P2Tel

Memberi dahulu

Memberi dahulu, Memperoleh kemudian. Saat saya membaca ulasan di dunia otomotif dan sebelumnya di dunia elektronika maya (cyber) dengan Linus Tovaldi pencipta sistem operasi komputer, Linux, yang menemukan, gratis kepada siapapun, maka makin nyata niat yang luhur selalu ada ganjarannya.
Inilah bukti lagi, apabila kita berbaik untuk kemanusiaan, memberi lebih dahulu daripada menuntut atau menagih, akan memperoleh imbalan Berkah yang berlimpah. Ini sesuai dengan inti amanat agama manapun (walaupun dalam praktek banyak pemimpin agama sekitar kita yang cuma Omdo).

Karena saya peroleh info dari rubrik investasi, ada baiknya seluruh isinya diteruskan. Saya cuma mau sampai di sini saja? Ya, tidaklah, apabila cuma sampai otomotif. Sasaran saya tentu telekomunikasi, karena keahlian itu.

Apabila struktur sosial dan ekonomi masyarakat sudah benar, dan bidang telekomunikasi sudah mendukung sepenuhnya, ya tidak usah saya singgung lagi. Justru segala ketimpangan sosial ekonomi masyarakat, salah satu penyebabnya, salah satu penyumbangnya, adalah bidang telekomunikasi.
Dan ini diperparah dengan makin majunya teknologi telekomunikasi yang kita tekuni. Kita makin mengejar dan dikejar prestasi dalam bidang dan keberhasilan teknologi telekomunikasi. Kita bangga, dengan prestasi dan penghargaan (Awards) nasional dan internasional, keuntungan menggiurkan bagi perusahaan.

Di pihak lain kita lupa dengan kewajiban sosial ekonomi kepada rakyat, khususnya mereka yang terpencil, yang sesuai UUD ’45 haknya sama, kita lupa pemerataan kesempatan, kita makin sempit membandingkan kriteria keberhasilan. Secara tidak langsung kita diseret dan dicekoki kaidah2
negara maju, negara Barat.
Perlu dienungkan kembali, makin tinggi pangkat dan kedudukan seseorang, makin bersar kewenangan dalam pemerintah, dan makin besar pengaruh suatu perusahaan maka akan makin besar tanggung jawab yang diminta dan ditagih, baik oleh masyarakat maupun Hadirat Ilahi.

Lihat saja kenyataan, dan ulasan dalam berbagai Harian, a.l. Kompas : Tentang kesenjangan yang dalam 10 tahun SBY makin melebar, yaitu 0,32 tahun 2004 menjadi 0,413 tahun 2013. Kita terpukau dengan Ekonomi makro makin hebat yang dipuji dunia, dan Indonesia makin berkibar sebagai calon negara berpenghasilan menengah atas dan kemudian berpenghasilan tinggi.

Pertanyaannya, puaskah kita mencapainya dengan memiskinkan atau menyingkirkan peran kaum bawah, rakyat jelata, (walaupun tidak dengan sengaja, tidak sadar, atau pura2 tidak tahu)? Suatu saat Hukum Alam akan menghukum mereka yang mengabaikan kaidah keseimbangan. Kini terlihat bahwa eksploitasi kekayaan alam untuk ekspor menggerus kesejahteraan masa depan, dan akhirnya tidak
tersisa apa2 lagi.

Lihat nilai ekspor menurun, mulai defisit Triwulan I/2014. Walau surplus pada Triwulan II, tetapi defisit dalam perdagangan jasa. Kita makin banyak mengimpor hasil pertanian. Industri manufaktur TEL kita tidak pernah tumbuh dengan baik, malah impor makin besar. Para operator enggan berkorban atau menyumbangkan tenaga, daya, dan fasilitasnya untuk mendukung industri manufaktur dalam negeri.

Andai jaringan telekomunikasi dikelola dengan strategi konsisten (kemakmuran rakyat) dan sasaran (jangka panjang), maka setelah 10 tahun pasti berbeda. Bukankah, seorang pemimpin tidak hanya dipersalahkan bila dia salah mengelola, korupsi, atau melanggar peraturan, tapi juga jika tidak berbuat sesuatu atau membiarkan saat keadaan butuh keputusan atau koordinasinya. Pembiaran merupakan kesalahan dan dosa, walau bisa berkilah dengan macam2 alasan atau menyorongkan keteledorannya ke atas, ke samping, atau ke bawah, bukan?

Sangat bijaksana (wise) dan tepat contoh Gubernur DKI, pemimpin masa depan Jokowi, yang menyatakan, apabila ada kesalahan bawahan, maka dia yang bertanggung-jawab, dan bila ada yang berhasil maka itu adalah hasil bersama. Seperti dikatakannya Bangsa ini membutuhkan perombakan mental, atau transformasi (bukan transaksi) adalah istilah yang diulas dalam halaman 6 Kompas

Kegagalan atau molornya implementasi Cincin Serat Optik Nasional (CSON) yang hingga kini belum beroperasi sejak 10 tahun lalu dirintis sebagai konsep yang dianggap strategis oleh Dirjen
Postel Djamhari Sirat, direstui Menhub dan penamaannya sebagai Palapa Ring, Ring Palapa , dan dengan tekun dikejar oleh Dirjen Postel, hingga kini masih terkatung-katung.
Konsep konsorsium dalam satu perusahaan dengan semua operator memiliki saham, ditolak oleh perusahaan telekomunikasi terbesar, karena akan menyaingi jaringannya yang paling luas (semua jaringan lokal di Indonesia Timur dan Tengah terpaksa melalui jaringannya).
Akhirnya diperoleh kompromi Konsorsium (bagi-bagi berkas saluran) 7 perusahaan hanya untuk Indonesia bagian Timur, dengan demikian tidak ada jaminan bagi para perusahaan peserta Konsorsium Ring Palapa di Timur selain Telkom, akan tersambung ke jaringan bagian Barat yang menjanjikan. Akhirnya rontoklah Konsorsium dan tinggal Telkom yang memiliki jaringan penyambung ke Indonesia bagian Barat.

Andaikata dari awal saling percaya (tidak main jegal), berjiwa seperti Linux Tovaldi, Memberi dahulu dan Memperoleh kemudian demi pelanggan, Bangsa dan Negara, maka nasib Indonesia akan lain. Jaringan telekomunikasi nasional dengan tulang punggung (backbone) Serat Optik Ring Palapa akan berjaya, tidak hanya di tingkat nasional melainkan juga di tingkat Asia Tenggara.
Ring Palapa akan jadi pusat trafik antara 2 Samudera dan 3 Benua, mudah menerima tantangan ASEAN-China Superhighway yang ditawarkan China kepada ASEAN 5 tahun lalu. Pembangungan Ring Palapa hingga ke semua Kota/Kabupaten hanya membutuhkan 2-3 tahun saja, dan modal akan kembali dalam jangka waktu 4-5 tahun dengan investasi $AS 1,5 Milyar.

 

Dengan tarif 1/10 dari tarif jarak jauh saat itu, dan kapasitas 1/5 digunakan dari total 300 Gbps, dan bisa ditingkatkan 10x lipat menjadi 3 Tbps. Tentu trafik melejit dengan tarif yang murah. Rencana Bappenas untuk percepatan pembangunan di 6 (enam) koridor se Nusantara pasti terdukung dengan pitalebar (broadband). Pitalebar adalah fasilitas untuk jangkauan Internet yang memungkinkan akses murah.

Betapa jayanya dan terbuka peluang bagi rakyat di manapun berakses nasional dan internasional, mengenalkan produk2 kreatif dan khasnya, bukan? Pendidikan jarak jauh, e-pendidikan, dan kesehatan jarak jauh, e-kesehatan dengan mudah dibangun, sehingga penduduk pintar bisa membangun daerah dan tidak usah menjejali kota2 besar.

Semoga kita masih bisa mengejar bila memutuskan cepat, bersinergi, dan terlebih berani berkorban untuk masa depan Bangsa, meraih kemajuan jaringan telekomunikasi merata ke semua Kabupaten / Kota melalui Ring Palapa.

 

Kemudian diteruskan ke Kecamatan-Desa, dan didukung industri manufaktur nasional dengan semua operator bekerjasama membina dan membesarkan. Barulah Indonesia jadi Bangsa Berdikari, berdiri di atas kakinya sendiri, baik dalam pengelolaan maupun perangkat bidang telekomunikasi

Semoga Tuhan Yang Maha Besar, Maha Pengasih dan Penyayang Melindungi Bangsa Indonesia, Memberi Penerangan, Kekuatan, dan Keberanian kepada para Pemimpin dan Rakyatnya. Salam,
(APhD )-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version