RSS Feed     Twitter     Facebook

Sejarah Kain Shibori (Tie Dye)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 229 views    Font size:
Sejarah Kain Shibori (Tie Dye)

Mengenal Sejarah Kain Shibori (Tie Dye) Atau Jumputan

Banyak Orang2 mengira bahwa Tie dye adalah teknik mewarnai kain yang diciptakan Kaum Hippies dari Amerika ketika tahun 1960 an menentang Perang yang sedang dilakukan Amerika di Vietnam dan Negara lainnya.

 

Padahal jika ditelusuri melalui sejarah negeri ini, pada Prasasti Sima yang dibuat Abad 10, menunjukkan bahwa di Indonesia telah berkembang dengan pesat kain dengan pola mirip seperti pola tiedye ini.

 

Di Indonesia, masyarakat banyak mengenal dengan berbagai sebutan untuk teknik pewarnaan ala tiedye ini. Di Palembang, masyarakatnya menyebut kain ini dengan istilah Pelangi, sedangkan di Jawa, orang menyebutnya Tritik. Lain lagi dengan Saudara kita di Banjarmasin, yang menyebut nya Sasirangan. Dan over all, kebanyakan masyarakat kita menyebutnya dengan Jumputan atau Ikat.

 

Pada prinsipnya Jumputan ialah teknik membuat pola dengan mengikat kain pada beberapa bagian yang sebelumnya dicelup pada zat warna. Untuk itu Jumputan banyak juga dikenal dengan teknik celup ikat. Secara prinsip teknik ini hampir sama dengan Teknik Batik.

 

Ketika membatik, bagian yang tertutup oleh malam (lilin) waktu dicelupkan ke dalam bahan warna tidak akan terkena warna. Nah, sedangkan di proses jumputan, fungsi malam atau lilin diganti dengan ikatan tali pada kain sebelum dicelupkan, sehingga membuat jumputan menjadi lebih mudah dan murah jika dibandingkan dengan Batik.

 

Teknik celup ikat atau Jumputan ini sebenarnya dapat diterapkan pada kebanyakan kain, namun untuk membuat hasil yang Maksimal, maka Kain yang berbahan Katun, menjadi bahan yang terbaik untuk di aplikasikan pada teknik ini . Ada banyak cara yang dapat dikembangkan dari teknik celup ikat ini untuk mendapatkan efek hasil akhir yang berbeda-beda.

 

Efek yang berbeda-beda ini dapat dicapai antara lain dengan perbedaan cara melipat kain dan mengikatnya. Semakin bervariasi cara melipat dan mengikat kain yang dibuat produk, semakin bervariasi pula efek pola yang dihasilkan.

 

Saat ini kain jumputan sudah berkembang dengan sangat pesat, dan banyak dipakai oleh para desainer untuk diaplikasikan dalam karya-karya mereka. Kita bisa dengan mudah mendapatkan bahwa kain jumputan sudah dalam bentuk Baju Wanita atau Dress Busui Friendly, Gamis untuk Muslimah ber Hijab, celana jeans, kaos, dll.

 

Shibori atau Shiboru itu bahasa Jepang, artinya Akar.

Corak Shibori pada kain sudah dibikin sejak abad 17 saat itu rakyat Jepang sdg prihatin ekonominya shg tdk mampu membeli kain baru.

 

Dengan inovasi dan kreatifitas kemudian mereka kumpulkan baju2 lama yg sdh lusuh kemudian diberi corak dan warna selanjutnya mereka menamakan cara tsb adalah Shibori. Semakin halus akar pada corak yg dibikin semakin mahal harganya (mirip seperti nilai batik tulis)

 

Cara tsb mendunia, termasuk pengaruhnya ke Indonesia, kita mengenal istilah Jumputan di Kalimantan, Sumatra dan Jawa. Begitu juga dibelahan dunia lain di Afrika, Asia, Eropa, Amerika banyak dijumpai lain mirip2 Shibori aliad Jumputan Jepang

 

Kita baru saja menyaksikan keluarga Obama bersantai di pulau Bali, dalam berbagai penampilan Sasa putri kedua Obama yg menjadi trend setter dunia fashion, juga memakai gaun Shibori

Nuhun

 

Bpk dan ibu,

BPTg sangat serius menyelenggarakan workshop dan praktek bareng bikin Shibori dikarenakan hal berikut:

 

1) membuat Shibori itu menyenangkan dan bisa mengoptimalkan otak kanan (kreatifitas)

2) setelah praktek bikin kain Shibori beberapa kali akan menjadikan hobi yg mengasyikan

3) dapat menjadi ladang usaha perorangan yg mandiri dan menyenangkan hanya dlm waktu singkat (setelah 8 kali hingga 10 kali praktek)

 

Sebagai contoh sukses dlm merintis usaha perorangan produk Shibori adalah Alumni Workshop Shibori Angkatan 1 (29 April 2017), yaitu: ibu Endang Hermiyati, Ibu Dr Imas Soemaryani, ibu Dr Ida Tejawiani dan ibu Riswati.

 

Empat ibu2 Alumni WS tsb rajin praktek utk menambah jam terbang. Setelah ikut 8 kali hingga 12 kali kegiatan *Praktek Bareng Bikin Shibori* (hanya 4 hingga 5 bulan setelah ikut Workshop), hasilnya adalah *kain dan kaos Shibori mereka mulai diminati teman2nya kemudian laku dijual saat pameran2*

 

Kisah sukses dan tahapan2 tsb telah menambah keyakinan pengurus BPTg  utk mencetak usahawan2 Shibori sebanyak mungkin dalam tahun 2017 dan 2018. Oleh karenanya program berikutnya setelah Bandung adalah di Surabaya pada tgl 2 Des 2017 utk Workshop Shibori BPTg  Angkatan 3

 

Tarif untuk Bandung dan Surabayay relatif sama yaitu 300rb hingga 350rb sudah termasuk bahan praktek dan makan siang

 

Mudah2 an tarif utk Praktek juga bisa sama yaitu 125rb hingga 200rb belum termasuk bahan praktek namun sdh termasuk makan

 

Tarif2 diatas memang terlalu murah bila di banding tarif di penyelenggara lain (Jl.Dipati Ukur Bandung tarifnya 450rb blm trmsk makan ; di Jkt all in  800rb) namun mengingat BPTg itu Non Profit  dan misinya antara lain merevitalisasi usaha pensiunan, maka dg tarif termurah tsb harus tetap bisa menyelenggarakan WS Shibori dan Praktek Bareng Bikin Shibori

Nuhun; (Pan Supandi-BPTg)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code