Selingan

Review Film Contagion 2011 Paranoid AS Pada Virus Dan China

(kompasiana.com)-Hayo kita simak kembali Film tahun 2011 sebagai berikut : (Directed : Steven Soderbergh; Written by : Scott Z. Burns dengan bintangnya : Gwyneth Paltrow; Jude Law; Kate Winslet; Matt Damon; Laurence, Marion Cotillard Thrill Rate : ****(4/5)

Contagion (2011) Paranoid Amerika pada Virus dan China

 

KEREN, itu pertama terucap setelah saya nonton film ini hingga credit title-nya habis. Jarang saya dapat tontonan sebagus dan secerdas Contagion ini. Padahal filmnya sebagai film kategori “berat” menurut saya. Karena fim ini banyak pakai istilah medis yang saya nggak ngerti dan harus nanya ke mbah Google.

 

Sutradara Steven Soderbergh patut di acungi jempol dalam mengelola medic thriller ini ingga jadi hiburan tidak membosankan, membuat penasaran, orang tenang hingga film berakhir. Apalagi dilibatkannya aktor dan aktris papan atas di film ini membuat film ini layak untuk ditonton. Jika dibandingkan, thriller gak rumit ala Inception-nya Christopher Nolan dengan balutan unsur medis.

 

Contagion (tejemahan bebasnya : penularan). Menilik judulnya, udah ketebak, film ini tentang epidemi penyakit atau virus. Cerita diawali dengan Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) duduk sambil minum dan makan kacang di bandara.

 

Beth nampak tidak sehat dan batuk serta mirip orang demam atau flu. Saya heran, cara sutradara AS menggambarkan orang terjangkiti virus, pasti pakemnya orang batuk dan seperti orang terkena flu. Tapi, mungkin itu cara yang efektif bagi sutradara dalam mendeskripsikan yang terjangkiti virus.

 

Ada adegan pendek tentang orang di China, Inggris dan Jepang yang sama sakitnya kena virus seperti Beth Emhoff dan wafat setelah kejang dan mulutnya berbusa. Orang ini jadi awal petaka penyebaran epidemi virus. Beth wafat dan anaknya ikut meninggal karena sempat dipeluk oleh ibunya sesaat setelah Beth sampai di rumah.

 

Suami Beth, Mitch Emhoff (Matt Damon) kebal pada virus ini, meski sempat dikarantina di RS tempat istrinya dirawat. Anak perempuan Mitch, Jory Emhoff (Anna Jacoby-Heron), tinggal di kota lain, kebal dan menemani ayahnya setelah bunda dan adiknya wafat. Disini dimulai petualangan Mitch dan Jory untuk bertahan hidup di lingkungan yang kacau akibat epidemi virus.

 

Pemerintah AS, melalui CDC (Center for Disease Control) dan WHO, berpacu dengan waktu untuk menemukan vaksin virus mematikan ini. Mulai dari dokter, peneliti, dan ahli virus saling bahu membahu menemukan vaksinnya. Virus ini kategori mematikan dan diduga dari virus pada kelelawar dan babi yang bergabung dan membentuk strain baru.

 

Cara penularannya, kontak dengan pengidap atau melalui barang yang disentuh  pengidap virus. Orang yang terjangkiti bisa mati, kurang dari 8 jam (kalau nggak salah, maklum, banyak detail di film ini). Agen intelejen khusus epidemi dari CDC yang menyelidiki adalah Dr. Erin Mears (Kate Winslet), kepala tim CDC (atasan Erin) yaitu Dr. Ellis Cheever diperankan oleh Laurence Fishburne.

 

Saat chaos, agar film ini lebih seru, dimasukkan Alan Krumwiede (Jude Law), seorang blogger yang ngakunya jurnalis freelance, untuk memancing di air keruh. Alan yang kebal virus, di video di blognya, pura-pura sakit dan minum forsythia (obat yang kata Alan manjur untuk virus ini) agar dia sembuh.

 

Alan menuding pemerintah AS memiliki konspirasi dengan perusahaan farmasi sehingga forsythia dibatasi. Begitu pula dengan pembuatan vaksin anti virus ini yang dirahasiakan agar kalangan tertentu saja yang dapat manfaat pertama kali dari vaksin ini.

 

Di China, peneliti dari WHO, Dr. Leonora Orantes (Marion Cotillard) yang menyelidi penyebaran virus ini, ternyata diluar dugaan. Dia disandera pemerintah China dengan tebusan vaksin virus ini, karena korban terbanyak virus ini adalah China. China dituding sebagai asal penyebaran virus, karena sebelum sakit dan meninggal, para penyebar virus di Inggris, AS, dan Jepang sempat ke China.

 

Film ini lebih kompleks, bertema epidemi virus, seperti Outbreak (1995) atau The Crazies (2011). Kekuatan film ini pada plot yang makin membuat orang ingin lebih tahu. Pertanyaan dasar film seperti, siapa penyebar virus ini dan benarkah ada konspirasi dibalik virus ini, terjawab satu persatu.

 

Karakter di film ini tidak dieksplorasi secara kuat, mungkin agar penonton berpikir global tanpa harus tahu latar belakang karakter utama yang terlibat. Tidak seperti The Crazies yang memposisikan karakter utama sebagai the only survivor dalam epidemi virus, atau peneliti yang super hero berpacu dengan waktu dalam Outbreak

 

Disini kita diajak melihat dampak epidemi lebih menyeluruh dari berbagai sudut pandang. Kekuatan social media di abad 21 ini  kuat mempengaruhi pola pikir masyarakat, apalagi kondisi chaos yang digambarkan dalam film ini.

 

Buktinya, Alan dalam blognya telah mempengaruhi orang AS antri mendapatkan forsythia demi kesembuhannya, padahal itu hoax. Pemerintah AS di film ini juga terkesan menutupi kejadian epidemi virus ini dan vaksinnya, sehingga Alan makin bebas menyebarkan hoax demi keuntungan pribadinya.

 

Hal hal yang “menyentil” di benak saya saat nonton film ini, sifat AS yang sok super hero, terlalu “parno” yang namanya virus dan mengkambinghitamkan China yang seakan  jadi “sarang” virus virus mematikan di dunia. Di film ini digambarkan seolah China asal perkembangbiakan virus dan AS berhasil menemukan vaksin untuk mengobatinya.

 

Pendeknya, AS bisa menyelamatkan dunia dari krisis. Saya ingat saat Hollywood membuat film Rambo (1980-an) setelah AS kalah perang dengan Vietnam. Rambo ini digambarkan super hero yang mampu melawan ratusan tentara Vietcong dengan senjata seadanya. Hollywood seakan membalas kekalahan AS melalui Rambo.

 

Mungkin analogi yang sama berlaku untuk Contagion ini, karena China menunjukkan taringnya sebagai titan ekonomi terkuat di Asia, sehingga AS “ngeper” juga melihat perkembangan ekonomi China yang makin maju. Mungkin AS seakan melakukan “black campaign” pada China, melalui Contagion ini.

 

Ada hal positif bisa kita petik dari Contagion ini. Seperti cepat tanggapnya CDC dalam menangani epidemi virus ini atau pelajaran hidup tentang kerelaan berkorban demi kemaslahatan orang banyak. Seperti dilakukan ahli virus yang menyuntik dirinya dengan prototype vaksin yang dia  gak tahu efeknya.

 

Sebagai penutup, film ini layak ditonton penggemar film thriller yang lebih mementingkan plot dan perspektif berbeda, dibanding kemampuan karakter utama untuk meloloskan diri dari krisis.

 

Everybody in this movie are heroes, karena film ini kental mengupas penyelesaian krisis menyeluruh, bukan personal. Ending film ini akan terjawab asal muasal virus ini, jadi jangan buru-buru beranjak dari tempat duduk sebelum film selesai.

 

(Firman Darmawan; Bahan dari : https://www.kompasiana.com/firman.d/550b09ada33311951d2e3b10/review-film-contagion-2011-paranoid-amerika-pada-virus-dan-china)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close