RSS Feed     Twitter     Facebook

Mengenang Dua Pahlawan

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 38 views    Font size:
Mengenang Dua Pahlawan

Hari ini ibu pertiwi menerima dua jenazah putra-putra terbaik dari Corps Alumni Akademi Postel. dengan bangga ibu menyambut mereka dalam pusara, tanah yang dahulu pernah mereka pertahankan tanpa takut resiko kehilangan nyawa.

 

Pak Rizky Winatapura, Bc.TT angkatan pertama dimakamkan di TMP Cikutra. Beliau menyusul rekan2 satu angkatan yang hampir semua telah pulang tlebih dulu. Dari 53 orang angkatan-1, saat ini hanya satu orang yang masih tinggal, pak Daud Soeriadi Sumadiwangsa.

 

Angkatan-1, juga kemudian angkatan2 berikutnya, lulusan Akatel, bertebaran di instansi diluar Telkom, TNI-AL, TNI-AD, TNI-AU dan perusahaan2 minyak atau perusahaan elektronika lain.

 

Dalam karirnya di TNI-AL, pak Rizky sempat menorehkan sejarah, salah satunya menuliskan Mars kebanggaan TNI-AL : “Terjang walau badai menghadang, hancurkan rintangan, teguh pada tujuan, terus kobarkan semangatmu, kibarkan bendera kewajiban, , JALESVEVA JAYAMAHE!!”, sungguh syairnya mampu menggetarkan siapa saja yang mendengarkan.

 

Sedang pak Moerwahono adalah pahlawan Angkatan Muda PTT terakhir dari Telkom, kini satu2nya yang tinggal yaitu pak Goerjama dari PT Pos. Mereka yang pada (27/9/1945) dengan gagah berani tidak takut disambar desingan peluru merebut gedung Kantor Pusat PTT dari tangan penjajah.

 

Pak Moer berjuang di Bandung (1945) dan tahun 1947-1949 berjuang mempertahankan proklamasi di Jogya Selatan. Pak Moer beristirahat di makam Pandu Bandung, menyusul sang istri tercinta, putri Kawanua, yang dua tahun yang lalu sudah mendahuluinya.

 

Mereka lahir dari Akademi Postel yg terletak di sudut jalan Banda dan jl Riau di kota Bandung, tempat awal keduanya ditempa, Institusi ini melahirkan putra putrinya yg pada masanya banyak mengukir sejarah pertelekomunikasian.

 

Angkatan pertama meluluskan alumninya tahun 1954, sehingga mereka masuk Akademi di awal tahun 50-an, pada saat Republik ini baru saja lepas dari geloranya perang mempertahankan kemerdekaan. Dada mereka saat itu masih penuh dengan semangat pengorbanan dan pengabdian.

 

Selain sains dan ketrampilan mengelola Telekomunikasi, ikut diwariskan oleh angkatan-1 kepada angkatan2 berikutnya, semangat perjuangan ini. Tahun 1966, saat dipelonco di Akademi Postel Jurusan Telekomunikasi, masih terngiang di telinga saya, teriakan2 para senior,

“Kalau kau mau kaya, jangan masuk Akademi Postel”-“Disini buat pengabdian bukan mencari kekayaan”

 

Begitulah yang diwariskan oleh pak Rizky dan pak Moerwahono, pengadian, pengorbanan dan kesederhanaan. Selamat jalan para pahlawanku (Sleman, 10 Dzulhijjah 1439; Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code