Kepada rekan anggota pensiunan, saya linformasikan hasil “nglakoni” Tiger Diet selama 3 hari sebagai berikut :
1.Berat badan semula 71 kg turun jadi 70 kg.
2. Kolesterol total 190.
3.Trigliserid 125.
4.Uric Acid 6,3
5.Gula puasa 100.
6.Gula 2 jam pp 135.
7. Kondisi fisik muka jadi kelihatan tirus.
8.Keluhan badan pada hari ke 3 rodo leles/ merasa lemes.
Atas dasar hasil Diet tersebut saya menyarankan sebagai berikut :
1. Nggak perlu nglakoni Tiger Diet.
2. Otot tangan dan kaki terasa kaku.
3. Lihat nasi dan lauk pauk jadi hoyooong pisan.
4. Selama diet badan merasa sumuk terus, meskipun banyak minum.
Kesimpulan :
Kurang mangfaat atau manfaat tidak maksimal. (Ditulis dan pengfalaman dari Bambang Setyawan)-FatchurR
————
Agar tidak penasaran, maka berikut disajikan tentang Diet Tiger
Sehat dengan mengenal kodrat tubuh
Agar sehat hendaknya tidak melawan kodrat tubuh kita. Ini adalah respons atas pertanyaan yang sering diajukan ketika seminar antara lain seperti ini. Dalam hal kesehatan saya melihat begitu banyak anjuran, aliran, keyakinan alternatif yang sebetulnya tidak bersesuaian dengan kodrat tubuh kita.
Kalau kita mematuhi sesuai yang dibutuhkan tubuh (kodratnya), niscaya kita sehat. Soal memilih proporsi makanan harian misalnya. Amati gigi geligi kita, yang lebih banyak geraham pengunyah sayur dibanding gigi seri menggigit bebuahan dan paling sedikit taring hanya 4 buah sebagai pengerat daging.
Dalam bahasa Gizi, tubuh meminta paling banyak sayur-mayur (seperti yang dilakukan kambing), kemudian buah2an (dilakukan kera), dan daging-dagingan (harimau). Namun yang terjadi, manusia lebih banyak mengonsumsi daging (“Tiger Diet”) dan itu yang membawa kebanyakan orang sekarang memasuki penyakit metabolisme.
Food additive dalam makanan restoran, dan jajanan, berupa pengawet, pewarna, penyedap, perenyah, dan pemanis buatan, itu semua bersIfat asing bagi tubuh. Dan hal lain soal pembagian apa yang boleh dan tidak boleh dimakan saat sarapan, makan siang, dan makan malam, atau memilih makanan sesuai dengan golongan darah tidak masuk nalar medik.
Selama belum bisa dibuktikan kalau “mesin” tubuh orang berbeda-beda sesuai dengan golongan darahnya, susah menerima keharusan perbedaan menu yang dilarang dan diperbolehkan untuk golongan darah tertentu. Menurut Ilmu faal (physiology) “mesin” tubuh semua orang dengan golongan darah apa pun tidak berbeda
cara kerja maupun sistemnya.
Tidak ada tubuh dengan mesin solar, dan yang lainnya mesin bensin, atau mesin hybrid. Semua tubuh manusia sejak zaman Nabi, mesin tubuhnya hanya satu jenis. Berarti cocok dipakai bahan bakar apa saja, tanpa terkecuali. Maka logika mediknya seperti itu. Jadi lebih penting memerhatikan semua asupan makanan harian seberapa bisa diupayakan segala yang berasal dari alam (“Mediterranean Diet)”.
Kalau ada ubi rebus tidak memilih donat. Kalau ada kacang rebus tidak memilih kue bolu. Kalau memilih roti, pilih roti gandum bukan terbuat dari terigu putih. Kalau ada gula merah tidak memilih gula pasir. Pilihan yang salah membingungkan mesin tubuh kita, selain bisa merusaknya. Salam sehat. (https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=721404497888272&id=277924372236289)-FatchurR