P2Tel

Theo Suryawan, Ir.(2)

Tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan POSTEL
[Catatan : memenuhi saran pak Sadhono H, berikut riwayat ketokohan Ir. Theo Suryawan, alm. wafat 14/10/13;  yg dikutip dari buku terbitan Ditjen Postel, 1985. Perlu diketahui bahwa cikal bakal tautan sistelnas ke telkom global masa kini, awalnya dirintis oleh para teknisi senior Telkom]

Sejajar dengan tumbuhnya gerak otomatisasi telepon, di Laboratorium PTT Tegallega para teknisi juga sibuk mempelajari sistem transmisinya untuk mempersiapkan SLJJ. Sistem “carrier on line” yang telah ada dianggap sudah tidak memadai, dan pada waktu itu sedang mulai dipelajari sistem gelombang mikro. Jenjang Ir. Theo adalah tepat.

 

Setelah membekali diri dengan konsep otomatisasi telepon, ia beralih tugas yang lebih luas jangkauannya untuk merencanakan dan membangun telekomunikasi, yaitu di Bagian Konstruksi. Disini Ir.Theo Suryawan berkesempatan untuk turut memikirkan sistem transmisinya.

 

Tumbuhnya radio sinar pada permulaan dikembangkannya sistem transmisi yang kemudian diganti dengan sistem microwave yang sampai sekarang masih tetap diandalkan, telah menambah khasanah pengalaman konsepsi Ir. Theo Suryawan tentang pengembangan dan modernisasi telekomunikasi selanjutnya di Indonesia.

Suatu hal yang mengesankan dalam pelaksanaan pembangunan misalnya di Jakarta. Pada waktu itu Kdtelnya adalah Ir. M.Yunus. Masalahnya adalah pembongkaran lapangan Merdeka menjadi lapangan Monas seperti yang sekarang kita kenal. Lapangan Merdeka pada waktu itu penuh dengan kantor-kantor, termasuk kantor Telepon Gambir dan Biro Kdtel Jakarta yang menjadi satu.

 

Presiden RI Bung Karno memerintahkan semua kantor sekitar Lapangan Merdeka harus dipindahkan. Batas waktunya sangat singkat, pada waktu itu mungkin satu tahun. Gedung telekomunikasi yang megah di Merdeka Selatan (STO Gambir) dan Kantor Kawitel IV di Slipi, itulah hasil kerja kerasnya yang dapat diberikan kepada PTT pada saat itu. Sangat mengesankan!

Dengan bekal yang sudah memadai itu, Ir. Theo Suryawan pada tahun 1967 diserahi tugas perencanaan telepon dan telegrap yang secara teknis adalah menyeluruh. Lain halnya dengan pengalaman di Denpasar sebagai Kdtel. Di daerah ini, ciri khasnya banyak diselenggarakan konperensi internasional.

 

Namun demikian kebanyakan para petugas pelaksana, baik dari daerah maupun pusat, pada umumnya sudah cukup berpengalaman, Cuma kadang-kadang memang memerlukan perhatian yang sangat khusus dari Kdtelnya sendiri.

Dari pengalamannya yang kian luas Ir. Theo Suryawan dipandang masak untuk memimpin perusahaan telekomunikasi ini dibidang Optek. Sebagai Diroptektel Ir. Theo Suryawan puas dengan terlaksananya pembangunan SKSD Palapa yang jangkauan dan dampaknya serba nasional Nusantara. Ini merupakan keberhasilan dan kebanggaan bukan saja bagi Perumtel, tapi bahkan bagi segenap bangsa Indonesia.

Setelah menjabat Kadittel di Ditjen Postel dan juga sebagai Dewan Pengawas PERUMTEL pada saat ini, pengamatan Ir Theo Suryawan terhadap telekomunikasi di Indonesia pada umumnya, dan khususnya terhadap PERUMTEL, tentunya, sudah lebih tajam dan lebih obyektif lagi.

 

Hal ini kiranya perlu untuk dikaji oleh generasi muda dalam turut menggerakkan roda telekomunikasi kita dalam gerak langkahnya untuk masa-masa mendatang. Tidak ayal lagi, bahwa telekomunikasi khususnya telepon adalah sangat penting bagi suatu pembangunan bangsa. Menteri Parpostel baru saja duduk dalam suatu kelompok yang disebut IICWTD yang menyatakan bahwa telekomunikasi sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa.

 

Ir. Theo melihat bahwa telekomunikasi, khususnya telepon di Indonesia masih belum sempurna. Dikawasan ASEAN kepadatan telepon kita per penduduk adalah yang paling rendah. Yang tinggi sudah jelas Singapura. Gagasan-gagasannya pada waktu itu ialah agar dapat memberikan telepon secara cukup kepada masyarakat sehingga dengan demikian pembangunan bangsa akan lebih cepat dapat dilaksanakan, bahkan dipacu.

Tentang masalah keuangan PERUMTEL sebetulnya tiap tahun meningkat terus incomenya. Suatu gambaran kasar, pada waktu ia di Denpasar sebagai Kdtel pendapatan PERUMTEL masih sekitar 7-8 milyar rupiah per tahun. Waktu ia menjabat Diroptektel di Bandung sekitar 20-30 milyar rupiah, waktu ia pindah ke Jakarta sekitar 130-150 milyar dan sekarang sudah sekitar 300- 400 milyar rupiah.

 

Ini peningkatan yang jelas sekali terlihat, namun apakah dengan peningkatan pendapatan yang terus menanjak ini PERUMTEL mampu memenuhi permintaan masyarakat yang juga menanjak seperti sekarang ini? Dengan lain perkataan: mampukah PERUMTEL membiayai sendiri pembangunannya secara normal?

Memang masalahnya terletak pada uang. Keuangan untuk membangun telekomunikasi, memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengejar ketinggalan di lingkungan negara-negara ASEAN. Segala sesuatu memerlukan uang. Dan untuk mendapatkan uang dalam situasi seperti sekarang ini, bagi PERUMTEL untuk membangun, memang susah.

 

Menteri Parpostel mengharapkan agar PERUMTEL cepat-cepat diberikan izin untuk mengeluarkan obligasi, akan tetapi sampai sekarang belum dapat dipenuhi persyaratannya pada Perumtel sendiri. Sumber lain dari kredit bank, sekarang bunga bank cukup tinggi, dan sebagainya. Pokoknya soal keuangan untuk pembangunan memang merupakan penghalang yang paling besar hingga saat ini.

Hambatan lain, juga prosedur yang masih cukup sulit dalam pelaksanaan pemba¬ngunan. Diperkirakan bahwa masih memerlukan cukup waktu untuk bisa memper¬mudah prosedur seperti dalarn hal pengadaan tanah, pembelian barang dan sebagainya.

Akhirnya Ir. Theo Suryawan pesan, terutama untuk generasi muda, agar PERUMTEL bisa maju, kita harus bekerja keras, berdedikasi tinggi dan berkemauan yang besar untuk menyumbang tenaga dan pikiran kepada PERUMTEL Citra masyarakat kepada PERUMTEL tergantung dari pada pemenuhan pelayanan, apakah masyarakat mendapat pelayanan yang baik atau tidak, apakah pelayanan telepon atau jenis jasa telekomunikasi yang lain. Kalau ini terpenuhi, citra masyarakat akan baik.

Ir. Theo Suryawan, pada tahun 1985 ini usiaya sudah mencapai 55 tahun, walaupun ia baru berdinas di Postel sekitar 26 tahunan. Pada tahun 1979 ia menerima piagam masa kerja bingkai perak dan pada tahun 1984 bingkai emas.

Dalam menjalankan tugasnya yang terakhir sebagai Anggota Dewan Pengawas PERUMTEL sekarang ini, Ir. Theo Suryawan tinggal bersama keluarganya dirumah Jalan Pulaumas Raya nomor 59 Jakarta Timur.
Selamat jalan… pak Theo Suryawan. (Rizal Chan)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version