RSS Feed     Twitter     Facebook

Sebatang Kara (4)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 13 views    Font size:
Sebatang Kara (4)

Tak ada berita yang tak menyenangkan, tiap Rini nelepon melaporkan perkembangan Andre. Ia nampak betah di Bandung karena disekelilingnya ada orang2 bernasib sama dengannya. Karena nasib mereka sama, maka solidaritas diantara mereka juga tinggi.

 

Ia termasuk terkecil diantara teman2 nya, sehingga ia selalu dilindungi dan dibantu. Ia cepat menguasai huruf Braile dan belajar membaca. Beberapa bulan berikutnya, Rini melaporkan Andre boleh belajar pegang Al Qur’an Braille dan mulai mempelajarinya dan cepat baca ayat2 kitab suci Al Qur’an.

 

Suatu saat aku mengunjunginya, aku temukan lagi kemampuan Andre yang istimewa. Aku tak memberi kabar sebelumnya bahwa aku akan ke Bandung dan langsung ke asramanya. Ketika aku menyusuri teras asrama, pada jarak belasan meter ia dengar langkahku, mengenali-ku dan berteriak, “Mama!”, serunya riang. Orang normal mungkin tak tahu, orang buta bisa menenali orang dari suara langkahnya.

 

Telinganya mampu membedakan seseorang dengan orang lain dari bunyi langkahnya. Ketika aku tanyakan kok dia bisa tahu kalau aku yang datang, “Banyak Ma yang bisa disini. Langkah tiap orang beda, Ma dan sekali Andre dengar langkah seseorang Andre ingat siapa orang itu”. Aku geleng, kok ia bisa memiliki kemampuan itu.

 

Tahun kedua, Rini melaporkan Andre hapal juz 30 dan juz 29, dengan artinya. Ia cepat belajar bahasa. Selain Indonesia dan bahasa Jawa yang ia kuasai saat di Jogja, ia kini mampu berbahasa Sunda. Andre disini banyak berinteraksi dengan penghuni, karyawan dan orang2 disekitar Wiyata yang berbahasa Sunda. Rini juga menemukan guru les privat Bahasa Inggris yang tidak seberapa jauh dari asrama.

 

Ia ikut les satu minggu 3x dan dalam grupnya ia dan tiga orang dewasa lain. Berangkat les ia naik angkot dan berhenti di seberang RS Cicendo, tempat les berada di gang dibelakang Rumah Sakit, dekat bengkel mobil Honda. Pulangnya ia pilih jalan kaki. Ketika aku menjenguknya, ia sehat dan riang, “Hamba senang Ma, kakak2 mahasiswa itu mengajari hamba macam2. Hamba ingin belajar apa saja, Ma”, katanya.

 

“Bagus, Andre, sayap2 malaikat menaungi orang yang belajar hal yang baik”, kataku mendorongnya.

“Setiap langkahmu ke majelis ilmu, malaikat melindungimu”, sambungku.

“Tapi belajar itu ada syaratnya lho Dre”, lanjutku.

“Apa itu Ma?”, tanyanya

 

“Ada tiga Dre, syarat pertama kamu harus bersemangat belajar. Semangat itu mengalahkan segalanya. Semangat itu mengalahkan ngantuk atau malas”, aku menjelaskannya.

“Syarat kedua kamu harus punya modal”, kataku.

“Modal Ma? Andre tidak punya modal”, katanya.

 

“Apa maksudmu modal uang? Ya ada modal uang, tapi ada lagi modal yang jauh lebih penting dari pada modal uang”, sambungku. “Modal apa itu Ma?”, ia penasaran.

“Modal kemampuan otak Dre”, karena kalau tidak mampu, ya susah pelajaran bisa masuk.

“Mudah2an Andre punya modal otak”, gumamnya.

 

“Terus syarat ketiga apa Ma?”, tanyanya.

“Nah yang ketiga ini agak sulit Dre, tidak semua orang bisa memenuhi”, kataku.

“Apa itu Ma?”, tanyanya lebih penasaran. “Harus, hormat dan patuh kepada guru”, kataku.

 

“Banyak orang pintar merasa lebih pintar dari gurunya, meremehkan gurunya dan gagal menuntut ilmu, mengapa ? . Karena guru itu memiliki hak legitimasi”, aku menjelaskan.

“Ya Andre tahu itu legitimasi, seperti mengesahkan begitu ya Ma?, sahutnya

“Ya, guru berhak meluluskan. Makanya, kamu harus hormat ke gurumu dan jangan ngeyel, walau kamu benar”, nasehatku.

 

Kami lama ber-bincang2 dan makin ramai ketika Rini tiba. Nampak Andre menghormati Rini, selain karena jabatannya, juga karena Rini disegani diantara penghuni Wiyata dan Rini memperhatikan Andre.

 

​Pada kali lain Rini melaporkan  Andre punya sahabat Mahasiswa UPI jurusan Bahasa Inggris. Mereka sering tukar pikiran tentang bahasa, dialek, idiom Bahasa Inggris. Sahabatnya itu mengenalkan Andre pada novel2 Inggris dari penulis terkenal seperti Ken Follet atau John Graham. Bila Andre tidak mengetahui arti dari kalimat yang didengarnya, ia menyela dan sahabatnya menjelaskannya.

 

Namun, adakalanya  sahabatnya lupa atau tidak tahu, Andre justru ingat artinya. Otak Andre itu seperti lem, kata Rini, sekali menempel tidak mudah lupa lagi. Mendengar itu, aku ke pusat buku bekas di dekat Taman Pintar Jogya dan mengirimkannya novel2 dari pocket book aslinya. Rini menelpon bahwa mereka berdua senang kirimanku dan berdua menikmatinya. Syukurlah (EP 050).– (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code