P2Tel

Menyuburkan Keimanan

Mengapa Alloh Swt menurunkan syariat utk mendidik manusia sepanjang hayat, yang bersifat harian (yaumiyyah), mingguan (usbu’iyyah), bulanan (syahruyyah), tahunan (amiyyah) dan sekali seumur hidup (marrotan fil’umri)?.

Sehari semalam kita diwajibkan sholat 5 waktu, dalam sepekan diwajibkan sholat jum’at dan dianjurkan puasa senin kamis, dalam sebulan dianjurkan berpuasa pada hari-hari purnama. Begitu pula dlm setahun diwajibkan puasa ramadhan dan disunnahkan sholat Idul Fitri dan Idul Qurban.

 

Sekali seumur hidup wajib menunaikan ibadah haji ke Baitulloh. Alloh Swt sengaja membuat siklus di mana kita berputar dlm kondisi ibadah secara konstan. Tujuannya agar manusia bisa menyuburkan keimanannya secara berketerusan dan terjaga dari hal-hal yang dilarang.

Dlm rangka menyuburkan keimanan, kita perlu membuat standar ibadah. Dlm sehari-hari, paling tidak ada 7 jenis standar ibadah yi : Pertama, Sholat fardhu di masjid secara berjamaah. Kedua, sholat sunnah rawatib, qobliyah dan ba’diyah sebagaimana Rasul Saw secara berkesinambungan selalu menjalankan sholat sunnah rawatib 12 rakaat.

 

Ketiga, membaca Al Qur’an sebanyak 1 juz sehari (atau semampunya), sebab hati itu bisa berkarat seperti besi, dan cara menghilangkannya, menurut Rasul Saw dengan membaca Al Qur’an dg menghadirkan hati. Keempat, wirid secara berkesinambungan (mudawamah) dan konsisten (istiqomah). Kelima sholat dhuha. Keenam, sholat tahajud. Ketujuh, bersedekah, walaupun hanya sedikit.

Demi menjaga ritme dan stamina spiritual, ibadah harian yg bersifat rutin perlu dipertahankan dg sikap istiqomah serta membiasakan diri dengan menyediakan waktu khusus utk bermuhasabah. Dlm sepekan siapkan waktu utk bertafakur, menganalisa diri selama sepekan, adakah fikiran dan amalan yg menyimpang, apa saja akhlak negatif yang msh melekat yg sulit ditinggalkan. Kita kontrol keseharian kegiatan, karena syetan selalu mengintai setiap celah kelemahan manusia.

Jika tergelincir dan melakukan kekhilafan, segera bangkit dg 3 cara ; Pertama, jika terjebak dlm perbuatan fahsya atau dzalim segeralah sadar dan langsung beristighfar (QS Ali Imran 135), jadi mekanisme kesadaran perlu dijaga setiap saat.

 

Kedua, setiap melakukan kejahatan/keburukan susullah dg kebaikan baru utk menutupinya, karena setiap melakukan maka kejahatan itu akan mengajak saudaranya yg lain, kejahatan itu beranak pinak, jika kaki melangkah ke tempat maksiat, pasti mengajak pelanggaran berikutnya. Ketiga, berilah sanksi (iqob) thd diri dg amalan baik, seperti infaq dll, pd saat yg sama kita tunjukkan penyesalan di hadapan-Nya bahwa kita tdk akan mengulangi kejahatan yg sama.

Jika sedang semangat melakukan ibadah, lakukanlah ibadah sebanyak mungkin, baik secara kuantitas maupun kualitas, lompat dari yg wajib menuju yg sunnah, jika terjadi stagnasi, futur (malas stlh giat), minimal pertahankan yg fardhu a’in, (catatan NH pribadi : namun kondisi yg terakhir tdk boleh berketerusan, tapi lakukanlah kembali yg sunnah, karena Alloh Swt sangat menyenangi hamba-Nya yg melakukan amalan-amalan sunnah (nawafil). (Nanang Hidajat; Diambil dari artikel “Kiat Menyuburkan Iman kpd Allah Swt” dlm Majalah Hidayatullah)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version