P2Tel

Lari pagi

Lain padang lain belalang. Di Bandung saja suasana lari di Sabuga beda dengan di Saparua. Lari pagi di hutan pakar Juanda beda dengan di hutan buatan Tegalega. Lari di jalan-jalan di Bandung, beda dengan lari di jalanan Balikpapan atau Medan. Para pelari biasanya merasakan dan menikmati perbedaan ini,
untuk melenyapkan kebosanan. Berlari memang membosankan, akan tetapi pikiran bosan bisa dikalahkan dengan mencoba suasana yang lain di tempat yang tidak sama.

Di negeri orang pelari sangat dimanjakan. Trek lari khusus yang ditaburi pasir tipis, serta dilengkapi dengan beberapa fasilitas peregangan otot dan bangku istirahat disediakan di beberapa tempat. Pinggiran sungai, menjadi tempat favorit pelari. Pohon-pohon bunga ditanam di sepanjang trek lari,
menambah keindahan suasana.

Berlari di berbagai cuaca juga tidak ada salahnya dicoba. Pernah pada suhu -18 C, saya nekat lari, ternyata masih banyak pelari lain yang menemani. Tapi nasihat saya hilangkan niat lari di Tanah Suci. Pengalaman saya hampir saja gagal ber-haji karena pengin mencoba lari pada suhu 38 C. Tanah suci buat
beribadah, bukan tempat menyombongkan diri di muka Allah.

 

Dulu saya saat mendung atau gerimis malah turun berlari sambil mengharapkan saat berlari turun hujan lebat, kapan lagi bisa berhujan ria bernostalgia. Sekarang setelah rambut memutih, saya tahu diri, perbuatan aneh itu tidak pernah saya lakukan lagi.

Saling melambai dan bertukar senyum sesama pelari juga hal yang sudah sangat lumrah di negeri sana, tidak seperti di Bandung jarang saya saling mengangguk bila bertemu dengan pelari lain. Paling senang saya lari di Jogya, kota senyum. Banyak sekali saya menerima anggukan dan senyuman selama berlari menyusuri  jalanan di Jogya.

 

Bahkan orang yang sedang mengobrol dengan tetangganya juga kok ya sempat-sempatnya menghentikan obrolan mereka dan mengangguk ke arah saya, saat saya melintas. Ketika saya berlari mengelilingi Alun-alun Selatan, dekat plengkung Gading, seorang anak muda ikut berlari di samping saya dan mengajak ngobrol. Itulah Jogya.

Pagi itu saya lari pagi di komplek Velodrome Rawamangun Jakarta. Pada saat keringat deras mengucur, saya melihat seorang murid sekolah yang berbadan tinggi besar, keriting menghadang lari saya. Sempat saya berpikir wah salah saya apa kok mau dipukul. Tiba-tiba ia meraih tangan saya dan
menciumnya. Aneh … (SH; 20120615)

Catatan :

Berikut tanggapan dan pengalaman dari pensiunan lainnya soal jogging di Djokdja
Menurut saya memang “orang Djokdja” lebih ramah pada orang jogging(lari). “Tempo-tempo di Yogyakarta saya menjalani rute jogging dari KotaBaru ke mBarek (utara Kampus UGM) pp, tepatnya stop di warung Gudeg Yu Djum (enak tenan), senam sebentar lalu lalu jogging kembali ke Kotabaru, sampai di Kolam Renang Umbang Tirto bisa berenang sebentar.

Rute ini start dari KotaBaru, pasti lewat Kantor Telepon Jl.Soeroto, di Korem Pamungkas terus nyebrang ke jl.Cik Di Tiro (lewat Univ.UII, RS.dr.Yap, RS PantiRapih), masuk Kampus UGM sampailah di mBarek. Ku-katakan “orang Djokdja” ramah karena gatuk-muka” saja mereka aktif menyapa apalagi kita menyapa lebih dahulu pasti ada sapa-an singkat. Sepanjang jalan ini banyak pangkalan becak dan warung kecil. Jogging di Djokdja harus pagi-sekali, paling lat brangkat pukul 05:00wib, maklum matahari cepat muncul dan jaman sekarang banyak motor wora-wiri.

Baidewai, bila berkunjung kota Blitar – tak lupa saya jogging sampe Makam Bung Karno di BendoGerit (atau Kuburan Karang Mulyo). Saya selalu rehat sebentar di depan Perpustakaan. Herannya setiap hari – sampai subuh ada saja bertemu orang-orang yg usai tirakatan semalam di makam BK ini. Terlebih di hari-hari “tertentu” (hari ultah, weton BK, Jum’at Kliwon, Selasa Kliwon, Kemis Paing, ..?) banyak orang-orang yang nyekar, “sowan”, tirakatan di makam BungKarno bisa ber-bis-bis (puluhan). Tertib. Mereka begitu sangat setianya pd Bung Karno. Memang BK di hati rakyat, ya?  Salam ” jogging.” (ThW)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version