P2Tel

Pesona Gunung Merapi

Yang ringan, kutipan dari blog teman : Salah satu land-mark Jogya adalah gunung Merapi. Meskipun saat Merapi batuk, banyak menyusahkan orang, namun Jogya patut berterima kasih kepada gunung yang paling aktif sejagad ini.
Kesuburan kawasan sekitar Merapi luar biasa. Di dukung petani Jogya yang rajin, tanah di sini tidak ada putusnya ditanami. Berseling sayuran, padi atau tembakau, hijau sepanjang tahun. Konon berkat berkah Merapi-lah, Jogya memiliki Salak Pondoh yang tidak ada duanya.

 

Salak Pondoh ya hanya lezat bila di tanam di sini. Di desa-desa sekitar Merapi banyak sekali sungai-sungai kecil yang airnya jernih. Suaranya gemericik, mengalir disela-sela bebatuan dan kerimbunan semak bambu atau pokok kelapa. Wow, kahayangan mungkin suasananya seperti ini.

Ternyata lukisan Merapi berbeda-beda, tergantung dari arah mana orang memandang. Merapi yang paling indah bila dilihat dari arah selatan atau Barat Daya, kedua sisinya hampir simetris
dengan sudut elevasi sekitar 60 derajat.

Puncaknya yang ramping menjulang keatas, seakan sosok bangunan bukan kreasi alam tapi hasil karya bocah kecil yang membuat gunung pasir. Karena pemandangannya yang indah, maka ada beberapa tempat memandang Merapi dari bukit di kawasan Turi, Pakem, Kaliurang dan
Muntilan Jawa Tengah.

Tak heran, bila kawasan Kali-urang saat ini orang seakan berlomba membangun tempat hunian yang sejuk, segar dan indah pemangangannya. Bagi pendatang sosok gunung ini sangat mempersona. Dari tempat yang sama, setiap hari Merapi dengan awan tipisnya menyajikan lukisan yang berbeda-beda,
tentu saja bila cuaca cerah tidak mendung.

Dari arah Timur dan Tenggara, baru orang sadar bahwa di puncak Merapi ada celah yang sangat lebar yang terbentuk dari berulang kali letusan. Bagi saya, pemandangan dari arah ini tidak sebagus dari arah Selatan.

Merapi juga menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kawasan ini, dari keusilannya yang konon pernah menimbun Candi Borobudur sampai persahabatannya dengan penguasa
Mataram. Merapi yang kokoh ini kadang-kadang memang berulah, namun Jogya tanpa Merapi laksana wayang kulit kehilangan gapitnya. Salam Merapi
(Sadhono Hadi; Creator of Fundamen Top40; http://fundamen40.blogspot.com; salah satu fan Merapi)

Catatan dari Agus P :

Wah hebat sekali pak Dhon, tulisan tentang Merapi dibaca pagi hari sambil nyruput susu jahenya Sido Muncul (bukan promosinya Wali) plus balok (singkong goreng ala Jogya) ato blanggreng (singkong goreng ala Solo).

 

Selain banyak tanaman subur dengan beraneka macam dan hasilnya uenak tadi, itulah yang namanya musibah membawa berkah. Apapun yang ditanam tumbuh subur dan hasilnya bagus, luar biasa dampak gunung berapi. Ada satu tempat lagi untuk meneropong keadaan puncak Merapi yaitu dari KETEP PASS yang terletak disebelah utara kota Blabak Magelang.

 

Dan kali ini Merapi tidak lagi seganas 26 Oktober 2010 ketika terjadi erupsi awan panas 700° C yang sangat dahsyat dengan Wedus Gembelnya yang mengakibatkan 39 orang di Kinahrejo desa tempat mbah Maridjan wafat, tentunya ratusan lagi ditempat lain. Kini sudah berubah menjadi alam yang subur dan menjadi area Wisata Vulkano Merapi.

Para Wisatawan bisa menyewa ojek Rp.20.000,- dan diantar ke desa tertinggi sbelum batas dilarang mendaki ato desa Kinahrejo tempat mbah Maridjan tinggal waktu itu. Selain itu bisa berkeliling ke daerah-2 bekas keganasan Wedus Gembel dengan menyewa Jeep terbuka ala Off Roader Rp.250.000,- bisa 5 orang, betul nikmat dan mengasyikan.

 

Nah, selain hasil tanam-2an yang subur, juga hikmah lain yaitu pasir bangunan yang tak pernah habis walau ber-puluh-2 truk mengambil setiap hari, Subhannallah. Ketika kita sudah lelah berkeliling, jangan lupa ngicipi burger Merapi lho . . . . ! Apa itu?. Jadah setangkep tengahnya diselipin tempe bacem, wah nikmat n asyik. Betul pak Dhon, Jogya tanpa Merapi ibarat Wayang kelangan gapit (AP)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version