P2Tel

Semangat taukhid

Buya Hamka dalam bukunya “Dari Perbendaharaan Lama” (hal 34) sbb. : “Pada zaman Amangkurat IV, dengan kehendak Belanda diusirlah beberapa Muballigh Wahabi yang datang ke Jawa hendak mengajarkan Islam yang bersih kepada penduduk. Bahkan Amangkurat tertarik pada ajaran itu.

 

Begitu pun keturunannya Pangeran Abdul Hamid Diponegoro, yang hendak mendirikan Kerajaan Islam, dengan beliau jadi Amiril Mukminin di tanah Jawa. Beliau ganti pakaian Jawa Lama dengan jubah dan serban. Maksud beliau niscaya akan berhasil, seandainya Kompeni tidak campur tangan.”

Di halaman 62 beliau menulis tentang Tuanku Imam Bonjol : “Dia mencemplungkan diri ke gerakan Paderi, setelah sampai seruan Tuanku Nan Renceh dari Kamang ke Bonjol. Tuanku Nan Renceh menerima pelajaran itu dari tiga Tuanku yang pulang dari Makkah, membawa pokok pelajaran Tauhid yang suci, menurut pandangan Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabi).”

Di halaman 96 beliau menulis : “Ketakutan Belanda itu bertambah lagi karena abad ke 19 datang gerakan agama Islam militan langsung dari Makkah, menggerakkan umat Islam dan membangkitkan semangat Tauhid di alam Minangkabau.

Belanda yang lebih tahu dari orang Minangkabau arti Islam murni, karena dapat advis dari ahli Orientalis tentang semangat Islam, melihat kemajuan gerakan Islam di Padang Darat itu berbahaya bagi rencana menaklukkan seluruh Sumatera.

 

Belanda telah mengetahui gerakan Wahabi di Tanah Arab, yang telah menjalar ke Minangkabau itu bisa membakar hangus segala rencana penjajahan, bukan saja di Minangkabau, bahkan di seluruh Sumatera, bahkan di seluruh Nusantara ini.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya HAMKA), siapa tak mengenalnya ? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan. Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA merinci fitnah terhadap Wahabi di Indonesia telah berlangsung berkali-kali.

 

Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilu pada era Orde Lama, Wahabi sering jadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:

“Ketika Pemilu, orang menyebut kembali, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan Masyumi itu adalah Wahabi, jangan pilih Masyumi. Pihak komunis  mengatakan Wahabi itu dulu datang ke Sumatera. Dan orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di P. Jawa adalah  keturunan Wahabi.

Sejak abad ke-18, sejak gerakan Wahabi timbul di tanah Arab. Wahabi menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang berkuasa, takut. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan Mongol dan Tartar ke Baghdad.

 

Wahabi ditakuti penjajah, karena bila masuk akan mengembangkan penduduk menentang penjajahan. Sebab Wahabi meneguhkan ajaran Tauhid murni, menghapuskan segala yang membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi menentang pada Jumud, yaitu paham agama dengan membeku. Orang harus kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ajaran ini timbul bersama kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan masa “infiltrasi” dari gerakan ini  masuk ke tanah Jawa. Tahun 1788 di zaman Paku Buwono IV, (“Sunan Bagus,”) beberapa penganut faham Wahabi datang ke tanah Jawa, menyiarkan ajarannya. Mereka itu masuk Solo, Yogya, Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka disambut baik, sebab terang anti penjajahan.

Sunan Bagus tertarik ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang Wahabi diserahkan. Pemerintah Belanda tahu, akibatnya bagi penjajahannya, jika Wahabi ini dikenal rakyat. Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka.

 

Tetapi mengingat akibatnya bagi Kerajaan Jawa, maka ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang Wahabi itu diserahkan pada Belanda. Lantaran desakan itu, mereka ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda mereka diusir kembali ke tanah Arab.

Tahun 1801, artinya 12 tahun kemudian kaum Wahabi datang lagi. Saat itu bukan orang Arab, melainkan anak Indonesia, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).

Mereka menyiarkannya di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak murid dan pengikut. Diantarnya Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi”. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Terjadilah “Perang Paderi” yang 37 tahun mereka melawan penjajahan Belanda.

Abad ke-18 dan 19 gerakan Wahabi dipatahkan, orang Wahabi diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad ke-20 mereka muncul lagi. Di Minangkabau timbul gerakan “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati.

 

K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati membangun semangat di kalangan orang Arab. Ketika dia datang, orang Arab belum pecah dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Yang mendatangkan Syekh itu ke mari dari kalangan yang kemudian membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.

Musuhnya dalam kalangan Islam, Kerajaan Turki, Kerajaan Syarif di Mekkah dan Kerajaan Mesir. Ulama pengambil muka mengarang buku “mengafirkan” Wahabi. Ada Ulama sampai hati mengarang buku bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kazhab!

Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.

Kini “Wahabi” jadi alat oleh golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.

Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi. Kaum komunis Indonesia mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkitkan nama Wahabi.

 

Padahal ketika kemenangan gemilang yang dicapai Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir keluarga Syarif dari Mekkah. Ummat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat ucapan selamat (1925). Dan mengutus 2 pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.

Karena tahun 1925 dan 1926 itu baru 50an tahun, maka banyak yang dapat mengenangkan hebatnya reaksi pada waktu itu, dari penjajahan, walau dari Ummat Islam yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama pengikut Syarif.

Kini banyak yang menyebut “Wahabi” dan membusuk, menyimpan dahulu untuk pemilu mendatang. Mungkin propaganda ini masuk ke dalam hati, sehingga gambar “Figur Nasional,” Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding.

Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin. Banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”

Dari paparan itu, jelas Buya HAMKA berhasil menelisik akar fitnah yang dialamatkan pada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan ke Wahabi pada dasarnya modus lama namun didesain gaya baru disesuaikan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.” (Pak Oto)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version