P2Tel

Kyai Kromowidarso

Cantik nJawani, itulah kesan saya saat masuk ke dalam masjid kecil di Makam Kuncen. Masjid ini bernuansa hijau, dengan cungkup (atap) ganda arsitektur khas mesjid-mesjid di Jawa, itulah yang saya maksud dengan nJawani. Arsitektur tradisionil-nya sungguh memukau. Pada atap mesjid dihiasi dibagi empat kotak, dengan kaligrafi yang di pahatkan ke kayu, berwarna kehijauan dengan hiasan semburat kuning yang agung.
Lubang angin-angin diantara kedua atap dihiasi kaca hias kuno, menyejukan sekaligus menjadi penerang ruang dalam mesjid. Ukiran-ukiran kayu memenuhi tiang dan blandar di payon mesjid. Usuk-usuk yang miring disusun simetris dan sengaja di expose agar tampak dominasi kayunya.

 

Antara lantai dengan dindingnya, sengaja di pasang papan tipis yang cukup tinggi, sekitar 40 cm, seakan ingin menunjukan hegemoni kayunya. Saya periksa tempelan baik ke lantai maupun ke dinding, tidak ada celah sedikitpun yang memungkinkan hewan kecil bersarang, menunjukan keahlian tukang-tukang jaman dahulu.

 

Mesjid dan Sekolah Dasar ini pada bagian samping dan belakangnya dikelilingi oleh makam yang
cukup luas. Dari jendela-jendela yang terbuka, jamaah mesjid disuguhi pemandangan nisan-nisan makam, seolah mengingatkan pengunjungnya, itulah terminal akhirmu nanti !

Selesai shalat lohor, saya punya banyak waktu. Sambil menghabiskan waktu, disebuah sisi makam, iseng-iseng saya memperhatikan usia penghuni makam saat mereka menghuni rumah akhirnya itu. Saya mencoba menghitung 50 buah makam orang dewasa dan mangabaikan makam-makam bayi balita yang juga banyak di makamkan disana.

Anehnya, dari 50 yang saya hitung, tidak saya temukan penghuni yang berusia belasan, likuran atau tiga puluhan. Yang termuda adalah 41 tahun. Usia 40-an 6%, Usia 50-an 12%, usia 60-an 26%, usia 70-an 28%, Usia 80-an 20% dan usia 90-an 8%. Saya pikir saya tidak mendapatkan lagi penghuni yang berusia lebih dari 94 tahun, tertua. Tapi saya sungguh terkejut melihat makam Kyai Kromowidarso yang wafat pada tanggal 30 Desember 1993 pada usia 114 tahun!

Usia rahasia Illahi, lagi pula kita tidak dinilai dari usia kita meninggal. Tapi setidaknya, mengingatkan kita bahwa sudah bau tanah juga. Semoga bekal kita cukup untuk kembali pada tempat yang nyaman kelak. Aamiin. (Sadhono H)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version