RSS Feed     Twitter     Facebook

Embun Pagi-mBah Ardjo

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 4 views    Font size:
Embun Pagi-mBah Ardjo

Rejeki, bukan hanya berupa uang atau materi lainnya. Memperoleh rejeki bisa bertemu dengan orang langka yang memberi inspirasi, seperti bertemu mBah Ardjo. Dia bukan wanita terkenal, bukan mantan istri pejabat. Ia wanita biasa, tinggal di desa Plumbon, Tempel Sleman yang dari halaman rumahnya kita bisa pandang jelas kearah puncak Merapi yang anggun.

 

Lebaran baru saja lewat dan sederet pekerjaan yang terbengkalai menunggu diselesaikan. Salah satu yang harus segera saya selesaikan adalah mengecat kolam. Sisa cat compound masih ada, tapi kuas perlu beli lagi. Toko bahan bangunan Robert, di arah barat rumah masih tutup, terpaksa saya balik ke timur rumah, toko mBak Sri, toko kecil, mudah-mudahan sudah buka.

 

Toko ini langganan saya beli pasir, semen atau batako. Selesai membeli beberapa kuas, melihat saya masih berkeringat, saya dipersilahkan singgah minum dahulu di rumahnya, di belakang toko. Mas Eddy, suaminya menyambut dengan ramah. Saya tidak bisa menolak, tapi sepedah saya masukan terlebih dahulu ke dalam, takut hilang.

 

Kami bertiga ngobrol di teras depan sambil menikmati kue-kue lebaran. Pisang kepok rebus, lumayan sebagai pengganjal lapar. Saya melihat halaman dan rumahnya luar biasa bersihnya.

-“Ini yang bersih-bersih pembantu?”, tanya saya.

 

-“Nggak, ya kami-kami saja”, jawab mas Eddy

-“Kami ber-empat, tidak pernah pakai pembantu”, lanjutnya.

-“Lho? Ber-4?”, tanya saya. Setahu saya keluarga mas Eddy ini hanya memiliki satu anak perempuan.

-“Ya, ada simBah”, timpal mBak Sri, yang bertubuh subur itu.

 

-“mBahnya mBak Sri?”, tanya saya.

-“Ya tinggal di belakang. Usianya sudah 98 tahun”, jawabnya.

-“Hah? 98?”, saya kaget. Ia mengangguk.

-“Boleh saya salaman?”, tanya saya penasaran.

-“Lha, ya monggo….”, jawabnya.

 

Saya diantar kebelakang, melewati bagian dalam rumah yang bersih. Di bagian belakang rumah, saya lihat berderet tiga ruangan kecil. Mushola dengan beberapa sajadah, ruangan kecil dan kamar mandi. Saya masuk ke ruangan kecil yang di tengah, di atas kasur duduk perempuan tua sedang makan kue kering lebaran.

 

Rambutnya memutih, namun di seling hitam masih ada. Mengenakan kain batik lereng dengan kebaya berwarna biru. Saya menyapanya.

-“Iki sapa?”, tanyanya.

 

Mas Eddy mengenalkan saya dan menyebut nama istri saya. Langsung ia ubah bahasanya jadi bahasa Jawa krama-inggil. Ingatannya kuat. Ia ingat almarhum mertua saya. Pendengarannya, juga bagus, lebih bagus dari saya yang sudah mengenakan Alat Bantu Dengar. Iapun tahu desa tempat saya tinggal sekarang. Ia dengan detil, bisa menyebut tetangga2 saya.

 

Padahal jarak desa saya sekitar satu km dari tempat tinggalnya. Ia bisa bercerita runtut dan rinci tentang masa lalu. Sungguh teman ngobrol menyenangkan. Tubuhnya, pakaiannya, ruangannya, tempat tidurnya sangat bersih. Kulitnya tentu dahulu kuning, wajahnya tidak terlampau banyak kerut, namun bercak-bercak pigmen hitam yang menandakan bahwa ia sudah tua.

 

Sampai usia 90, mBah Ardjo masih mandiri, tinggal di rumahnya sendiri. Mengurus dirinya sendiri. Ia tidak mau tinggal dengan anaknya yang masih hidup. Tapi ketika cucu perempuan datang berkunjung, ia bersedia tinggal bersama cucunya. Ia tidak mau tinggal di rumah induk, kamar depan.

 

Ia berkeras pilih ruang belakang, yang semula direncana untuk gudang/sepen. Ia tidak mau kamarnya direhab atau diperbaiki, atau dipasang rel untuk pegangan ketika berjalan. Ia bersedia menempati apa adanya. Kegiatan sehari-hari bila tidak di ambennya ya di mushola. Ibadahnya tekun.

 

Ia sudah tidak kuat berdiri lama, sehingga shalatnya sambil duduk. Ia masih menjalani puasa dan puasa kemarin, hanya satu hari bolongnya. Mbah Ardjo itu sosok tauladan, dengan damai dan sederhana, tetap istiqamah menjalani masa tuanya. Betul2 saya mendapat rejeki bertemu dengannya. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN; EP 034)-FR

 

*** Alhamdulillah, saya kembali mendapatkan inspirasi bagaimana selayaknya sebagai orang yang sudah tua. Kondisi phisik sesungguhnya merupakan isyarat dari Yang Maha Pencipta.

 

Tinggal bagaimana kita mensikapinya. Figur mbah Ardjo banyak memberikan tauladan hidupnya dikala usia sudah senja. Berbahagialah dia, karena phisiknya tidak banyak keluhan selain karena usia saja.

 

Tapi tekadnya mempersiapkan diri menyambut panggilan Illahi patut kita turuti. Bersyukur dan ikhlas sehari hari. Masya Allah, maturnuwun pak Dhon sdh berkenan menyirami hati kami dg santapan rochani.  (SSA)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code