RSS Feed     Twitter     Facebook

Secangkir Kopi-(Otak Perlu Inspirasi)-Semarang

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 5 views    Font size:
Secangkir Kopi-(Otak Perlu Inspirasi)-Semarang

Warga Jakarta atau Bandung akan terheran-heran akan lalu-lintas kota Semarang yang nyaris tanpa kemacetan. Kota ini memiliki kepadatan penduduk per km persegi sebesar 4,627, jauh dibawah Jakarta (Jkt Pusat 18,569), Bandung (13,679) atau Jogya (13,340).

 

Bahkan diantara kota-kota besar di Jawa Tengah kepadatan penduduknya termasuk paling buncit. Kota terpadat di Jawa Tengah adalah Surakarta (11,677), kemudian Tegal (7,167), Magelang (6,683) dan Pekalongan (6,655). Semarang hanya sedikit lebih padat dari kota sejuk Salatiga yang hanya memiliki kepadatan 3,520 jiwa per km persegi.

 

Wisatawan dengan nyaman berkendaraan menikmati tempat-tempat wisata di dalam kota seperti gedung Lawang Sewu . Gedung indah yang selesai dibangun tahun 1907 ini dahulu merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, kantornya Perusahaan Kereta Api. Kota ini terletak di ujung jalan Pemuda, dekat bunderan lalu lintas yang ramai namun lancar.

 

Sewu dalam bahasa Jawa artinya seribu, namun jumlah lubang pintunya bila sempat menghitung hanya 429 buah saja, namun memang gedung itu memiliki lebih dari 1200 daun pintu, karena setiap pintu bisa memiliki dua atau bahkan empat daun pintu.

 

Gedung Lawang Pintu sudah kesohor keangkerannya di seluruh dunia. Banyak cerita seram diseputar ruangan, lorong, sumur, jendela yang mendirikan bulu roma, maklum pada jaman Jepang gedung ini juga menjadi penjara yang membikin bergidik bagi orang yang dijebloskan kedalamnya.

 

Wisatawan yang berkunjung ke Lawang Sewu tentu melewati monument Tugu Muda yang terletak di bunderan persimpangan jalan-jalan protokol, Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Dr. Soetomo, dan Jalan Pandanaran. Uniknya, tugu itu kini letaknya bukan di tengah bunderan, malah cenderung di sisi bunderan. Tugu Muda diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1953, guna mengenang para pahlawan yang gugur pada waktu pertempuran lima hari di sekitar tempat itu.

 

Pertempuran terjadi antara tanggal 15/10/1945 sampai 20/10/1945, pertempuran hebat yang memicu pertempuran-pertempuran lain dalam masa kemerdekaan yang baru saja lahir. Pertempuran sengit selama 5 hari ini dipicu kaburnya tawanan Jepang pada 14/10/1945. Pukul 06.30 WIB, pemuda2 rumah sakit dapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara.

 

Mereka menyita sedan milik Kempetai (polisi militernya Jepang) dan merampas senjata. Sorenya pemuda2 ikut aktif mencari tentara Jepang dan menjebloskannya ke Penjara Bulu (sekarang LP Wanita Bulu, Semarang).

 

Pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak dan melucuti 8 anggota polisi istimewa yang waktu itu menjaga sumber air minum bagi warga Semarang yakni Reservoir Siranda di Candilama. Kedelapan anggota polisi istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu juga tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu.

 

Rakyat pun menjadi gelisah. Sebagai kepala RS Purusara (sekarang Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi) Dokter Kariadi berniat memastikan kabar tersebut. Selepas magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu.

 

Dokter Kariadi dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda. Istri Dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi, namun gagal.

 

Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang mensopiri mobil yang ditumpanginya, dr. Kariadi ditembak secara keji.

 

Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN sumber B: PS dan Wikipedia)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code