P2Tel

Penemuan Garis longitude

Di samping karyanya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Putri Galileo (diterbitkan oleh Mizan, 2004), Dava Sobel menulis karya tentang sosok John Harrison-tukang kayu yang menggegerkan jagat navigasi Eropa abad ke-18.

Longitude, judul buku ini, mengisahkan upaya para ilmuwan untuk menentukan garis bujur (longitude) secara akurat. Namun Harrison-lah orang pertama yang mampu menciptakan alat praktis dan akurat untuk menentukan garis bujur di laut.

longitude Ciptaan Harrison itu sumbangan berarti bagi dunia navigasi pada abad ke-18. Kekuatan angkatan laut Belanda-Inggris-Spanyol (yang melebarkan kekuasaan lewat kolonisasi di berbagai wilayah Bumi) memetik keuntungan dari temuan Harrison. Kehadiran alat praktis penentu garis bujur ini sangat diperlukan bagi kapal pengangkut barang perdagangan dan armada AL yang blalu-lalang di laut lepas.

Pentingnya temuan alat ini ditelusuri Dava Sobel dari berbagai dokumen. Para raja negara kecil (dari segi ukuran wilayah) namun besar dalam menguasai wilayah jajahan yang luas menjanjikan hadiah besar bagi yang sanggup memecahkan masalah ini. Belanda-Inggris-Spanyol-Prancis paling berkepentingan. Kesalahan penentuan garis bujur menyebabkan banyak kapal yang tersesat dan dihantam bencana.

Sebelum abad ke-18, navigator lautan tidak ada cara yang akurat menentukan garis bujur. Kegagalan ini menyebabkan kapal kehilangan arah tujuan, menabrak karang, dan tersesat jalan. Harrison, mantan tukang kayu, mampu memecahkan persoalan paling sukar pada masa itu dengan menciptakan chronometer (penunjuk waktu)—yang dalam pikiran para ilmuwan zaman itu mustahil dilakukan.

Johannes Werner, astronom Jerman, pada 1514, menggunakan gerakan bulan penentu garis bujur suatu tempat. Ia memanfaatkan peta benda langit-matahari-planet-bulan, lalu mengukur jarak bulan pada waktu tertentu dengan benda langit itu. Metode ini rumit dan tidak praktis bagi pelaut. Pada 1610, Galileo menawarkan metode lain yang juga dianggap rumit.

Prinsip yang dipakai Harrison sederhana. Bila pelaut mengetahui waktu dan garis bujur suatu lokasi yang menjadi referensi, misalnya pelabuhan pemberangkatan kapal, dan kemudian mengetahui dengan tepat waktu di lokasi tertentu, maka pelaut dapat mengonversi perbedaan waktu itu menjadi jarak geografis.

 

Karena Bumi perlu waktu 24 jam untuk melakukan satu revolusi penuh (360°), maka satu jam waktu setara dengan satu per 24 putaran atau 15°. Dengan mengetahui perbedaan waktu antara lokasi dengan waktu di lokasi referensi, pelaut dapat menghitung berapa derajat jarak geografisnya. Dari perbedaan ini, pelaut dapat menentukan garis bujur posisinya saat itu.

Tantangannya ialah menciptakan jam yang mampu menunjukkan waktu secara akurat walau pelaut tengah mengarungi lautan berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Hingga saat itu, belum ada penunjuk waktu yang cukup akurat untuk itu, apa lagi jika penunjuk waktu harus ikut mengarungi lautan dan terpapar oleh temperatur, kelembaban, dan gerakan gelombang yang berbeda. John Harrison mampu menciptakan penunjuk waktu (chronometer) yang mampu mengatasi tantangan tersebut.

Harrison menghabiskan 4 dekade untuk menyempurnakan jam yang membuatnya diganjar hadiah oleh Raja Inggris George III. Harrison memberikan jalan keluar berupa solusi mekanik yang tak terbayangkan oleh komunitas ilmuwan masa itu. Tukang kayu ini telah menyelesaikan tantangan para raja Eropa.

Buku ini sebenarnya terbit tahun 2006, namun kisahnya tidak lekang oleh waktu. Sobel menulis begitu piawai dengan meramu perkembangan astronomi dan navigasi, persaingan di antara penguasa Eropa, intrik-intrik politik, dan perburuan ilmiah terhadap sebuah alat karena janji hadiah yang sangat besar.

Walau tak sedramatis Putri Galileo yang begitu detail dan manusiawi, dengan Galileo Galilei dan putrinya sebagai fokus, Sobel dalam Longitude telah menyingkapkan satu babak sejarah upaya manusia dalam memecahkan teka-teki alam. Karya ini tidak begitu tebal, namun memberikan sumbangan berarti bagi sejarah sains. (Adi Djoko)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version