khoiriyah; Bahan dari :  https://www.halomoney.co.id/blog/tradisi-unik-bulan-ramadhan-yang-hanya-ada-di-indonesia)-FatchurR * Bersambung………..

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close