Pengalaman Anggota

Ceritera tentang Keponakan

Ibunya keponakan (mbakyu-saya) belum setaun ditinggal suami kealam barzah. Usia mbakyu sdh 82 taun, tinggal sendirian dikampung. Dari yang semula aktif, banyak acara sosial, sepeninggal suami banyak mengurung diri. Pengajian rutin kalau nggak dijemput, alasan badan kurang sehat.

 

Ketika anak2 mau pulang kumpul dirumah, dia sudah masak opor, bikin kupat dsb walau nyuruh pembantu. Akibatnya ketika lebaran usai, anak cucu nggak boleh jajan sebelum opor dan ketupat habis. Pagi sarapan opor, siang juga opor bahkan sorepun opor lagi opor lagi.

 

Alasan mau cuci dan kebengkel mobil, dan yg lain mau beli obat, satu satu anak cucu keluar sambil mampir warung soto dan bakso.

 

Itulah orang tua, ingin suasana dulu ketika apapun masakannya amblas dilahap anak2nya bahkan berebut paha ayam. Dia sudah tidak menyadari bahwa zaman berubah, anak2 seneng yang praktis, masuk warung sambil bernostalgia DARMAJI (dahar lima ngaku hiji) rasanya pengin diulang lagi.

 

Begitu cepat zaman berubah, kemarin anak anak sekarang sudah bertambah. Kemarin ibu sekarang jadi simbah (nenek).

 

Yang lucu dia ternyata sdh mulai pelupa. Salah satu anaknya sdh datang beberapa hari sebelum lebaran.

Ketika besan telepon, mbakyu bertanya apa Juli (menantu) belum berangkat, kok belum sampai. Kontan besan kelabakan karena anaknya kemarin bilang sudah sampai.

 

Ketika di telepon mamahnya, mbak Juli bilang lha ini lagi jalan2 dipasar Kebumen bersama suami dan anaknya. Nampaknya  ibu mertua mulai pikun, tadi sdh diajak ngobrol dan sarapan kupat opor. Makanya kita yang sdh tua2, dibilang belum datang. Makanya kita tetap rajin mengaji biar tidak ikut cepat pikun. (Soenarto SA; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close