RSS Feed     Twitter     Facebook

Mengintip pengolahan Limbah Pabrik(2/2)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 2 views    Font size:
Mengintip pengolahan Limbah Pabrik(2/2)

(liputan6.com)-Cek Kadar air limbah

Pengolahan limbah tak berakhir dibuang saja. Kandungan limbah diperiksa setiap bulan. Pemeriksaan ini agar tahu, apakah pengolahan limbah memenuhi baku mutu atau tidak. Dalam arti kandungan limbah aman untuk dibuang dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk mengecek limbah aman, pabrik Faber-Castell pada kolam ikan. Limbah yang sudah diolah dan siap dibuang ke kolam ikan.

 

“Kami punya pengolahan limbah. Di situ pakai kolam ikan. Limbah di kolam itu dipompa. Air dari kolam itu dialirkan ke kolam lagi. Ngecek limbah aman itu dilihat kan di dalam kolam hidup. Kalau ikannya hidup berarti limbahnya aman (tidak mencemari lingkungan)” Kata Sapto.

 

Setelah limbah aman, limbah dialirkan ke selokan. Tidak langsung ke kali. Berdasar jurnal Waste Water Management Through Aquaculture yang dipublikasikan di ResearchGate (2006), limbah didefinisikan  cairan keruh. Limbah industri mengandung mineral dan bahan organik di larutan atau punya partikel zat padat mengambang. Limbah bervariasi dalam komposisi dan kekuatan dari satu tempat ke tempat lain.

 

Kadar limbah ditentukan jumlah O2 yang diperlukan mengoksidasi sepenuhnya materi organik dan amonia di dalamnya. Jurnal yang ditulis Subhendu Datta dari Central Institute of Fisheris Education menulis komposisi limbah industri mengandung lebih banyak polutan dalam hal berat logam dan beban bakteri dan bahan beracun lain. Limbah mengandung zat hidup (bakteri dan protozoa).

 

Kandungan air limbah 98-99,9% cairan, sisanya padat kering. Limbah industri mungkin lebih banyak karbon organik. Penanganan limbah harus baik. Ada juga limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Limbah  ini bahan buangan dari proses produksi. “Kami punya limbah B3. Ada daftar limbah B3  lengkap. Itu setiap 3 bulan 1x, kami laporkan ke Dinas LH Bekasi” ujar Sapto.

 

Pemanfaatan serbuk gergaji

Limbah umum dari proses produksi pensil itu serbuk gergaji. Proses produksi menghasilkan banyak serbuk gergaji. Kayu yang dipotong dan dibentuk jadi pensil menyisakan serbuk gergaji. Serbuk gergaji itu tidak dibuang, tapi dimanfaatkan proses di pabrik Pencil Lead (untuk proses pembuatan isi pensil).

 

“Bahan baku kayu banyak. Dari proses dan sisanya serbuk gergaji diambil. Serbuk itu disedot, lalu dikirim ke area PT Xylo Indah Pratama (penyuplai kayu). Dari area itu serbuk untuk memanaskan boiler (ketel uap)”. Boiler ini dipakai pabrik Pencil Lead, kerjasama dengan Faber-Castell. Untuk penanganan limbah, Faber-Castell mengikuti peraturan pemerintah dalam menilai ambang batas limbah.

 

Parameter ambang batas limbah diterapkan. Hingga sekarang semua jenis limbah dibawah nilai ambang batas. Pembuangan limbah ke selokan aman dan tak menimbulkan keluhan dari warga sekitar.

 

“Soal pembuangan limbah, kami menandatangani perjanjian dengan Dinas LH Bekasi. Ada kesepakatan, perusahaan kami tidak mencemari lingkungan di sekitar” ungkap Sapto kepada health liputan6.com mengakhiri perbincangan tentang limbah pabrik. (Fitri Haryanti Harsono; Bahan dari : https://www.liputan6.com/health/read/3675892/intip-olah-limbah-pabrik-yang-tak-cemari-lingkungan)-FatchurR *Tamat……….

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code