RSS Feed     Twitter     Facebook

Reboan-Pasar Tradisional (bagian satu)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 2 views    Font size:
Reboan-Pasar Tradisional (bagian satu)

Bagi banyak pensiunan tempat yang paling menakjubkan sejak digendong di punggung ibunda tersayang sampai menggendong cucu tercinta adalah jalan2 di Pasar Tradisional.

 

Selalu ada saja objek yang menarik untuk diamati, misalnya bagaimana cara pedagang daging kodok segar memotong dan menguliti dagangannya hidup-hidup (kalau ada yang berminat saya bisa cerita lain kesempatan, asalkan tega membacanya).

 

Di salah satu bagian PasarTempel, malah pada waktu tertentu ada pandai besi yang buka praktek membuat atau memperbaiki alat pertanian, pembantunya memompa angin ke arah bara arang dengan dua bambu petung besar. Ramai penontonnya merubung sambil menghangatkan tubuh.

 

Tidak seperti pasar swalayan modern yang senyap, suara pasar selalu riuh terdengar sejak dari tempat parkiran. Selain suara tawar menawar antara pembeli dan penjual, pedagang keliling yang menjajakan mulai dari serbet dapur sampai racun tikus. Hampir tidak dtemukan pedagang yang muram di pasar.

 

Semuanya sumringah membujuk, merayu atau setengah memaksa pengunjung membeli dagangannya. Trolley tidak cocok untuk PasarTradisional yang becek, namun banyak jasa gendongan membawakan barang belian kita yang setia mengikuti kemana kita pergi dan menaikan sampai ibu-ibu tersembunyi dibalik barang belian yang meluap di mulut becak.

 

Pasar Tradisional selain menjual jajanan pasar seperti cucur, gatot-tiwul, candil, jenang, bothok mlanding, coro-bikang dan banyak lagi, biasanya punya tempat makan enak. Cobalah rawon dengan rasa super di Pasar Besar Malang, timlo terenak di belakang (dekat tempat sampah) Pasar Gede Solo.

 

Juga warung Padang asli di basement Pasar Baru Bandung melayani ratusan pedagang kios orang2 awak, brongkos legendaris di pasar Tempel Sleman, lotek lezat di lantai bawah pojok Pasar Kosambi Bandung, gado2 di Pasar Boplo (tinggal kenangan), soto lenthok di lantai 3 Pasar BeringHardjo Jogja, rujak Cingur di Pasar Genteng Surabaya dan banyak tempat nongkrong enak di pasar tradisional di kota manapun.

 

Last but not least, Pasar Tradisional juga tempat cuci mata. Kata orang-orang bijak jaman dahulu, “Nak, temukan jodomu pada pagi hari di pasar, hidupmu akan senang”, saya kira ada benarnya. Perawan yang masih mau belanja di pasar, tentu wajahnya cantik alami, karena tidak sempat bergincu dan bedak, rajin bangun pagi, sehat dan pandai masak. Wallahu a’lam bishawab.

 

Reboan kemarin sekalipun hanya dua orang, ternyata keduanya memiliki kenangan indah tentang masa kecil menjelajah pasar, terlalu panjang untuk dimuat dikolom ini saja, sehingga terpaksa dibuat beberapa seri tulisan. (Sadhono Hadi 1/11/2018; dari grup WA-VN)-FR

Insya Allah bersambung.

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code