P2Tel

Menghormati Orang lebih tua

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami dan (tidak mau) menyayangi orang yang lebih muda di antara kami.” (HR. Ahmad dari Ibnu Amr)

Muhammad SAW adalah nabi, bukanlah semata-mata seorang pemimpin yang bijak atau pemikir yang jenius saja. Karena jika tidaklah demikian maka tidak mungkin ia akan menempatkan masalah sayang pada yang muda serta hormat pada yang tua ini pada kedudukan sedemikian tingginya.

 

Cobalah perhatikan sabdanya itu… “tidak termasuk golongan kami”. Orang yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang muda adalah bukan golongan Nabi SAW, atau dengan kata lain bukan ummat Rasulullah.

Betapa malang dan ruginya mereka yang datang di hari Kiamat kelak dengan berbagai pahala tetapi tidak diakui sebagai ummat beliau. Mengapakah sampai sedemikian keras ancaman beliau ?
“Hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda” bukan berarti yang tua lebih mulia karena penentu kemuliaan itu : Ketakwaan-prestasi-gagasan-kinerja-sumbangsih bagi masyarakat.

Ketika Rasul sakit, beliau memilih Abu Bakar jadi imam shalat pengganti beliau. Itu bukan karena senioritas Abu Bakar, tapi lebih karena bakti dan cinta luar biasa Abu Bakar kepada beliau. Abu Bakar mengorbankan jiwa, harta, tenaga, dan pemikirannya untuk membela Rasulullah. Abu Bakar pula yang mengatakan “Apa pun yang dikatakan Muhammad, saya percaya!”
Senioritas dalam Islam tidak harus dijadikan acuan, hal ini juga ditunjukkan dengan pengangkatan Khalid bin Walid sebagai panglima perang pasukan Islam. Padahal, Khalid baru masuk Islam belakangan. Dalam Perang Uhud, Khalid jadi komandan pasukan lawan yang memorak-porandakan pasukan Islam hingga banyak Muslim gugur. Karena kelebihan dan kepiawannya berperang, setelah masuk Islam, Khalid jadi panglima pasukan Islam dan bergelar “Saifullah” (Pedang Allah).

Bukti lain, Rasulullah Saw juga tak segan memilih anak muda bernama Usamah bin Zaid menjadi panglima perang. Dalam pasukannya ada Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang secara usia jauh lebih senior. Ini bukti, senioritas bukan ukuran kelayakan jadi pemimpin.

Menghilangkan senioritas bukan berarti menghilangkan ajaran Islam tentang penghormatan kepada yang lebih tua. “Sebagian dari tanda memuliakan Allah, yaitu menghormati orang muslim yang telah putih rambutnya (lebih tua/para orang tua)” (HR. Abu Dawud)

Rasa homat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda tetap harus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang lebih tua berjasa mewariskan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi perkembangan generasi selanjutnya. (Pak Oto)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version